-------

Selasa, 01 Juli 2014

Surat Terbuka Untuk Nenek

Teruntuk Nenekku di tempat!

Apakabar, Nek? Semoga Nenek dikaruniai umur panjang dan selalu dalam keadaan sehat walafiat.

Nek, tentu cucumu ini tidak menyesal sebab tidak terlintas dalam pikiran nenek untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Aku tahu, itu tidak lebih penting dari stamina nenek.

Selama musim kampaye ini, Nek, orang-orang suka menulis surat terbuka. Semua menulis untuk orang-orang besar. Untuk calon presiden, untuk tokoh politik, untuk pemimpin partai dan lainnya. Tapi untukmu, Nek, tidak pernah ada surat untukmu. Aku sedih sekali!

Maka hari ini Nek, jangan nenek kecewa. Aku akan menulis surat ini untuk nenek. Agar nenek tahu, masih ada orang yang peduli dan mau menulis surat untuk seorang yang dianggap tidak penting dalam musim kampanye seperti ini.

Nek, mungkin nenek tidak tahu apa itu twitter, facebook, youtube, blogspot, internet dan sebagainya. Beberapa kali engkau mengaku diri bodoh, tidak mengerti teknologi. Tidak jarang aku melihat engkau menunjukkan kekaguman sekaligus sikap minder saat melihat aku dengan canggihnya memainkan tablet, laptop, dan smartphone.

Tapi nenek jangan salah. Teknologi yang canggih, Jejaring sosial yang mutakhir, itu tak semata-mata bermakna kami lebih pandai darimu, Nek. Benda-benda itu tidak membuat kami tahu lebih banyak, tidak membuat kami lebih terampil dalam berpikir, tidak membuat kami saling kenal dan akrab.

Nek, apalah arti dari perangkat-perangkat ini jika hanya membuat kami lebih lihai dalam menghujat apalagi ikut menggunakan label-label agama untuk mencerca, hanya karena dorongan nafsu yang sesaat.

Aku teringat pesan nenek dulu. Jangan jadi seperti lumo kap situek. Atau dalam bahasa kami yang lebih canggih, “Don’t jump on the band wagon”. Artinya sama saja: jangan ikut-ikutan tanpa tahu apa dibalik ini semua. Tanpa mau mempelajari apa akhir dari ini.

Tidak seperti engkau dan orang-orang terdahulu, kami adalah orang-orang yang tidak punya sikap, Nek. Tidak mandiri dalam berpikir. Kami ikut orang ramai. Kemana angin lebih kencang berhembus, ke sanalah kami bergerombol.

Nek, jangan nenek menganggap kami cerdas dan pintar-pintar. Otak kami ini gersang sehingga tak mampu melahirkan argumen-argumen jernih. Akibatnya, energi dalam otak kami ini terkuras untuk mencaci dan mencerca. Kalau Aku di posisi nenek mungkin Aku akan menyebutnya, generasi yang otaknya tak bekerja.  

Beginilah Nek. Kami terlihat canggih dalam bergaya, terlihat suci dalam berbicara. Tapi isi di kepala tidak ada. Kami tidak belajar cara menyaring informasi. Kami tak bisa membedakan mana opini, mana persepsi, mana asumsi, dan mana fakta. Kami hanya mau mendengar yang baik-baik saja tentang diri kami. Tentang kelompok kami. Segala keburukan seolah ditakdirkan milik orang lain semata. Milik musuh kami. Kami ini orang-orang yang sombong, Nek. Kami telah mengkultuskan diri paling suci.

Sering pula kami bersikap seolah-olah kami ini seorang pengamat politik ulung padahal cuma meniru dan ikut persepsi orang lain, padahal otak kami kosong dan tidak tahu apa-apa.

Begitulah kami ini, Nek. Maka jangan nenek heran jika selama bertahun-tahun lamanya kita nyaris tidak melahirkan orang-orang yang dithee le kaphe. Jangan heran jika yang pandai cuma bertengkar dengan sesama dan saling curiga. Kami bangga menutup-nutupi kebodohan diri yang padahal terlihat menganga dari cara kami bersikap.

Begitulah isi surat ini Nek. Nenek jangan bersedih lagi. Semoga nenek dan Aku diberkahi umur dan kita bisa bertemu lagi di hari lebaran nanti. Selamat malam, Nenek. Cucumu sudah mengantuk. Adek bobok dulu ya, Nek!




Selasa, 20 Mei 2014

UN Dan Hantu-Hantu


“Alhamdulillah, Polem. Mereka lulus semua!”

“Lulus apa?”

“Lulus UN, Polem. Ujian Nasional. Bahkan ada dua siswa yang betul seratus persen”

“Kalau aku kepala sekolah, aku malu!”

“Ah, Polem ini tak syukur nikmat”

“Terserah kau mau bilang apa! Keadaan ini terbalik. Kenyataan adalah keterpura-puraan yang ditambal di atas keterpura-puraan yang lain.”

“Maksud Polem?”

“Prestasi menjadi berharga karena untuk mencapainya sulit. Prestasi yang mudah dicapai bukanlah prestasi. Lulus 99% bukan kabar baik, itu kabar buruk. Karena 99% itu bukan siswa. Di sana ada hantu-hantu. Aku menyebutkan hantu-hantu karena di sana tidak hanya ada satu hantu.”

“Hantu?”

“Iya, betul. Hantu. Untuk Fisika ada satu hantu. Untuk Bahasa Inggris ada satu hantu. Untuk Matematika ada satu hantu. Dan untuk Bahasa Indonesia juga ada satu hantu. Tanpa bantuan hantu-hantu itu, Muhammad Nuh sekali pun tak bakal lulus UN. UJIAN NENEK NASIONAL pun tak bakal lulus dia!”

“Polem ini ada-ada saja”

“Untuk tahu sekolah di tempat kita jujur atau tidak, tinggal lihat angka kelulusan UN. Kalau siswa lulus 100 %, berarti di sekolah itu banyak hantunya. Kalau yang lulus cuma 9%, kepala sekolah itu seorang yang jujur.

“Tapi itu kan pendapat, Polem. Kan tidak semuanya.”

“Iya. Ini pendapat saya. Semuanya atau bukan semuanya itu bukan urusan saya. Itu urusan logika anda.” 



