-------

Kamis, 17 November 2011

Realita Cinta Rok and Dodol



TAK mudah bagi Bang Lara menjalani hidup begini, mulai subuh hingga fajar menyingsing kembali. Bukan sehari dua hari, sudah bertahun-tahun. Ada saja yang mengusik kelaki-lakiannya.

Setiap malam minggu di jalanan banyak pemuda. Mereka tidak sendiri. Ada sesosok lain menempel di punggung, meliuk indah. Anak muda sekarang memang pandai menjinakkan perempuan. Mungkin pernah mendengar petuah mantan kepala buruh Inggris, “Ayah saya masih membaca kamus setiap hari. Katanya, hidup kita sangat bergantung pada kemampuan kita menggunakan kata-kata”. Perempuan memang ditaklukkan dengan kata-kata. Maka jadilah muda mudi itu seperti amplop. Ada lem yang merekatkan ke duanya. Lem bermerk “cinta”. Dalam amplop itu tersimpan romansa, api asmara, birahi, hingga sesuatu yang tak pasti (kata Iwan Fals). Sedangkan Bang Lara hanya sediri, terpaku menatap langit seperti Ebit G Ade.
           
Suatu malam Bang Lara jalan-jalan sendirian dengan Jupiter MX. Ia melintas kawasan  remang-remang. Ada sebuah sepeda motor berjalan aneh. Astaga!! Ada meuruwa ek trieng ! Bang Lara kaget. Air liurnya yang merembes segera ditelan kembali. Ada muda-mudi yang sama-sama bekerja di atas sepeda motor. Bang Lara termegap-megap. Pikirannya berfantasi dan mulai terbang jauh membuka lembar-lembar sejarah. 

Akhirnya berhentilah ia pada abad XX. Abad yang diwarnai oleh seorang tenar bernama Adolf Hitler.  Ada sebuah cerita di sana. Jadi ada seorang perempuan bangsawan Jerman bernama Magda Goebbels. Ia istri petinggi partai Nazi, Joseph Goebbels. Joseph ini juga menjabat Menteri Propaganda Kabinet Hitler. Tanggal 1 May 1945 adalah hari yang tragis bagi Magda. Ia masuk ke kamar. Enam orang anaknya ada disana. Dengan sikap tenang dan elegan ia memasukkan pil sianida ke dalam mulut ke enam anaknya. Selesai melakukan itu ia menutup pintu kamar dan membiarkan kematian menerkam semua buah hatinya itu. Dia dan suami kemudian bunuh diri. Telah tercatat,  Magda meniadakan darah dagingnya. Magda … Oh Magda…

Lain Magda, lain pula Hugh Hefner. Dia Bos Besar majalah Play Boy. Dia lahir pada 9 April 1926 di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Lelaki ini hidup glamour dan selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. Gadis-gadis itu model pada majalahnya. Sisi lain dari Hefner adalah hobinya menabur benih pada banyak perempuan. Uniknya, merupakan kebanggaan bagi para model itu jika dapat kesempatan menghabiskan malam bersama Hefner.

Kisah tentang Magda dan Hefner tidak akan berakhir. Bisa jadi akan banyak Magda-Magda lain yang tega membunuh anaknya sendiri dengan alasan lain. Dikarenakan aib dari cinta illegal. Baik dengan cara elegan atau yang mengerikan. Begitu juga dengan Hefner. Terbuka kemungkinan bagi Hefner-Hefner muda untuk menabur benih sembarangan. 

Inilah ‘Realita Cinta Rok and Dodol’. Rok bermakna cinta dimaknai sebagai penyalur sex yang tidak jauh-jauh dari rok. Sedangkan kata dodol bermakna ‘oon’ alias tolol. 

Malam itu Bang Lara langsung pulang. Ia menatap ke langit-langit kamarnya dan tersenyum sendiri. "Enak juga jadi Hugh Hefner" 

Bang Lara… oh Bang Lara... 

