-------

Kamis, 08 Maret 2012

Dengarlah Tuan

Karya Putra Hidayatullah
 
Tuan, Dengarlah!
Duduklah sejenak di atas tikar kami yang lusuh ini
Tak perlu kau membasuh kaki,
Air terjun sudah sangat deras
kami takut kau terhanyut

Tuan, sudah tahukah engkau tentang kisah usang?
Alam murung, dan langit menangis
Isi rimba sangat kecewa
Tak ada yang mendengar raung luka mereka

Sekarang lihat ke sana, Tuan,
Lihatlah bumi bersedih
Lihat itu, hutan kita beramai diperkosa, berkali-kali!
Sengaja mereka lakukan demi menukar rupiah dengan bah

Tuan, sudah tahukah engkau tentang
gaungmu yang kini pudar
Duduklah sejenak di sela pepohonan itu
Dengarkan lagi jerit satwa dan suara gergaji
Duet bunyi yang sedang mengundang maut lain
 
Tuan, kalau bisa ajarkanlah tentang kebijaksanaan 
Tentang hutan, tentang anak cucu, dan tentang kehidupan
Telinga sebagian kami telah sumbat dengan rupiah
Alangkah mulianya jika kau bisa menyinari gelap
 
Dan jika bisa begitu,  kami akan mengasihimu
Kami akan mencintaimu, Tuan
Seperti kami mencintai diri sendiri
Seperti tumbuhan yang dicintai musim semi 
 
Putra Hidayatullah
, warga Desa Ulee Gampong Gumpueng, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie



Sumber: Serambi Indonesia 4 Maret 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/03/04/dengarkanlah-tuan

Menguak Bisnis Trafficking

Oleh Putra Hidayatullah

MIRIS sekali mendengar kabar tentang dua gadis belia Aceh yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Keduanya dibawa ke Singapura, lalu dipaksa menjadi budak seks. Dua orang wanita berinisial Mi (19) dan Ay (19) diduga sebagai bagian dari gembong mucikari di negeri Kosmopolitan tersebut (Serambi Indonesia, Senin 23/1).

Sebelumnya kasus serupa juga pernah mencuat di Aceh. Aparat kepolisian Aceh Utara berhasil menangkap beberapa orang yang diduga menjadi pelaku. Seorang korban yang dibawa ke Malaysia mengirimkan sms kepada orang tuanya bahwa dia telah dijual dan dipekerjakan dengan tanpa gaji. Drama nyata perdagangan manusia ini memang bukan lagi persoalan baru. Ada beberapa kasus yang berhasil terkuak dan ada yang berjalan mulus tanpa hambatan. 

Victor Malarek, seorang wartawan investigasi Kanada menuliskan dalam bukunya The Natashas: The New Global Sex Trade, tentang bagaimana seluk beluk dan proses trafficking ini terjadi. Secara garis besar, bentuk akhir dari human trafficking adalah perbudakan, pelacuran, dan kerja paksa. Praktik ini bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang cukup menggiurkan. 

Peringkat ketiga
Tercatat bahwa bisnis perdagangan manusia menduduki peringkat ketiga di dunia setelah perdagangan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang. Dari seorang perempuan yang dieksplotasi, seorang mucikari bisa memperoleh keuntungan antara 75.000 hingga 250.000 dollar atau laba sekitar Rp 75.000.000 hingga Rp 250.000.000 dalam setahun.  

Dalam buku yang sama dikutip pernyataan Willy W Bruggeman, agen intelijen polisi Uni Eropa, bahwa keuntungan yang didapatkan oleh para gembong perdagangan manusia seluruh dunia bisa mencapai 12 milyar euro per tahun. 

Setidaknya ada empat gelombang besar dari jaringan perdagangan manusia di dunia. Victor menyebutkan bahwa gelombang jaringan terbaru beranjak dari Eropa Timur dan Eropa Tengah (The Fourth Wave), tepatnya pascaruntuhnya Uni Soviet sekitar tahun 1991. Setelah itu perlahan menjalar ke hampir seluruh negara-negara Asia dan Amerika.

Setelah Uni Soviet pecah dan terbentuk beberapa negara kecil, muncul ketidakberesan dalam pemerintahan, seperti banyaknya pejabat yang korup, budaya suap menyuap, serta birokrasi yang kacau, ternyata berpengaruh pula pada kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam negatif pun muncul dalam kehidupan keluarga, banyak lelaki mabuk-mabukan, dan terlibat kriminal karena lapangan kerja yang tidak jelas.