Sumber Gambar: http://kartunmartono.wordpress.com/2010/01/09/ujian-nasional-2/

Senin, 28 April 2014

Cagal


“Sudah beberapa minggu kamu tidak menulis di blog. Kenapa?” tanya Polem tanpa melihat ke wajah saya. 


“Polem diam dan murung terus. Saya jadi tak ada bahan. Jadi caleg gagal itu biasa, Polem. Janganlah terlalu dipikirkan begitu.” 

“Kau jangan sok-sok menggurui aku! Kalau kau mau menulis, tulis saja terus. Jangan kau khotbahi aku pagi-pagi” 

“Maaf, Polem. Maaf! Kalau Polem tak bicara, saya tak ada bahan untuk saya tulis” 

“Kenapa tidak kau tulis tentang caleg. Tulis saja begini, jadi caleg itu tidak mudah. Tak semudah menjadi artis. Kalau mau jadi aktor, kau tinggal mengasah baik kemampuan acting-mu dan ikut casting. Tapi kalau caleg, jangan coba-coba! Baik saja tidak cukup. Harus punya ini ...” Polem menggesek-gesek telunjuk dengan ibu jari. 

“Tak usahlah kita bicara soal moral. Sekarang dengan uang, semua jadi baik. Modal, Dek Gam. Modal yang bicara. Tergantung seberapa banyak modal yang kau keluarkan. Aku misalnya, percuma yang kupelajari dari buku-buku ilmu politik dan ilmu sosial. Walau aku punya niat baik, punya pengalaman memimpin, pengetahuan yang mumpuni, tetap saja aku bakal kalah oleh caleg minyak goreng, caleg kain sarung dan caleg daging meugang.” Polem menghela nafas. “Modal, Dek Gam. Modal.” Ia menggesek-gesek lagi telunjuk pada ibu jari. 

“Kau tulis juga tentang suara-suara yang hilang. Dari sepuluh suara, dihapus satu jadi nol. Begitu juga sebaliknya. Kalau ada seratus suara tinggal tambah nol satu, jadi seribu. Gampang saja Dek Gam. Sekarang yang kau perlukan adalah uang, suara yang garang, dan sedikit rasa tidak tahu malu. Itu Dek Gam. Kau tulis nanti di blogmu begitu.” Nafas Polem tersengal-sengal seperti orang dikejar hiu. 

“Baik, Polem. Nanti kalau ada waktu saya akan tulis begitu. Tenang Polem. Tenang!”     



Selasa, 25 Maret 2014

Cangkoi

“Sudah 2014 tapi belum punya facebook!” sindir saya pada Polem suatu sore. Tapi tentu saja Polem tetap keras kepala. Disindir atau tidak, tak memberi pengaruh apa-apa. Malah Polem yang menceramahi saya. 


“Kau pikir hidup kita lebih baik setelah ada facebook?” ucap Polem sambil membetulkan gagang cangkulnya yang lepas. 

“Tapi itu salah satu penemuan mutakhir, Polem. Menghubungkan orang dari satu benua dengan benua lain” 

“Iya. Tahu saya. Saya tahu si Mark Zuckerberg itu. Saya baca di koran. Jangan anggap saya ini kampungan. Kampungan itu orang yang tak membaca!” 

Melihat wajah saya pucat, Polem jadi lembut lagi. “Tapi saya pesimis dengan ciptaannya itu. Tidak cocok untuk kita. Kau lihat saja kemana facebook digunakan orang kita. Apa kita jadi lebih kompak dengan adanya facebook? Apa manusia bisa memahami keadaan manusia lain dengan jejaring itu?” Polem membuang ludah.

“Apalagi di musim politik begini. Facebook ya jadi alat menjelek-jelekkan. Menyebar berita murahan! Merebut massa dengan cara menipu. Dan massa pun mau ditipu, mau percaya pada media-media tak jelas. Media yang jelas saja kini sudah tak jelas. Apalagi media yang tak jelas!” Polem mengetes cangkulnya. 

“Bagaimana Polem tau? Polem kan tak punya facebook” 

“Jangan kau anggap orang kampung yang tak punya facebook itu bodoh! Kalau facebook atau sejenisnya hanya untuk menyebarkan berita-berita baik-baik tentang diri sendiri dan mencari-cari serta menebarkan keburukan orang lain, lebih baik aku begini saja. Sebuah cangkul untuk membantu menghasilkan padi lebih bermanfaat ketimbang facebook yang canggih tapi untuk membuat kacau umat manusia!”

“Tapi Polem...”

“Apa tapi-tapi?! Mau bilang aku kampungan gara-gara aku tak ada facebook? Justru yang takut pegang cangkul yang kampungan. Ketinggalan zaman!” 



Selasa, 04 Maret 2014

Aceh Bak Mata Polem

SAMBIL membuka-buka halaman koran, dua mata Polem menyorot saya di balik kacamatanya yang besar. Saya bertanya:

“Polem, kenapa kejadian-kejadian di Aceh seperti di film Holliwood?”

“Maksud kamu apa?”

“Ya banyak pukul-memukul, tembak-menembak”

“O itu?” Polem terkekeh. Ia melipat koran. “Itu tanda-tanda bahwa kita ini hebat!” Polem bersendawa. 

“Di Holliwood, aktor-aktor hanya berani dalam film. Sebut saja siapa misalnya Tom Hank, Brad Pitt, Cristian Bale. Mereka cuma berani di depan kamera! Di tempat kita beda. Real! Kan hebat. Kita Selangkah lebih maju dari Holliwood”

“Tapi... tapi orang-orang bisa meninggal, Polem!”

“Bukan meninggal. Mampus.”

“Iya, Polem. Maksud saya itu!”

“Itu sudah risiko. Risiko menjadi hebat. Seorang juarawan mempertaruhkan banyak hal untuk jadi juara. Begitu pula ketika kita ingin menang bersaing dengan holliwood.”

Polem mengeluarkan korek dari saku dan membakar rokok yang sudah terselip di bibir. 

“Itu sebuah pertanda. Tanda-tanda kita sedang mendekati kemajuan. Kita harus mengalahkan siapa saja. Harus menjadi juara.” 