Minggu, 13 November 2011

Antara Bang Lara Dan Istri Belanda

SUDAH lama Bang Lara tidak tidur dengan istri Belanda. Semenjak meninggalkan kampung halaman, Bang Lara lebih sering tidur telat. Tugas kuliah yang berjibun dan juga kebiasaan minum kopi membuat matanya melek hampir sepanjang malam.  Ia tinggal bersama adiknya di sebuah rumah kecil. Setiap malam adik Bang Lara tidur lebih cepat. Bang Lara sering hilang kesempatan. Istri belanda itu duluan dipakai adiknya. Itu terjadi hampir saban malam. Kasihan!

Nyaman, santai, hanyut, dan empuk, itu yang terasa saat berhubungan dengan istri belanda itu. Dulu beberapa orang tua di beberapa kampung di Aceh melarang anak-anak tidur dengan istri model begini. Katanya menyebabkan kemalasan dan susah bangun pagi. Sewaktu kecil Bang Lara jarang berhubungan dengan istri belanda. Ketika dewasa, kesempatan untuk memiliki istri belanda itu pun melebar.

Nah, bagaimana kalau istri Indonesia? Pembahasannya akan jauh beda. Pasalnya istri belanda ini bukanlah istri betulan. Ini hanya arti dari Bahasa Inggris, dutch wife. Menurut kamus Oxford, dutch adalah kata benda berarti orang belanda. Sedangkan wife  kata Inggris untuk menyebutkan istri. Nah, ketika dua kata ini digabung, dutch wife itu pun jadi istri orang belanda. Sesederhana itu? Tidak, tidak. Banyak orang Indonesia memang memandang aneh Bahasa Inggris. Di Aceh saja muncul pameo, “Bahasa inggreh, laen tabaca, laen tatuleh” (Bahasa inggris lain kita baca, lain pula kita tulis). Begitu juga dengan kata dutch wife. Arti sebenarnya dari kata ini bukan “istri orang belanda” tetapi BANTAL GULING.

Kenapa dikatakan dutch wife? Pertanyaan menarik! Menurut artikel yang Bang Lara baca pada Majalah Historia, konon kata itu stereotip (pelabelan) yang diberikan Inggris pada Belanda. Katanya dulu orang Inggris menyebut Belanda bangsa pelit. Ini disebabkan persaingan antara Inggris dan Belanda di abad ke-17. Selain itu, setiap berperang ke negara lain khususnya Hindia, prajurit Belanda dilarang bawa istri. Hal ini dibenarkan Robert Jan Nix, pimpinan Yayasan Peutjut yang mengurusi makam Belanda di Aceh, Kerkhoff. Mantan Perwira Kavaleri Belanda itu diwawancarai Bang Lara saat ia mengunjungi Kerkhoff di Banda Aceh.  Nix bilang prajurit Belanda tidak dibolehkan membawa istri ke Indonesia pada masa kolonial dulu kecuali para perwira. Karena itu banyak prajurit Belanda memilih menggundik dengan “Nyai”. Salah satunya adalah kakek Nix itu sendiri. Itu sebabnya mengapa bekas perwira belanda yang dilahirkan di Geumpang, Pidie ini sedikit memiliki darah Indies (Pribumi).  

Selain itu, Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah percakapan pada novelnya, Jejak Langkah menuliskan,   “Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik, mereka membikin guling-gundik yang tak dapat kentut itu (dutch wife/bantal guling).

Dalam kamus Bahasa Inggris juga terdapat frasa  go dutch. Mungkin gabungan kata ini juga dikaitkan dengan steriotip itu. Go dutch bukan berarti “pergi ke Belanda” ia memiliki arti “bayar sendiri-sendiri”. Saya berfirasat ungkapan ini digunakan Inggris untuk mengukuhkan stereotip pelit untuk Belanda juga. Seolah-seolah orang Belanda kalau makan jarang mentraktir orang lain.  Suatu ketika pada 2009, Bang Lara ditraktir makan oleh guru bahasa Inggrisnya. Seusai makan-makan dengan puasnya, perempuan kelahiran Amerika itu bilang, “Now, Go dutch!”  Bang Lara tercengang. Untung saja wanita cantik itu mengakhirinya dengan tawa manis yang kurang lebih bermakna “cuma bercanda”.