Melihat kenyataan itu, lalu muncul sekelompok orang yang memanfaatkan gejala. Mereka menawarkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri terutama bagi perempuan. Profesi yang ditawarkan beragam, mulai dari pelayan restoran, kasir, cleaning service, pekerja perusahaan dan sebagainya. Para korban dijanjikan untuk diberikan fasilitas yang lengkap dan gaji yang tinggi. 

Di tempat pendaftaran tersebut para “perekrut” memilih mana yang lebih berpenampilan menarik dan layak. Terkadang iklan-iklan tersebut ikut menempelkan logo resmi negara semisal daun mapel jika negara yang dituju adalah Kanada. Ini dilakukan supaya para pendaftar menjadi lebih yakin dan percaya.

Budak seks
Setelah urusan administrasi keberangkatan dan tiba di negara tujuan, para perempuan itu dijual kepada penadah dan digunakan sebagai “mesin” pendulang uang. Seketika itu pula, perempuan-perempuan itu dipaksa menjadi budak seks. 

Mereka diwajibkan melayani klien sebanyak-banyaknya agar cepat menghasilkan uang banyak. Seperti diungkapkan oleh seorang mafia sindikat trafficking: “Kamu bisa membeli satu perempuan seharga 10.000 dollar dan uangmu akan kembali dalam seminggu kalau dia muda dan cantik. Sesudahnya tinggal meraup untung.”

Korban trafficking ini akan dibebaskan oleh si “tuan” jika berhasil menggantikan modal (uang) yang dikeluarkan ditambah keuntungan dengan jumlah tertentu. Dalam praktik trafficking, pelaku mengharuskan perempuan-perempuan yang dibelinya segera mengembalikan uang yang telah dikeluarkannya dengan melakukan prostitusi. 

Banyak sekali penderitaan yang dialami oleh seorang korban kasus ini. Tidak hanya mengalami tekanan dari “tuan” yang telah membeli mereka, tetapi juga mengalami kerusakan organ biologis, kecanduan alcohol, trauma, terinfeksi virus dan penyakit berbahaya lainnya. Di samping mereka juga mendapat stigma negatif dari masyarakat. 

Para korban trafficking umumnya dengan mudah bisa dikelabui karena beberapa faktor. Di antaranya karena kurangnya keterampilan dan pendidikan dalam diri individu. Hal ini bisa diperparah lagi dengan himpitan ekonomi dalam keluarga yang membuat calon-calon korban baru lupa dan tidak belajar dari kenyataan-kenyataan yang pernah  terjadi.

Solusi
Karena bisnis ini menggiurkan, sepertinya tidak ada negara mana pun yang aman dari praktik trafficking. Bisa jadi yang terjadi di Aceh adalah fenomena gunung es. Artinya, yang baru terlihat hanya satu kasus saja dan tak mustahil banyak kasus serupa lainnya yang belum terungkap. 

Adanya beberapa jejaring sosial semisal facebook, twitter, dan lainnya semakin mempermudah para pelaku dalam menggaet korban. Untuk itu kita berharap pihak kepolisian bisa mengani kasus ini hingga ke akar-akarnya. Setiap iklan-iklan yang menggiurkan dan berbau trafficking harus benar-benar diawasi. Juga, memastikan bahwa tidak ada dari jajarannya yang disawer



Sumber: Serambi Indonesia 25 Januari 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/01/25/menguak-bisnis-trafficking#.Tx-vzCJpc4k.facebook

Costa Concordia

Karya Putra Hidayatullah
 
Concordia, kau sungguh cantik
Tuan-tuan mana yang tak tergoda
Melihat tubuhmu meliuk di punggung samudera
Air liur anak negeri pun mericik
 
Di kolong langit, engkau mesra ditating ombak
Angin laut  menjalar
Pelita-pelita kecil itu lalu merebak
Samudera  tiba-tiba menjadi liar
 
Langit tenang menatap saja
Riuh pekik melengking tak terkata  
Ternyata kemewahan itu tak abadi
Bisa hanyut, menggulung bak tsunami
 
Putra Hidayatullah
, mahasiswa TEN dan alumnus MJC; bergiat di Komunitas Menulis Jeunurob


Sumber: Serambi Indonesia 22 Januari 2012 

Rabu, 15 Februari 2012

Menyoal Independensi Media

 Meski tidak sepenuhnya percaya media, saya masih menganggap bahwa masih ada jurnalis yang bekerja dengan nurani dan mewakili rakyat yang lemah. Hal ini berbeda dengan media. Walau pun wartawan bekerja untuk media, tapi media tidak sepenuh dapat dipercaya. Kebanyakan media tidak ada yang independent. Bahkan seorang penulis menyebutkan bahwa tidak ada media yang betul-betul independen alias tidak bergantung pada kepentingan politik suatu golongan.