“Tapi Polem...”

“Tapi Apa?”

“Ada kabar kemarin kita juara 1 korupsi se-Sumatera”

“Iya. Bagus itu! Yang penting juara”

“Tapi Polem, Jerman, Jepang, Korea, mereka juara di bidang teknologi”

“Iya. Yang penting juara. Antara juara 1 bidang teknologi dan juara 1 bidang korupsi kan beda tipis. Yang penting bersyukur!”













Jumat, 21 Februari 2014

Polem Pergi Jihad

BUKAN kabar baru kalau Polem punya cita-cita belajar nuklir. Katanya, biar negara lain tak berani sembarangan. 


Pernah terlintas dalam benak Polem untuk ke Iran. Ia sangat kenal dengan Ahmadinejad. Dulu lelaki tak berdasi itu sering muncul di koran. Ia terkenal dengan isu nuklir. Polem juga mau terkenal begitu. Tapi niat Polem jadi urung. Iran itu syiah. Ia takut nanti dijuluki syiah. 

Polem lalu merubah haluan cita-citanya. Ia ingin ke Amerika saja. Niatnya sudah mantap. Amerika terkenal dengan senjatanya. Tapi sejenak Polem terpikir. “Tapi apa mungkin Amerika mengajari ilmu nuklir untuk orang lain?” Tapi yang paling mengkhawatirkannya, ia bisa diberi label liberal. 

Akhirnya Polem tidak jadi bercita-cita ke Amerika. Lebih baik ke Arab Saudi saja, sekalian naik haji. Tapi apa lacur! Setelah berpikir beberapa saat, Polem geleng-geleng kepala juga. “Tidak, tidak. Arab Saudi tak terkenal dengan nuklirnya.” Selain itu, ia bisa diberi label baru lagi nanti, wahabi. 

Akhirnya Polem sepakat dengan pendapat orang kampungnya. Bahwa cuma di kampungnya lah ilmuan-ilmuan hebat dunia berada. Polem pun akhirnya sadar. Untuk mempelajari nuklir, ngapain jauh-jauh ke Amerika, Iran atau Arab Saudi. Tinggal ambil parang, potong bambu kira-kira 1,5 lalu beri lobang kecil. Polem menaruhnya di pinggir sungai. Di dalam bambu yang telah ia olah itu, ia isi minyak tanah. Polem meniup-niup lobang kecil itu beberapa kali. Lalu menyelipkan api dengan tongkat kecil pada lobang itu. Polem berteriak. “Mati kau Amerika!” 

“Bhomm....” terdengar suara menggelegar. 

Di hari lain, Polem menggantikan minyak dalam bambu itu dengan air. Ia tak perlu meniup-niup lagi. Tinggal memasukkan beberapa keping karbit dan memancing gelegar dengan tongkat yang ujungnya berapi. 

“Mati kau Israel!” 

“Bhoomm...” Suara nuklir Polem semakin menggelegar.

Lama-kelamaan orang mulai ikut-ikutan. Mereka bikin juga nuklir dari bambu. Ternyata nuklir bambu itu cepat tersebar dan terkenal ke segala penjuru. Bahkan sampai ke telinga orang-orang manca negara. 

Pada suatu hari bule-bule datang menonton, termasuk yang dari Amerika. Mereka berdiri dekat Polem dan melihatnya memasukkan karbit dalam bambu.

“Bhoom...” 

Bule-bule itu bertepuk tangan. Polem tersenyum dan semakin bersemangat. Ia melakukan hal yang sama berulang kali. Menjelang sore, bule-bule itu singgah di sebuah warung kopi dan memesan Coca Cola. 

Saat akan azan magrib, Polem berhenti. Keringat membaluri wajahnya. Ia pulang dan lewat di depan warung kopi.

“Pulang jihad, Pak?” sapa si Bule.

“Iya nih!” Ucap Polem penuh bangga. []



Senin, 10 Februari 2014

Bendera Partai

POLEM teringat kata-kata seorang teman lama, “Hidup adalah lelucon bagi mereka yang mengandalkan rasio dan malapetaka bagi mereka yang mengandalkan perasaan”. Polem tak terlalu paham. Bagi Polem sederhana saja memahaminya: kalau berpikir, jangan dengan perasaan, tapi (sekurang-kurangnya) dengan akal sehat dan hati nurani. Dan bagi Polem, yang terpenting itu lucu. Hidup itu harus lucu. Seperti lirik lagu Iwan Fals, “Hidup sudah susah, ngapain dibikin susah!”

Soal bendera misalnya. Itu lucu. Polem senang. Ada hiburan gratis. Apalagi setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik. Untuk tertawa, sulit. Sekarang Polem menikmati itu.

Polem bercerita pada saya, Pembaca. Ada dua tetangganya orang partai. Apa Ta’ak berpartai Asam Sunti (PAS), dan Apa Kapluk berpartai Pliek U (PPU). Nah, ketika Apa Ta’ak sedang tidur, Apa Kapluk bangun dan mencabut bendera Partai Asam Sunti di pagar di pinggir jalan. Tentu saja itu membuat Apa Ta’ak geram. Besoknya Apa Ta’ak melakukan hal yang sama, menyembunyikan bendera Partai Pliek U.

Ini mengingatkan Polem pada masa kecil dulu. Di tempat mengaji, ia menyembunyikan sandal Rabumah. Di hari lain, Rabumah menyembunyikan sandalnya. Mereka berdua ditertawakan dan ikut tertawa. Ketia dewasa, Rabumah kemudian bersatu dengan Polem dalam mahligai percintaan. Seperti dalam Cinderella saja!

Polem pun jadi curiga. Jangan-jangan main cabut dan menyembunyikan bendera itu ciri-ciri mereka akan kawin. Tapi bagaimana mungkin Apa Ta’ak akan kawin dengan Apa Kapluk? Mereka sama-sama lelaki. Polem tertawa. “Mungkin partainya yang akan kawin.”

Tapi apa lacur, ketika Polem baca berita kemarin, ia terperanjat dan ketakutan. Di sebuah daerah, ada yang meninggal gara-gara bendera partai. Katanya dikeroyok. Kok bisa? Polem mengelus-elus dada. Nyawa kok tak ada harga hanya karena bendera, demi secuil kekuasaan!