Bagi  Bang Lara kata-kata “Istri Belanda” untuk menyebutkan bantal guling itu lebih menarik. Menurut kabar, dalam Encyclopedia of World and Phrase Origins Robert Hendrickson menulis: “Orang-orang Belanda begitu tersinggung oleh Bahasa Inggris selama tiga abad sehingga pada tahun 1934 pemerintah mereka memutuskan untuk membuang kata ‘Dutch’ dan menggunakan kata ‘Netherlands’ jika memungkinkan.

Bang Lara tidak memakai kata ‘Netherlands’ karena takut orang tidak paham. Maka dari itu Bang Lara ambil jalan tengah saja. Untuk dutch wife Bang Lara cuma bilang Istri Belanda. Tidak memakai kata ‘Dutch’, tidak pula menggunakan kata ‘Netherlands’. Di akhir kata Bang Lara memberi sedikit wejangan,

“Sebelum punya istri sendiri, peluklah istri Belanda dulu. Yang penting jangan sampai menganggur!” 

ucap Bang Lara dengan muka lugu. Tak sedikit pun tersirat rasa bersalah pada raut wajahnya yang manis itu.[]

Rabu, 02 November 2011

Bunyi-Bunyi Yang Indah



Barangkali sudah agak lama beberapa mahasiswa dan mahasiswi tidak pulang kampung semenjak perantauan menuju Kuta Radja atau kota lainnya. Katanya untuk menuntut ilmu. Entah karena beranjak dari pernyataan Imam Syafi’i bahwa untuk memperoleh ilmu seseorang harus keluar dari kampongnya dan berhijrah ke tempat lain yang berbeda.  Atau bisa jadi  karena gengsi; sebagai upaya untuk menghasilkan bunyi yang indah alias jawaban “berbobot” sebagai respon terhadap pertanyaan. Bunyi yang indah, sudah seperti musik saja.

Pasalnya  dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi melihat “kemajuan” yang terjadi dewasa ini,  banyak orang yang ingin mengenal seseorang. Dan itu masih bisa dikatagorikan hal yang wajar dan normal. Namun dalam pada itu orang juga ingin mengenal latar belakang kita. Biasanya hal yang paling ingin diketahui adalah pekerjaan atau pendidikan. Dua kata ini terkadang membuat beberapa individu tertentu  terpaksa mengekang diri demi sebuah jawaban yang indah dan enak di dengar; dan tentunya tidak dianggap kampungan. “Kuliah di mana?” Tanya seseorang kepada Bang Lara pada suatu ketika. “Saya kuliah kedokteran” jawab Bang Lara dengan penuh semangat. Dalam semangatnya itu rupanya juga muncul dalam hati Bang Lara akan adanya pengakuan bahwa dirinya hebat, memiliki kapasitas intelektual di atas rata-rata, berpenampilan elit dan lain-lain.  Padahal kalau mau jujur, di dalam lubuk hati yang paling dalam, Bang Lara sama sekali tidak menyukai kedokteran. Jiwanya lebih menyenangi belajar bahasa. Dari SMA ia sudah suka mempelajari bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jerman dan lainnya. Ia juga pernah mengikuti tes bakat kecil-kecilan yang didapat dari sebuah buku motivasi yang dibacanya kala itu. Hasilnya luar biasa: Bang Lara mempunyai kecerdasan linguistic alias kecerdasan bahasa. Wajar saja jika ia lebih cepat memahami hal-hal yang ada kaitannya dengan bahasa. Namun waktu melanjutkan ke universitas, Bang Lara pilih kedokteran. Biar bunyinya terdengar keren dan indah.

Bang Lara mungkin sudah lupa bahwa tujuan utama menuntut ilmu itu harus karena Allah (Bi ismi llah) bukan karena gengsi dan dianggap hebat (bi ismi gengsi). Kalau tidak, tidak akan dapat pahala dan tak bernilai apa-apa. Misalnya, katakanlah Bang Lara sedang dalam perjalan pulang atau pergi kuliah. Tiba-tiba Damri yang ditumpangi Bang Lara terjungkir terbalik. Semua penumpang yang rata-ratanya mahasiswa tewas tragis. Saat  malaikat datang menghampiri, ia menemukan tidak ada kemuliaan yang tersimpan dalam diri Bang Lara selain kesombongan dan bekas birahi liar yang selalu menginginkan pengakuan hebat di mata manusia. Tamatlah riwayat Bang Lara. Kasihan Bang Lara, ternyata bunyi-bunyi indah itu tak mampu menolongnya.