Beberapa orang yang bergelut dalam bidang politik atau bisa disebut dengan politisi itu sendiri ada yang mendirikan media sebagai rodanya untuk mendapat kekuasaan. Di Indonesia misalnya, ada beberapa media seperti TV One, Metro TV, dan beberapa stasiun lainnya yang merupakan tangan-tangan dari politisi besar di negeri ini. 

Lantas ada apa dengan ini? dengan adanya media yang seperti ini, maka kemungkinan bisar, kalau tidak mau dikatakan pasti, setiap isu yang diangkat dalam media tersebut adalah yang berkenaan dengan kepentingan politik partai dan kroninya. Bisa pula digembar-gembor tingkat kegagalan pemerintahan yang sedang menjabat. Ini dilakukan sebagai upaya balas dendam atau rasa tidak senang pihak-pihak yang mungkin belum beruntung pada masa-masa pemilu dulu. Dan beginilah realita politik negara kita. Prinsip "tidak ada teman sejati yang ada adalah kepentingan abadi" begitu kental terpelihara. Jika itu bersinggungan dengan kepentingan, maka teman bisa saja dijegal.

Pada pelatihan ketahanan nasional pemuda tahun lalu, wakil DPR RI, Bambang Priyo Santoso menyebutkan bahwa gelombang kekuatan besar saat ini ada di media. Bahkan presiden sendiri tidak mampu menaklukkan media. Bicara politik adalah bicara tentang kekuatan. Upaya menuju ke kekuasaan itu membutuhkan kekuatan. Kekuatan awal ini menjadi modal utama untuk memperoleh kekuatan-kekuatan besar nantinya setelah memegang tampuk kekuasaan. Mereka akan mampu mengontrol kebijakan-kebijakan yang kemungkinan dijadikan sebagai jalan untuk membayar hutang-hutang semasa kampanye. Di sinilah keuntungan memiliki media. Selain menjadi roda yang memiliki kekuatan mengontrol opini publik, ia juga menjadi ladang bisnis para konglomerat politik ini. 

Media khususnya televisi adalah alat yang paling mujarab untuk kampanye dan propaganda. Beberapa ahli propaganda mengatakan bahwa buku dan film adalah dua alat proganda yang paling luar biasa. Ini tentunya tergantung juga pada pasar. Pasarlah yang menentukan mana yang paling mujarab dan mana yang kurang. Di Indonesia, rata-rata rakyatnya menyukai televisi. Hampir bisa dikatakan bahwa tidak ada rumah yang tidak ada televisi. Dengan memiliki media televisi, maka propaganda-propaganda dengan mudah bisa digencarkan.

Dan itulah media. Semenjak era reformasi, media dan pers bisa dijalankan oleh siapa pun yang memiliki modal. Kebijakan ini merupakan hal yang menguntungkan para politisi kaya. Mereka bisa membuka media-media baru yang selain menghasilkan uang, juga menjadi alat kampanye. Ada sebuah siaran televisi yang ketika sang pemilik modalnya melakukan suatu agenda atau kegiatan, maka ia akan disorot lebih lama dan lebih sering ketimbang sosok-sosok lain. Walhasil, isu yang diangkat pun bisa menjadi isu yang menyangkut kepentingannya saja, bukan kepentingan rakyat. Inilah alasannya mengapa media tidak selamanya bisa dipercaya.[]

Sabtu, 28 Januari 2012

Belajar Menulis

Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Itu kata kata guru saya pada suatu hari. Waktu itu adalah hari-hari yang sulit, bahkan sampai hari ini pun sebenarnya masih terasa sulit. Bukanlah perkara mudah menyusun kata demi kata, merangkai  kalimat menjadi paragraf apalagi jika harus berakhir menjadi sebuah tulisan yang lengkap dengan segala unsur seperti koheren, sistematis, runut dan sebagainya. Sulit sekali! Tidak jarang frustrasi muncul terus menerus. Kalau menulis di kertas, maka tong sampah bisa penuh karena tulisan-tulisan yang salah terpaksa kita buang. Hal seperti ini adalah ilustrasi klasik bagi seorang yang sudah menjadi penulis dan merupakan awan gelap bagi penulis pemula seperti saya.