Polem pun bergumam:

“Itulah kalau mengandalkan perasaan dalam membuat keputusan. Ketika perasaan benci, keputusannya ya hantam alias sipak trom. Aduhai bangsaku! Lelucon macam apa ini! Kenapa membuang akal sehat? Kenapa tak mendengar hati nurani?”

Polem mengelap ingus. []

Sabtu, 18 Januari 2014

Pembangunan


HIDUP adalah permainan. Kalau kita pergi ke pantai, ada saatnya kita melihat anak-anak bermain pasir. Mereka membangun gunung, istana, atau rumah-rumahan dari pasir. Tak lama kemudian, mereka tendang bangunan pasir itu dan bermain kejar-kejaran. Nanti saat lelah, buat lagi mainan pasir baru.

Hidup adalah permainan juga bagi orang dewasa, yang mengurus kita. Mereka juga main-main juga soal pembangunan. Bahwa pembangunan musti memberi perubahan, mereka mengerti. Buktinya sering betul mereka mengubah-ubah. 

Begitu jalan berlobang, Mereka langsung mengganti dengan aspal baru. Mulus, bisa dijilat kalau kata orang kampung saya. Setelah itu datang orang yang mengurusi air. Mereka rusak itu jalan untuk memasang saluran air. 

Juga di depan KAPOLDA Aceh pernah ada belokan. Saya sering berbelok arah di situ. Tapi kemudian belokan itu ditutup. Saya terpaksa cari belokan lain, lebih jauh. Saya tak mempersoalkan. Kemudian dibuka lagi belokan lain. Sedikit lebih dekat. Dan kemarin sudah ditutup lagi untuk dibuka di tempat baru.

Oh Tuhan! Saya jadi pusing. Apa tidak kasihan kalau saya jadi seperti arwah penasaran yang tak tahu belokan pulang? Orang di negeri antah berantah tak berani cokeh-cokeh sarana publik sembarangan begitu. Mereka punya orang-orang universitas untuk mengukur berapa volume jalan, berapa rata-rata kenderaan lewat per jam, terus baru diputuskan dimana belokan yang pantas. 

Kawan saya mahasiswa Ekonomi Pembangunan. Dia juga bilang, di negeri antah berantah, sebelum jalan diaspal mereka cek dulu akses air. Pasang pipa dulu baru aspal. Di sana kalau mau buat sesuatu memang begitu. Penuh pertimbangan ilmiah. Dilihat ketepatan, untung-rugi, dampak baik-buruk. Semua agar mereka tak tergolong ke dalam golongan merugi.

Tapi itu di negeri orang, Pembaca. Tempat kita beda. Orang kita sudah cerdas-cerdas, dewasa-dewasa. Bangsa teuleubeh ateuh rhueng donya. Untuk apa pertimbangan ini itu. Yang perlu dipertimbangkan adalah jalan pintas masuk sorga. Lain apa perlu dipikir. Donya mandum! [] 









Kamis, 09 Januari 2014

Polem

HAL yang saya kagumi dari Polem adalah kebiasaannya bertanya. Tidak seperti saya, kalau tidak tahu ya diam saja biar tak kelihatan dungu. Dia orang kampung saya. 


Tapi ada juga yang tidak saya senangi darinya. Polem suka memberi kesimpulan aneh dari pertanyaan-pertanyaannya itu. Kemarin saja misalnya. Saya ajak dia ke Banda Aceh. Di luar dugaan saya, Polem sontak takjub. 

"Mobil ini bagus-bagus semua! Ini berapa harganya ni?" Saya langsung menepuk jidat sendiri. "Ini tidak dijual, Polem. Ini mobil punya mahasiswa." 

"Ini kampus? Universitas? Bukannya showroom?" Polem melongo dan mengedipkan mata beberapa kali. "Aduh, Polem jangan gede-gede suara. Malu didengar orang. Ini bukan showroom. Ini universitas."

"Beda universitas dengan showroom apa?" Tanya Polem lagi. Saya menghela nafas. "Coba Polem tebak! Kira-kira perbedaannya apa?" Polem memutar bola mata ke atas dan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk. Ia mulai berpikir.

"Saya tahu..! saya tahu..! Kalau showroom, tempat pamer mobil untuk dijual. Kalau universitas, tempat pamer mobil tapi mobilnya nggak dijual" Polem tertawa menang. "Betul kan?" 

"Hmm... ada benarnya juga sih. Tapi jangan gede-gede suara Polem. Kalau kedengaran, mereka bisa tersinggung. Tapi yang jelas mereka memang orang-orang berkelas, Polem. Anak orang kaya semua."

"Orang berkelas itu bukannya orang yang mampu menghasilkan sesuatu? Kami tiap tahun menghasilkan padi, menanam tomat, semangka, ada juga yang jahit baju, bikin tampi, bikin rumah. Kami produktif. Kalau mereka, apa yang mereka hasilkan?" Polem tampak penasaran. Mulutnya terbuka.

"Hmm... hmm... Tidak ada sih. Tapi pokoknya mereka berkelas, Polem. Mereka punya mobil, berbaju necis, berpenampilan borjuis. Nggak kayak Polem. Baju ketinggalan zaman, rambut kribo, naik sepeda butut, tinggal di kampung, pergi ke sawah."

"Oh, berkelas itu kalau bisa pamer mobil, berbaju necis, penampilan gaul, bicara bahasa kota, begitu definisi dari 'berkelas' ?"

"Iya, Polem"

"Masa definisi 'berkelas' bagi orang-orang universitas begitu?" 

"Polem ini memang banyak kali tanya!"

"Kita justru harus banyak tanya, biar banyak tahu!" 

"Tapi diam itu emas, Polem."

"Siapa bilang! Diam itu taik."

Pembaca, saya jadi tambah kesal saja ini. Seperti saya katakan di awal, Polem memang suka memberi kesimpulan-kesimpulan aneh. Sore itu dia langsung minta pulang kampung. Katanya, orang-orang di kampung lebih berkelas. [] 







Minggu, 05 Januari 2014

Mahatma Gandhi Tahu Apa!