Senin, 31 Oktober 2011

Pemuda Kok Jalan-Jalan



            Jalan adalah salah hal yang paling akrab dengan kita. Selangkah saja bergerak dari pintu rumah,  kita sudah menemukan jalan. Memori kita pun turut menyimpan jalan-jalan tertentu. Jalan menuju tempat kerja, jalan menuju rumah mertua kita, jalan menuju pasar, sampai pada jalan menuju pacar. Banyak jalan yang terekam dalam pikiran sehingga jalan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, seperti kata pepatah, di mana ada manusia di sana pasti ada jalan (pepatah pribadi hehe..).

            Dalam beberapa situasi kita memang tidak boleh melupakan jalan. Apalagi jika masih muda dan bergelar “anak muda”. Anak muda tidak boleh lupa pada jalan. Anak muda adalah kekuatan untuk menuju pada perubahan.  Banyak orang besar dunia percaya pada pemuda. Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia kata Bung Karno pada suatu ketika. “Ask the young, they know everything” (Tanya anak muda, mereka tahu segalanya) tambah Joseph Joubert lagi, seorang penulis dari perancis. Di mata orang-orang hebat ini pemuda adalah tenaga kreatif yang mampu memahami dunia dan dirinya sendiri.

            Namun pada kenyataannya sifat pelupa melekat erat pada anak muda. Sebuah sifat yang mungkin hanya layak disandarkan pada orang tua. “Hana thee droe” (lupa diri) kata orang Aceh. Banyak pemuda yang lupa pada “jalan” bahkan ada yang lupa pada daratan. Jasad masih di bumi namun kesombongan sudah melayang-layang setinggi awan. “Entah bagaimana alur berpikir mereka” Kata seorang Yah Wa, seorang kakek yang berumur 70 tahun mengomentari tingkah polah kebanyakan pemuda zaman sekarang yang menurutnya aneh. Mengecat rambut, memakai tatto, hisap ganja, shabu-shabu, main perempuan dan hal-hal lain yang merusak diri alias buang-buang diri. Gilanya, itu mereka anggap sebagai sebuah kehebatan. Socrates menyebutnya “etere” yang memiliki makna “hebat” atau sesuatu yang dianggap hebat. Menurutnya etere orang itu berbeda-beda. Misalnya saja seseorang yang menyukai music, baginya mejadi seorang musisi handal adalah sebuah etere. Ataupun seperti Bang Lara yang tertarik dengan dunia tulis menulis. Baginya, mampu menulis dengan baik dan dicintai oleh para pembacanya adalah sebuah etere. Nah, etere ini mempengaruhi sikap dan cara seseorang bertindak. Seperti Bang Lara yang ingin dicintai oleh pembacanya, ia akan menulis seringan mungkin agar pembacanya nyaman dan tercerahkan dan yang paling penting Bang Lara tidak boleh sombong dan angkuh. Itu resep yang Bang Lara mulai terapkan.

Kembali pada permasalahan “jalan”. Mengingat jalan itu penting maka orang tidak boleh lupa. Orang yang lupa jalan tidak akan sampai pada tujuan. Sebenarnya apa sih tujuan kita? Kita sudah punya tujuan belum? Sudah punya target yang ingin dicapai belum? Mau kemana kita? Kata orang bijak, hidup ini ibarat naik labi-labi atau bus way. Kita akan jalan-jalan dan tua sendiri dalam labi-labi selama kita tidak tahu mau turun dimana. Banyak orang yang sudah beruban dan terus berputar-putar kemana labi-labi membawanya. Makanya kita sering mendengar kata-kata “tua itu pasti dewasa belum tentu”. Menghafal medan dan tahu jalan itu ciri orang dewasa. Jika tidak, kita ibarat prajurit yang lengkap senjata. Dengan semangat menggebu-gebu kita akan segera bertempur namun sayangnya tidak tahu dimana medan perang dan siapa yang menjadi musuh. Konyol!