Kesulitan-kesulitan inilah yang membuat seorang penulis sukses itu menjadi terhormat khususnya di mata orang-orang yang belum bisa menulis. Dia telah berhasil menghancurkan mental block atau pun penghalang dalam dirinya. Kalau seandainya kita ber-analogi, pikiran kita itu tidak berbeda dengan sebuah bendungan beton besar. Supaya air bisa mengalir lancar, maka bendungan itu harus dibuka atau bila perlu dihancurkan. Satu hal yang pasti adalah perjuangan yang berdarah-darah untuk menghancurkan tembok-tembok besar penghalang itu. Setidaknya begitulah gambaran tentang pikiran. Untuk mengalirkan ide-ide, maka kebekuan harus dihancurkan, tentunya dengan latihan yang tak kenal lelah.

Pada kesempatan lain, Ampuh Devayan, seorang penulis yang pernah mengajari kami, sempat mengatakan hal yang sampai hari ini masih selalu saya ingat, “Menulis itu tidak enteng meski yang kita tulis itu adalah yang enteng-enteng”. Saya setuju sekali. Untuk menulis tentang air dalam gelas saja bisa butuh waktu yang lama. Kalimat-kalimat yang yang kami tulis banyak sekali salah. Seperti waktu itu, beliau menggambarkan sebuah gelas yang terisi 50% air pada selembar kertas plano. Masing-masing kami disuruh maju ke depan untuk menggambarkan hal tersebut dalam kata-kata. Ada yang menulis, “air dalam gelas berisi setengah”, “setengah gelas berisi air”, “air dalam gelas itu kurang setengah” dan lain-lain. Ternyata, semua kalimat-kalimat itu kurang tepat. Akhirnya Ampuh menulis sebuah kalimat kalimat lain yang lebih bagus, “Gelas berisi separuh air”. Inilah contoh-contoh kecil betapa menulis itu tidak enteng meski yang kita tulis adalah yang enteng-enteng.

Bagi saya pribadi, menulis itu tak ubahnya seperti pekerja bangunan. Satu demi-satu kita menyusun batu bata. Perlahan-lahan dengan sabar dan telaten akhirnya berwujud istana. Tidak hanya diperlukan bata, namun perlu pengetahuan tentang pola dan gambaran awal seperti apa rumah yang akan dibangun. Bukan itu saja, lelahnya juga tidak jauh berbeda. Kalau pekerja bangunan lelah fisik, maka penulis itu lelah jiwa dan raga, lelah pikiran dan perasaan. Namun semua itu harus bisa ditaklukkan.

Dalam novel Ranah 3 Warna, karya A. Fuadi, (kalau tidak salah, halaman 145) saya bisa merasakan bagaimana seorang Alif berjuang mati-matian untuk bisa menulis sebuah artikel. Bang Togar, gurunya yang kejam dan sangar, tidak melunturkan semangatnya untuk belajar dan terus belajar. Menulis itu ternyata perlu perjuangan yang berdarah-darah.

Saya sendiri baru saja belajar menulis. Beberapa opini dan puisi saya sudah dimuat di media lokal. Namun, saya merasa seperti semakin bodoh saja. Seringkali kehilangan kata-kata, tidak ada ide, susunan pokok permasalahan yang tidak runut. Melelahkan. Biasanya, kalau sedang tak ada ide, saya akan menulis tentang menulis. Yah, seperti yang sedang saya lakukan ini; karena mengingat “Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Kalau begitu, saya padai di sini dulu ya! Nanti saya tulis lagi. Terimakasih sudah membaca tulisan ini! []

Senin, 09 Januari 2012

Sebiji Selongsong

















Karya  Putra Hidayatullah (Sumber : Serambi Indonesia, 8 Januari 2012)


Sebiji selongsong
Kosong melompong
Telunjuk kasar tarik pelatuk, sombong
Tubuh-tubuh kaku lalu digotong
 
Kosong melompong
Dua butir selongsong
Di tengah tawa nyawa ditodong
Nun jauh, hati anak-istri ikut  terpotong-potong
 