SAYA senang nonton film India. Hidung artisnya mancung-macung. Pembaca lihat saja Salman Khan, Kareena Kapoor, dan kawan-kawan. Kalau minum kopi, hidung mereka masuk ke dalam gelas. Saya membayangkan waktu mereka sedang flu. Terus ingus meleleh ke dalam kopi. Aih, sedap betul!



Tapi ada juga yang hidungnya mancung dan tidak pernah main film. Pembaca pasti kenal. Namanya Mahatma Gandhi. Kalau ingat kakek berkacamata itu, saya selalu ingat binatang. Ada kata-katanya yang menurut saya berlebihan. Coba Pembaca simak baik-baik. Gandhi bilang begini:

“Kebesaran moral sebuah bangsa dilihat dari cara mereka memperlakukan binatang.”

Kan berlebihan itu, Pembaca? Di tempat kita mana ada begitu! Jangankan binatang, terhadap manusia saja asal-asalan. Dulu ada seorang ibu terpaksa jadi janda. Padahal suaminya cuma penyadap karet. Tapi sudah ditembak gara-gara dikira pemberontak. Yang sadap presiden saja tidak diapa-apain, kok yang sadap karet malah ditembak. Kan nggak lucu!

Terus, kemarin saya baca berita (di sini dan di sini). Lima anak SMA dipukul anggota TNI di Sabang. Mereka atlit surfing. Konon mau memancing tapi lupa minta izin. Pukulannya tidak tanggung-tanggung, Pembaca. Katanya memar dan harus masuk rumah sakit. 

Kenapa bisa begitu? Padahal dulu di SD ibu guru mengajari kita, yang muda kita sayangi, yang tua kita hormati. Kan tidak diajari yang muda kita hajar kalau yang tak tua tak dihormati. Itu pepatah di sekolah dasar, Pembaca. Semua yang pernah bersekolah juga tahu. Kalau Pembaca tidak tahu, sudah cukup di sini saja membacanya.

Nah, itu terjadi di Sabang. Jangan-jangan di Merauke juga begitu. Coba Pembaca bayangkan kalau seandainya dari Sabang sampai Merauke pukul-memukul mewarnai pulau-pulau. Kan kasihan ambulan? Capek meraung terus, bolak-balik ke rumah sakit. 

Jika sedikit-sedikit sudah main pukul, saya bisa bosan jadi Indonesia, Pembaca. Sudah cari kerja susah, koruptor banyak, kena pukul lagi. Kalau memang Mahatma Gandhi serius dengan kata-katanya, lebih baik saya jadi India saja. Toh, hidung saya juga mancung. Mirip-miriplah sama Hritik Roshan.

Rabu, 01 Januari 2014

Kolor Sarjana



SORE itu saya sedang duduk di depan rumah. Tampak awan berarak di langit cerah. Nyiur kelapa tetangga berayun gemulai. Di luar pagar ada rawa-rawa kecil. Berpuluh-puluh biawak berkeluarga di sana. Sering mereka berjemur di pinggir rawa itu. Seperti turis dari Georgia saja.


Biawak-biawak itu bikin saya iri. Mereka pasti bahagia. Seperti dalam lagu dangdut saja. Kalau mau makan silakan, kalau mau minum silakan. Anak-anaknya pun tak bergantung lama pada induknya. Tak lama setelah telur menetas, mereka langsung cari makan sendiri. 

Saya resah dan berkhayal. Tapi apa lacur. Seorang teman memukul pundak saya dan bikin saya kaget. 

“Apa juga sarjana. Ganti kolor saja harus minta uang sama orang tua!”

“Kok kamu tahu?”

“Itu, Saya lihat udah berjemur kolor oranye baru. Kolormu biasanya kan bolong. Mana ada kolormu yang tidak bolong!” 

“Oh... hehe...” Saya terdiam. Beberapa anak biawak bangkit dari rawa-rawa. 

“Memang sih, anak-anak biawak itu hidup mandiri. Tapi saya kan bukan biawak. Lagi pula kamu pikir kita ini dididik untuk dapat hidup mandiri? Tidak. Dan ada satu lagi yang paling penting ... ”

“Apa?”

“Kamu pasti tidak pernah baca naskah drama Manusia Adimanusia karya Bernard Shaw.” 

“Orang Inggris peraih nobel sastra itu? Tau saya. Memang sih dia orang barat. Tapi tidak semua orang barat itu tolol. Begitu pula tak semua orang arab itu lugu. Jahat-bajik, buruk-baik, ada di mana saja. Bahkan dalam diri kita”

“Sedap! Tumben kamu ngomong begitu! Terus, dia bilang apa kalau memang kamu tahu?”

“Jangan ngetes saya. Saya punya naskahnya. Saya hafal bahkan. Nih, pasang kuping baik-baik. Ini kata-kata si Tanner, tokoh paling nakal dalam drama itu,

Universitas, Tav, bukan Oxford, Cambridge, Durham, Dublin, atau Glasgow, atau sebangsanya. Tapi ini Politeknik, universitas yang sesungguhnya, Tav. Bukan sekedar tempat PEMBENTUKAN KELAS SOSIAL seperti universitas-universitas kita.

“Terus?”

“Ada lanjutannya lagi. Tapi aku lupa. Intinya, kalau alumni politeknik―katakanlah seorang mekanik―jika mobilnya rusak, ia senang. Dengan keadaan itu ia bisa jadi jentelmen. Ia dapat menunjukkan kepiawaiannya dengan memperbaiki mobil. Tapi kalau alumni universitas? Lihat aja sendiri!”

“Tumben orang kampung lebih pandai dari sarjana” Saya bergumam. 

Ia terdiam. Biawak makin ramai naik ke jalan. Ada yang mencari makan, ada yang berjemur. Kawan saya menguap lalu berkata,

“Makanya besok-besok, kalau mau ganti kolor, pinjam punya saya saja.”

“Oh Tuhan”

Dia lalu mendekat ke telinga saya dan berbisik pelan, 



“Dijamin nggak bolong.”






Senin, 30 Desember 2013

Kacang Tidak Lupa

PEMBACA Budiman, karena suka kacang, kali ini terpaksa saya menarik nafas dan menggugat. Pembaca mungkin sama saja dengan yang lain. Begitu tengok orang tak tahu balas budi atau ingkar, langsung bilang, “Seperti kacang lupa pada kulitnya”.