Biar tahu jalan, kita bisa langsung belajar dari filosofi jalan. Lihat saja kota Banda Aceh misalnya yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas termasuk di sana sini lampu merah, lampu kuning dan lampu hijau. Lampu merah berarti harus berhenti, lampu kuning siap-siap untuk jalan dan lampu hijau pertanda “silakan”. Jika lampu-lampu ini dilanggar, bukan mustahil tabrakan terjadi. Sering sekali kecelakaan terjadi karena tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Kenapa tidak patuh? Karena hidup kita dipacu nafsu terutama sekali para pemuda. Hidup juga seperti itu. Sama seperti jalan, kita boleh pergi kemana pun yang kita suka namun ada rambu-rambu yang harus dipatuhi agar kecelakaan tidak terjadi. Banyak kan pemuda dan pemudi yang kedapatan mesum? Itulah model kecelakaan-kecelakaan nyata terjadi.

Di Aceh dulu pernah ada seorang sastrawan sekaliber dunia. Ia dilahirkan di akhir abad ke 16 namanya Hamzah Al-Fansuri. Syairnya masih tersimpan sampai sekarang yakni syair perahu. Mungkin  sebagian kita sudah sering mendengarnya. Sebagai penutup, saya ingin kita semua mencicipi syair ini.

'Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i'tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba'id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu 'azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na'am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
"yakin akan Allah" nama pawangnya.

"Taharat dan istinja'" nama lantainya,
"kufur dan masiat" air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
"Allahu Akbar" nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

"Wallahu a'lam" nama rantaunya,
"iradat Allah" nama bandarnya,
"kudrat Allah" nama labuhannya,
"surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam'ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
tanpa ada tujuan yg tetap,

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma'rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da'im dan ka'im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma'rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

Demikianlah, semoga bermanfaat untuk kita bersama. :)

Semoga


Jangan ... jangan jangan ...
jangan biarkan ilalang kesombongan tumbuh di hatimu ....
jangan biarkan sikap menganggap orang lain bodoh mencengkerammu ....
Jangan pula kau jadikan ilmu yang kau peroleh sebagai alat untuk menyerang orang lain ....
Kau, aku, kita bukanlah siapa-siapa ...
Hanya tipuan dan ilusi yang fana yang sering buat kita buta...


Sering menganggap diri baik dengan secuil kebaikan ...
Sering merendahkan mereka mereka yang berbuat kesalahan ...
Padahal kita tidak pernah tahu siapa diantara kita  yang akan memperoleh akhir yang baik ...
Kegelapan bukan untuk dicerca ...
Kegelapan bukan untuk dihina ...
Kegelapan untuk dimuliakan dengan menyiramnya dengan cahaya ...


Sabar...
Sabar...
Sabar...
Meski di sana mungkin harus ada air mata ...
Tuhan akan membeli amalmu ...


Lakukan yang terbaik ....
Jadikan jalan Tuhan untuk membaikkan diri bukan untuk menghina bukan pula untuk merendahkan....
Kau dan aku sama ....
bukan siapa-siapa ...
Hanya makhluk hina yang sering tak tahu tentang dari mana, hendak ke mana dan sedang melakukan apa ...


Kau dan aku sama ...
Sama-sama harus membaikkan diri untuk alam yang lebih kekal ...
Sampai jumpa di surga....
Semoga !

Mau Pintar?


Siang ini hujan turun deras menampar atap kedai. Gemuruhnya memudarkan suara musik yang diputar sudah lebih dari tiga jam. Gelas kopi masih setia menemani meski kopi hanya tinggal separuh lagi. Cuaca dingin seakan makin keranjingan memaksa badan untuk menggigil.  Di jalanan terlihat beberapa orang yang nekad menembus hujan dengan sepeda motor tanpa mantel. Tak terbayang seberapa kedinginannya mereka. Di warung ini puluhan orang yang terdiri dari bapak-bapak, pemuda, sampai pemudi  masih duduk tak bergeming menatap sebuah laptop. Mata-mata itu seakan tak berkedip, begitu serius memandang. Ada yang tersenyum-senyum sendiri, ada pula yang tertawa dengan alasan yang hanya dia sendiri yang tahu. Semuanya begitu “khusyu’”.