Kosong melompong
Tiga selongsong
Senapan menyalak, manusia tak tertolong
Selongsong, serigala malam tak jua lelah melonglong
 
RSU Zainoel Abidin,  5 Januari 2011


Sabtu, 31 Desember 2011

Kilas Balik





Syahdan, banyak diceritakan dalam hikayat, baik itu yang tertulis dalam lembaran-lembaran atau pun yang menyebar dari mulut ke mulut. Bahwasanya, dalam kehidupan seseorang, seberapa pahit pun keadaannya, dia pasti sempat merasakan setidaknya sedikit rasa senang atau bahagia. Konon pula, kata seorang penyair dari Lebanon, Kahlil Gibran,  semakin dalam kita mengukir penderitaan, semakin luas pula kebahagiaan yang akan kita dapatkan.

            Sebagai contoh, ada  cerita tentang si Bawang Merah dengan si Bawang putih. Ia tidak jauh berbeda juga dengan cerita Cinderella. Awalnya Cinderella dan si Bawang putih merupakan objek segala caci maki dan hinaan. Seringkali di rumah, oleh ibu tirinya, mereka tidak dianggap. Beranjak dari kepicikan demi kepicikan yang tumbuh dari hati sang ibu tiri yang berhati jahat, mereka merasakan berbagai bentuk dan model penindasan yang tidak pernah mereka harapkan.

            Singkat cerita, mereka akhirnya bisa terlepas dari cengkeraman yang tidak baik itu. Seperti Cinderella misalnya, setelah melewati semua ujian-ujian itu dengan kesabaran, ia dipertemukan dengan seorang pangeran tampan, baik hati dan kaya raya. Mereka kemudian menikah dan menyambut kebahagiaan dengan hati damai. Setiap penderitaan adalah ongkos untuk membeli sebuah kebahagiaan. Mungkin begitulah kesimpulan dan pesan moral yang ingin disampaikan oleh si pengarang cerita dalam dalam fabel tersebut.

            Seperti halnya Cinderella, sedikit tidaknya Bang Lara juga mengalami hal yang hampir serupa. Ada bagian dari perjalanan hidup Bang Lara yang pada awalnya kurang berpihak kepadanya. Bagian itu terdiri dari kepingan-kepingan kekecewaan, amarah, dan kesedihan yang  datang secara silih berganti.

            Bermula pada akhir 2009  dan menjelang tahun 2010. Bang Lara tiba-tiba merasakan hatinya yang remuk, pikiran yang berkecamuk, juga rasa sedih yang terus mengamuk. Waktu itu, sebagai seorang pemuda, ia menjalin kasih dengan seorang wanita. Mereka saling mencintai. Mencoba membangun cinta dari dua hati yang menjadi penopang. Tanpa diduga, sekonyong-konyong prahara datang. Karena satu dan lain hal, akhirnya Bang Lara harus menyambut tahun 2010 dengan duka. Pacar Bang Lara memutuskan cintanya.

Bukan main sakit hati Bang Lara. Kecewa, sedih, kesal dan segala perasaan yang bercampur aduk di dalamnya. Hampir setiap hari ia sampai harus membaca yasin untuk penyembuhan hati yang tergores cinta. Setiap membaca yasin, hati Bang Lara terasa tenang. Setiap kali hati meronta, ia membacanya lagi. Kadang-kadang ia mencari teman-teman untuk bercanda ria demi melupakan segala luka lara. Waktu itulah Bang Lara tersadarkan hatinya akan  arti persahabatan. Ini mengukuhkan kembali apa yang pernah dikatakan oleh seorang Aristosteles bahwasanya, “Jika kamu diberikan apa pun yang kamu inginkan di dunia ini, namun tidak berikan teman, maka semuanya  tidak akan ada artinya.

            Hari demi hari hati Bang Lara mulai tersembuhkan sedikit. Bang Lara ingat sekali, awal tahun 2010, ia mengikuti sebuah program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), kurang lebih artinya, “Lembaga Pertukaran Pelajar Amerika Indonesia”. Dalam sisa-sisa luka yang hampir sembuh, Bang Lara mendapat telepon dari Mbak Isye, salah seorang staff yang bekerja di Aminef. Waktu itu Bang Lara baru pulang jum’at. Setelah handphone diangkat, dari seberang terdengar seorang perempuan berbicara. Ia mengatakan selamat kepada Bang Lara karena telah melewati tahap pertama tes. Dan diharapkan untuk mengikuti tahap ke dua, berupa interview di Jakarta. Semua biaya transportasi ditanggung oleh Aminef. Bah! bukan kepalang senang Bang Lara.