Oh Tuhan, kenapa manusia yang satu ini begitu sembrono! Ke sini dulu biar saya jelaskan. Baiklah, kita mulai dengan kacang di depan mata. Lalu muncul hasrat menggebu-gebu. Tangan mengambil dan menjepit itu kacang hingga terbelah. Lalu gigi geraham menggilasnya sampai hancur. Dan tiba-tiba di lain waktu saat lihat politisi dapat jabatan dan kena amnesia, kita spontan bilang, “Bagai kacang lupa pada kulitnya.”


Salah kacang apa? Apa Pembaca yakin kalau kacang memang melupakan kulitnya? Siapa yang lebih tahu? Kacang atau kita? Saya percaya kacang tidak lupa pada kulitnya. Mereka mungkin seperti sepasang kekasih, tak mau dipisahkan. Coba Pembaca tanya pada kura-kura, apa dia mau berpisah dengan cangkangnya? Tentu saja tidak. Kita lah yang memisahkan kacang dengan kulitnya, demi hasrat kita. Kalau dipikir-pikir, ternyata kita ini lebih kejam dari yang kita sadari, Pembaca.

Nah, sama halnya ketika calon pemimpin berjanji memberi kita sesuatu. Janjinya bisa macam-macam. Misalnya:

1. Mewujudkan pemerintahan Aceh yang bermartabat dan amanah.

2. Mengimplementasikan dan menyelesaikan turunan UUPA.

3. Komit menjaga perdamaian Aceh sejalan dengan MoU Helsinki.

4. Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan Islam di semua sektor kehidupan               masyarakat.

5. Menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.

6. Mengupayakan penambahan kuota haji Aceh.

7. Pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar.

8. Naik haji gratis bagi anak Aceh yang sudah akil balig.

9. Menginventarisir kekayaan dan sumber daya alam Aceh.

10. Menata kembali sektor pertambangan di Aceh.

11. Menjadikan Aceh layaknya Brunei Darussalam dan Singapura.

12. Mewujudkan pelayanan kesehatan gratis yang lebih bagus.

13. Mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri

14. Pendidikan gratis dari SD hingga perguruan tinggi.

15. Memberikan Rp. 1 juta/KK/bulan dari dana hasil migas.

16. Mengangkat honorer PNS.

17. Meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh.

18. Membuka lapangan kerja baru.

19. Meningkatkan pemberdayaan ekonomi rakyat.

20. Memberantas kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran.

21. Mengajak kandidat lain untuk bersama-sama membangun Aceh.

Lumayan banyak, Pembaca. Gara-gara ini tulisan saya jadi panjang. Tapi tidak masalah. Semoga Pembaca tidak lelah. Jadi begitulah. Karena kita orang beriman, kita percaya pada semua itu. Tapi dengar-dengar politisi Rusia, Nikita Kruschev pernah bilang, 

“Politicians are the same all over. They promise to build a bridge even when there is no river.”

(Semua politisi itu sama saja. Mereka tetap berjanji membangun jembatan meski sungainya tidak ada.)

Itu diucapkan Kruschev sebelum ia meninggal tahun 1971. Nah, kalau Pembaca baru tahu berarti hidup kita tertinggal 42 tahun (minimal).

Ya sudah lah, Pembaca. Untuk apa membahas itu. Sekarang kita hanya bisa berdoa setiap selesai salat. Semoga Pak Gubernur kita dimudahkan rejeki, sehat pikiran, dan yang paling penting tidak lupa pada janjinya. Kalau pun beliau lupa, tolong jangan sekali-kali Pembaca mencoba menyalahkan kacang. Saya bisa marah. []




Jumat, 27 Desember 2013

Tong Tsunami

PEPATAH berkata, beda BH beda ukurannya. Ups.. maksud saya, beda lubuk beda ikannya. Dari dulu saya memang curiga. Otak saya ini perlu direndam pakai deterjen! Tapi ada juga pepatah klise lain, "Tong kosong nyaring bunyinya".

Nah, kalau boleh saya bikin perumpamaan, bulan Desember itu seperti tong. Nyaring bunyinya. Berawal pada suatu pagi,  sembilan tahun lalu. Ribuan saudara kita meraung. Mereka dikejar ombak nan gadang. Tong dulu tidak kosong. Penuh kisah pilu yang menguras air mata. Saya sedih kalau mengingat ini, Pembaca. Saya merasakan bumi bergoyang melebihi Inul Daratista. Oh Tuhan, belum pernah saya lihat gedung-gedung hancur lebur seperti kue Unibis dicelup ke dalam bubur.

Saya sekolah di boarding school waktu itu (setingkat SMA), kelas satu. Malamnya kami tidur di jalan. Tidur dalam asrama bahaya karena gempa susul menyusul. Kami menggelar tikar ala kadar dan tidur seperti udang dalam bakwan, amburadul. Seorang kakak kelas berkelakar, “Beginilah yang dibilang sama Peter Pan, Kaki di kepala, kepala di kaki” Ia tertawa. Kami ikut terbahak. Keesokan harinya kakak kelas saya itu mendapat kabar. Kedua orang tuanya telah tiada. Mereka dihempas ombak.

Jelang tengah malam, kawan saya dijemput orang tuanya. Saya minta ikut. Jalan penuh rintang. Ada pohon tumbang, ada tiang listrik roboh. Mayat bergelimpangan di mana-mana, terbengkalai seperti asam sunti. Mobil tergenang dalam air. Itu malam betul-betul sendu. Jangkrik saja diam. Keesokan harinya seorang kakek ringkih minta tumpangan. Kami duduk di belakang, di bak terbuka. Ia menyenyumi kami. Tapi tiba-tiba senyumnya wagu. Ia meneteskan air mata. Mukanya merah. “Semuanya telah pergi. Anak saya, cucu... Ya Allah...” Ia membenamkan wajahnya ke dalam lutut. Dadanya kembang kempis.