            Di abad XXI ini , tertawa dan tersenyum tidak mesti harus berjama'ah lagi. Orang bisa menghibur diri dengan sebuah laptop atau perangkat elektronik lainnya.  Terkadang itu mereka lakukan di kedai kopi, di kampus, atau bahkan di kamar. Di sana ia bisa tertawa sepuasnya sampai menangis. Dunia seakan semakin ramai sehingga membuat wilayah sepi dalam diri kian kerdil. Bang Amin adalah seorang pedagang. Ia menyewa sebuah toko kayu kecil di satu kawasan di Banda Aceh. Sehari-hari ia menjual makanan ringan, rokok, pulsa, hape second dan juga modem. Sewaktu saya sedang mengisi pulsa modem saya di sana, istri Bang Amin bilang, “nyoe modem lagee nyoe lagot lagee lagot bada musem ujeun” (Modem merk ini laku seperti pisang goreng di musim hujan). Maklum mungkin karena karena koneksinya cepat dan dijual dengan harga yang relatif terjangkau. 


            Aduh semakin mudahnya hidup di abad ini! Internet bisa diakses oleh hampir setiap orang. Itu artinya tidak  susah lagi untuk menjadi “orang pintar”. Bagaimana tidak, untuk belajar bahasa inggris misalnya, orang bisa langsung membuka situs-situs belajar bahasa inggris gratis lengkap dengan pronunciationnya. Untuk memperkaya wawasan, tinggal mengklik situs-situs warta seperti kompas.com, republika.co.id, tempointeraktif.com dan lain-lain. Atau mungkin juga jika ingin berenang sambil minum air alias belajar bahasa inggris sambil membaca informasi, tinggal meng-klik situs thejakartapost.com, thejakartaglobe,com dan lainnya. Dan lagi, jika ada sesuatu yang ingin diketahui bisa langsung dengan mengunjungi mbah Google.com. Dari Mbah Google ini orang dapat belajar banyak. Belajar bagaimana cara berwirausaha, cara membudidayakan ikan lele, cara menanam cabai dan sebagainya. Bahkan, ada satu kabar yang  mengejutkan. Pada suatu hari saya sedang mengikuti seminar tentang menulis. Pembicara di seminar itu tepatnya seorang penulis, ia mengabarkan kepada kami bahwa di salah satu tempat di pulau jawa, seorang bocah berhasil menciptakan senjata yang mirip AK-47. Ketika ditanya belajar dari mana, dengan polos ia  menjawab “dari Google”.
       
            Super!! Mudahnya hidup di abad ini. Orang bisa menjadi pandai dengan sedikit mengembangkan kemauan dan rasa ingin tahu nya. Tidak salah seperti kata orang bijak, “dengan ilmu hidup jadi mudah”. Dengan membaca kita dapat menambah wawasan dan memperkaya skill. Kalau sudah ada skill, hidup akan sedikit lebih gampang. Lalu seorang anak kecil pernah bertanya pada saya, “Bang Lara, kenapa kita orang ada juga yang tidak pandai padahal ia punya laptop dan internet!”. Tanpa berpikir panjang Bang Lara menjawab, “Itu karena kita orang asik dengan bermain poker dan game-game lain yang membuat ketagihan. Juga, kita orang lebih suka membuka situs porno ketimbang situs-situs yang bergizi untuk pengembangan diri. Begitu!” Jawab Bang Lara sambil tersenyum tersipu malu.


Minggu, 30 Oktober 2011

Satu

Tulislah walau hanya satu ayat !

Rabu, 26 Oktober 2011

Timah

            Persepsi adalah timah. Timah ini kemudian dipanaskan oleh campur tangan manusia melalui media atau kejadian-kejadian dan bukti-bukti pada suatu perkara. Karena dipanaskan secara terus menerus maka timah ini berubah menjadi cair. Timah panas inilah yang kemudian disemprotkan pada golongan atau kelompok tertentu seperti PKI, Masyumi, LDK, HMI, dan lain-lain misalnya. Tidak jarang kata-kata kotor kemudian lahir dari kebencian yang juga dilahirkan oleh persepsi orang sebelumnya. Dari sinilah perang dimulai. Masing-masing pihak akan berusaha mati-matian mencari fakta-fakta dan data yang sanggup menjatuhkan kelompok lawan. Dalam banyak hal ini erat kaitannya dengan perebutan kekuasaan atau bahasa yang lebih umum dipakai, kepentingan politik.