            Interview itu berlangsung di ruang yang sedikit lebih kecil dari ruang kuliah. Ada beberapa meja yang disusun hampir mirip dengan meja konferensi para petinggi negara. Ada sekitar lima orang duduk melingkar. Tiga di antaranya adalah orang Amerika. Yang lain orang-orang indonesia. Semua mereka memakai dasi, kemeja putih dan jas berwarna hitam. Mcoy, seorang Amerika. Ia menanyakan pertanyaan pertama. Semua berjalan lancar.

            Setelah wawancara dan memenuhi setiap agenda yang telah direncanakan seperti mengunjungi teman-teman di asrama aceh di Jakarta, juga mencoba mengelilingi beberapa bagian kota Jakarta  seperti monas dan lainnya, akhirnya Bang Lara pulang lagi ke Aceh.

Beberapa bulan kemudian ada kabar baik. Bang Lara lulus. Ia diberikan kesempatan ke Jakarta lagi untuk mengikuti tes toefl Ibt. Staff Aminef menyebutkan bahwa untuk lulus, syarat toefl ibtnya harus di atas 60. Setelah mengikuti toefl dan melihat hasilnya, Bang Lara mendapatakan nilai yang lumayan memuaskan.

Setelah beberapa minggu menunggu di Aceh, akhirnya dikabarkan “Selamat…” Bang Lara lulus untuk belajar di Amerika selama 6 bulan. Sebuah cita-cita yang telah lama sekali Bang Lara dambakan. Ia mempersiapkan segala urusan administrasi seperti mentranslate ijazah, membereskan pasport, bahkan emak Bang Lara sudah membelinya sebuah kamera sebagai alat dokumentasi gambar sewaktu di Amerika nanti.

Namun setelah menghubungi teman-teman lain di luar Aceh, akhirnya terdapat sesuatu yang aneh. Semua teman-teman sudah mendapatkan tiket untuk mengikuti Pre Departure Orientation (PDO) di Bali. Sementara status Bang Lara tiba-tiba dirubah. Ia tidak pernah diberangkatkan. Bang Lara kembali remuk. Hancur! Kecewa. Ia merasa telah ditipu. Ia merasa aminef telah berlaku tidak fair. Padahal itu kali ke dua dan kali terakhir untuk Bang Lara karena setelah itu sudah memasuki semester 7. Bang Lara merasa tidak pantas digagalkan. Beberapa kali bang lara bertanya tentang apa salah dan kekurangan bang lara sehingga tidak diberangkatkan, tidak ada jawaban yang jelas dari aminef. Alih-alih menjelaskan sebab musabab, Bang Lara malah ditawarkan program beasiswa-beasiswa lain untuk S2. Jelas-jelas Bang Lara mengalami ilfil berat.

Bang Lara depresi. Berhari-hari ia tidak ke kampus. Kekecewaan itu tidak hanya memberi efek terhadap proses akademik, namun juga hubungan sosial. Ia mulai suka menyendiri. Yang lebih parahnya, penyakit ini juga ikut merambah pada aspek spiritual. Bang Lara marah pada Tuhan. Marah sekali!

Itu adalah cita-cita Bang Lara semenjak SMA. Namun cita-cita itu tidak pernah sampai. Padahal Bang Lara sudah bekerja keras dan melebihi di atas kerja teman-temannya. Waktu untuk ke kantin ia kurangi dengan membaca-baca buku toefl di ruang kelas. Ia membaca buku-buku umum untuk memperluas wawasan. Ketika gagal itu, Bang Lara mencoba melihat kembali orang-orang yang sudah pernah Amerika. Dulu mereka juga tidak terlalu keras belajar, malah lebih sering menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol di kantin. Namun mereka bisa berangkat dan terpilih ke Amerika. Bang Lara merasa bahwa Tuhan itu tidak adil.

Belum cukup  sembuh dari rasa sakit itu, Bang Lara sudah harus mengawal roda pemerintahan organisasi di kampusnya. Kebetulan ia terpilih sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Di sini ia dihadapkan lagi dengan banyak permasalahan-permasalahan baru. Mulai dari anggota-anggota yang malas hingga para pembesar organisasi yang sering bikin Bang Lara kesal. Juga persoalan politik kampus dan tak kenal akhir. Berbelit-belit ibarat melerai benang kusut. Ada saat ketika Bang Lara harus merangkak sendiri dari pagi sampai malam mengurus amprahan sebagai dana operasional dan ruh organisasi. Pernah tidak ada yang menemani. Miris!