Setiba di Seulimeum, kami berhenti untuk makan pagi, meski sudah tak tepat disebut makan pagi karena sudah jelang siang. Penjual nasi menaruh sedikit nasi dalam piringnya. “Biar cukup untuk semua, Pak” kata penjual itu. Kakek itu meminta sedikit lagi. Ia sangat lapar. Tapi akhirnya ia menyerah. Kakek itu makan dan butir-butir nasi melekat di sekitar bibir. Mulutnya lebih sering ternganga ketimbang mengunyah. Pikiran kami melayang entah kemana. Televisi-televisi terus mengabarkan. Seluruh dunia berduka. Ibu saya, nenek saya, semuanya.

Sejak itulah Desember jadi tong yang nyaring. Hari ini sisa-sisa isi tong dulu mendorong kita untuk mengenang. Panitia-panitia dibentuk untuk acara peringatan. Tentu saja beda orang beda cara mengenang. Orang alim memperingatinya dengan berzikir dan doa bersama. Orang elit memperingatinya dengan adu jotos. Katanya sih, gara-gara secuil kekuasaan. Kemarin ada juga yang memperingatinya dengan seekor kijang piaraannya. Ia wakil rakyat. Mungkin karena sering lupa, seekor kijang menyeruduknya biar ingat. Masuk koran lagi. Tadi sore katanya ada juga yang memperingatinya dengan meletuskan pistol, melempari kantor gubernur, marah-marah. Katanya sih, gara-gara Pak Wagub bagi-bagi uang. Tapi mekanismenya kampungan. 

Tapi itulah, pembaca. It’s all about style, yang penting nyaring. Seperti kata pepatah, beda BH beda ukurannya. Aih, mana deterjen? Deterjen mana? 


Rabu, 25 Desember 2013

YKS, Yuk Keep Seudee


PEMBACA budiman, sebelum memulai tulisan ini, saya ingin bersemedi sejenak dan berdoa dalam hati. Mohon Pembaca bersabar sebentar.

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk dan YKS yang juga terkutuk. Amiin.”

Nah, udah sedikit lega. Akhir-akhir ini saya memang semakin relijius, Pembaca. Kemana lagi kita berpulang ketika tiada tempat berkeluh kesah? Saya memang tidak tahu mau kemana lagi sejak program Yuk Keep Smile merajai televisi dan menguasai setiap warung kopi.

Memang saya dan kopi sudah seperti Romeo dengan Juliet. Memangnya bagaimana Romeo dengan Juliet? Saya tak mau jawab. Saya lagi kesal. Kan udah saya bilang saya lagi kesal? Kenapa masih baca juga? Pembaca ini memang bandel.

Jadi begini, Pembaca budiman. manfaatkopi.com bilang, kopi itu pembangkit stamina. Katanya pula dalam otak kita yang lembek ini ada senyawa. Namanya adenosin. Gara-gara adenosin inilah kita cepat lelah dan tertidur.

Nah, dalam kopi ada zat apa? Ada Kafe. kafe... apa? Bukan kafe la’natillah! Tentu saja kafein. Dia melambatkan gerak sel tubuh. Jadi kita tak mudah lelah, tak mengantuk, dan memunculkan perasaan segar. Dicatat ya Pembaca, perasaan segar!

Nah, saya salah apa kalau ingin perasaan segar? Karena itu saya ke warung kopi. Pun kopi memacu saraf bekerja lebih mulus. Mumpung saya punya otak, kan tidak salah? Kalau tidak punya otak bagaimana pula saya menulis ini?

Kita kembali ke jalan yang lurus, Pembaca. Saya minum kopi untuk mendapat perasaan segar dan meningkatkan konsentrasi. Tapi ada yang merampas dua hal paling berharga itu dari saya. Dengan bunyi musik yang itu-itu saja. Dengan joget yang itu-itu saja. Dengan pembawa acara keroyokan. Apa tidak ada cara cerdas lain membuat orang Indonesia tertawa? Apa tidak kasihan lihat generasi muda terhanyut dengan humor slapstick yang tak mendidik?

Humor slapstick adalah humor yang mengandalkan gerak. Misalnya gerak melaburi tepung ke muka teman. Melempar telur, memindahkan kursi ketika teman mau duduk sehingga ia terjungkil balik. Setelah itu tertawa terpingkal-pingkal. Bagi saya humor jenis itu tak mendidik. Justru mengajari orang untuk bullying. Itu humor murahan. Lebih murah dari harga kolor bekas yang sudah bolong.

Berbeda dengan humor comic. Humor ini mengandalkan kata-kata dan penggambaran. Misalnya dalam stand up comedy atau sejenis. Yang diandalkan itu anecdote-anecdote berisi kritik sosial. Kita tertawa, tapi kita juga tahu sesuatu. Apalagi tahun politik seperti ini (menjelang 2014). Seharusnya ada humor-humor tentang caleg, tentang pemilu, tentang wakil rakyat adu jotos, tentang calon presiden yang lebih cocok jadi badut dan lain sebagainya. Bukan malah humor kosong yang mengandalkan ejekan-ejekan murahan kepada teman. Dapat poin apa?

Bukankah selama ini kita rakyat kecil ini memang buta politik? Sehingga dengan mudahnya digiring dan ditipu. Setidaknya humor jadi cara terbaik untuk memberi kita pendidikan politik. Kemarin saya shock membaca kata-kata Bertolt Brecht, dramawan Jerman.

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat semua tergantung pada peristiwa politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusung dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”

Politik itu berat untuk kita rakyat kecil ini. Tapi dengan humor, itu jadi encer. Jangan sepelekan humor. Guru yang paling disukai semua siswa guru yang humoris. Humor berperan dalam hidup kita. Orang-orang tidak berkualitas juga dilahirkan oleh humor-humor yang tidak berkualitas.

Sekarang kita tertawa dengan humor-humor yang membuat kita semakin terlelap dalam gelap. Kalau saya presiden, Yuk Keep Smile ini akan saya masukkan dalam teks proklamasi agar setiap senin pagi dibaca oleh anak-anak pada upacara bendera.

“Bahwasanya pikiran sehat dan perasaan segar adalah hak semua warga negara. Karena itu YKS dan kawan-kawannya harus dihapuskan dari muka bumi ini karena tidak sesuai dengan cita-cita bangsa. Kalau bisa (O...tidak. tidak boleh pakai ‘kalau bisa’. Memang wajib) Wajib dihapus dalam tempo sesingkat-singkatnya!”

Tapi saya bingung juga, Pembaca. Di Indonesia ini ada presiden tidak ya?


Minggu, 22 Desember 2013

Opera Van Papua

SUDAH dua hari saya tidak buang air besar. Ini gara-gara saya penasaran. Seseorang telah berkata, “Bukankah hidup ini tragis tanpa humor?”

Itu benar, Pembaca. Saya tak dapat hidup tanpa humor. Mudah-mudahan pembaca juga begitu; biar saya ada kawan. Tapi bagaimana kalau justru humor yang bikin kenyataan jadi tragis? Inilah yang membuat saya susah buang air besar. 

Pembaca punya televisi kan? Setidaknya seperti saya, pernah menonton televisi. Kalau tidak pernah, ya sudah. Saya tidak tahu bilang apa. Tapi ada yang akrab dengan kita. Tak hanya kita sebenarnya, tapi saudara kita, teman kita, pacar kita, presiden  kita, gubernur kita, bupati kita, orang kampung kita, juga semua rakyat Indonesia. Tahu Opera Van Java? 

Saya senang menontonnya, Pembaca. Selain menghibur, saya dapat pengetahuan baru. Perempuan yang nyanyi dengan suara melengking namanya pesinden. Nyanyian itu sendiri disebut sinden. Orang yang memakai baju dengan lengkung menjulang di tengkuk bernama Gatot Gaca. Alat musik berbahan besi disebut gamelan. Pemain wayang namanya dalang. Topi yang dipakai dalang disebut blankon dan banyak lagi.

Menurut kamus di kepala saya, Opera berarti pentas drama bercampur musik. Van diambil dari kosa kata Belanda bermakna bin. Sedangkan Java, aih... tak perlulah saya jelaskan ini lagi pada Pembaca. Saya yakin pembaca lebih maklum dari saya. Java itu ya Jawa. Jadi, Opera Van Java berarti pentas humor bercampur musik yang berasal dari Jawa.

Sebenarnya bukan kata Van dan Java saja. Ada kata-kata Belanda lain yang resmi jadi Bahasa Indonesia. Misalnya kata koran (courant), kantor (kantoor), sempak (zwempak), ajudan (adjudant), alpukat (avocaat), nanas (ananas), wortel (wortel), buncis (boontjes), asbak (asbak), baskom (waskom), dosen (docent), bensin (benzine), sandal (sandaal), halte (halte), jerigen (jerrican), pasfoto (pasfoto), piket (piket), puisi (poezie), sablon (sjabloon), saldo (saldo), sekongkol (gekonkel), sirup (stroop), WC (Water Closet), BH (Bouste Houder), dan lain-lain. Celakanya tak hanya kosa kata, ada juga yang turut mengadopsi ‘Sifat’ Belanda.

Tapi saya masih penasaran juga, Pembaca. Penyanyi di Opera Van Maluku disebut apa? Orang pukul alat musik di Opera Van Kalimantan apa namanya? Terus, genre lagu dinyanyikan di Opera Van Sulawesi disebut apa? Opera Van Sumatera tampil malam apa? Apa hampir tiap malam juga? Kan saya pingin juga nonton Opera Van Nusa Tenggara Timur dan Opera Van Nusa Tenggara Barat?

Tapi tak baguslah kita terlalu banyak tanya. Indonesia bukan atmosfir yang baik untuk orang-orang yang penasaran. Nanti Tuan Besar terusik. Bisa-bisa saya ditangkap pula gara-gara ini. Kan bisa saja mereka bilang saya ini rasis. Kalau orang jelek dan kerdil seperti saya ngomongin ini memang disebut rasis. Kalau stasiun televisi nasional menonjolkan budaya Jawa saja itu bukan rasis. Itu namanya hiburan. Seperti kata George Bernard Shaw, “Ketika seseorang ingin membunuh macan dia menyebutnya olahraga berburu; ketika macan ingin membunuhnya dia menyebutnya kebuasan”. Kemudian Shaw menambahkan, “Beda antara keadilan dan kejahatan juga tidak lebih besar daripada itu.” 

Tapi walau bagaimana pun juga, daripada-daripada, yang penting kita camkan saja. Kalau tak bisa, paksakan saja dalam hati bahwa negeri ini Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetap satu jua. Ingat ya, Pembaca. Bukan Bhinneka Tunggal Jawa. Diingat, jangan sampai salah. Bisa ditangkap nanti.

Tapi, kalau boleh saya penasaran lagi, saya ingin tahu bagaimana orang-orang Papua melawak. Sebagaimana setiap etnik punya orang jenius begitu pula mereka memiliki orang yang lucu. Saya percaya orang papua itu jago melawak. Begini, Pembaca, menurut teori, humor itu lahir dari yang tragis-tragis. Nah, mengapa saya bilang orang Papua itu pandai melawak, karena ada sebuah lirik sedih. Kalau tidak salah saya lagunya Franky Sahilatua. Lirik ini menggambarkan kehidupan orang Papua. Begini bunyinya:  

“Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami punya. Kami hanya menjual buah-buah pinang.” 

Kan tragis, Pembaca? Tidur di atas emas dan berenang di atas minyak adalah perumpamaan hasil alam mereka yang kaya. Tapi mereka tak menikmatinya karena dijarah. Mereka pasti lihai sekali meracik humor. Setidaknya itu jadi cara terakhir agar tak sampai lupa bagaimana cara tertawa.

Tapi ada juga alasan lain mengapa saya ingin menonton Opera Van Papua. Seandainya Opera Van Papua bisa muncul di televisi seperti Opera Van Java (sepertinya ini mustahil), saya akan beli kopi, kacang, dan jagung rebus. Setelah itu tengok ke kiri dan tengok ke kanan baru menghidupkan televisi. Saya akan menonton dengan khidmat. Untuk yang satu ini saya memang sudah lama penasaran. Saya lihat pipa buatan mereka bagus-bagus. Siapa tahu mereka bisa ajari saya cara pakai koteka. Kan saya penasaran juga, Pembaca. [] 



________

Koteka: pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Papua terbuat dari kulit labu air. 




sumber gambar: https://ilustrasikalender.wordpress.com