Sederetan peristiwa itu terjadi di sepajang tahun 2010, bahkan sedikit merembes ke permulaan 2011. Secara keseluruhan, tahun 2010 bermuka muram pada hidup Bang Lara.
Memasuki tahun 2011, bulan april, Bang Lara diberikan kesempatan untukmengikuti Pelatihan Ketahananan Nasional Untuk Pemuda (TANNASDA) di  Pusat Pengembangan Pemuda dan Olah Raga, Cibubur, Jakarta Timur.

Di sana ia berjumpa dengan para pembesar Republik Indonesia. Salah satunya adalah Mentri Pemuda dan Olah Raga, Andi Malarangeng. Satu hal yang tak terlupakan adalah Bang Lara tidak bawa sikat gigi ke Jakarta dan tidak sempat beli pula di sana. Itulah pengalaman terdahsyat Bang Lara, bertemu Menteri dengan tidak sikat gigi. Selain juga bertemu dengan beberapa jenderal besar berpangkat tinggi, Bang Lara dengan teman-teman TANNASDA lainnya juga dijadwalkan untuk makan malam bersama duta besar Indonesia untuk Malaysia, Bapak Da’i Bachtiar. Namun itu tidak kesampaian. Karena ada sedikit dinamika yang terjadi dalam kementrian pemuda dan olah raga. Dua hari sebelum program berakhir, kami mengadakan kunjungan ke Universitas Taylor Malaysia dan beberapa tempat refreshing, meski tidak berjumpa dengan Bapak Dubes.

Dua minggu genap, kegiatan usai. Kuliah Pengabdian Masyarakat baru satu hari berjalan di Aceh Besar. Bang Lara harus langsung pulang karena telah mendaftar untuk ikut kuliah tersebut. Orang-orang menyebutnya juga dengan KKN, Kuliah Kerja Nyata. Namun ada beberapa orang memplesetkannya menjadi Kura-Kura Ninja.

            Sambil KKN/KPM, Bang Lara yang suka menulis, mendaftar dirinya untuk menjadi siswa Muharram Journalism College. Sebuah sekolah jurnalis. Tidak teralu susah untuk menyesuaikan waktu di antara ke duanya. Antara KPM dan belajar di MJC. Hanya perlu menyediakan stok alasan yang super supaya pihak yang berkepentingan tidak memberi stigma negatif atas pembagian waktu yang ilegal ini.

            Hampir selesai di MJC, Bang Lara diberikan kesempatan untuk belajar secuil tentang sinematografi, cara membuat film. Ini adalah kesempatan emas yang sangat Bang Lara syukuri. Hasil kerja sama antara Yayasan Kampung Halaman Jogjakarta dengan Komunitas Tikar Pandan inilah menjadi cikal bakal lahirnya “film Habis Terang Terbitlah Gelap”. Sebuah film yang dimainkan oleh Bang Lara yang berperan sebagai Sam dan juga Fira sebagai pacarnya.

Senangnya hati Bang Lara melihat film tersebut yang akhirnya sukses digarap secara bersama-sama. Terimakasih sekali RA Karamullah yang menjadi editor akhir pada film ini. Ketika diputar perdana, semua penonton memberi applause dan tanggapan positif terutama kepada aktornya. Bang Lara senang sekali.

Selang beberapa hari, sebuah tulisan opini Bang Lara berjudul “Melirik Perempuan” akhirnya dimuat di Serambi Indonesia. Sesuatu yang sudah sangat lama Bang Lara idam-idamkan. Ini bagai mimpi. Banyak teman-teman memberi selamat. Serambi Indonesia adalah surat kabar yang sulit ditembus oleh penulis-penulis pemula seperti Bang Lara.

Bulan demi bulan terus bergulir hingga tibalah pada akhir 2011. Tepatnya tanggal 31 Desember 2011, hari terakhir sebelum tahun baru, Bang Lara dan teman-teman diwisudakan di Muharram Journalim College (MJC). Panitia mengumumkan bahwa Bang Lara terpilih sebagai mahasiswa terbaik II angkatan VI. Alhamdulillah.

Berbeda dengan tahun 2010, 2011 adalah tahun yang cukup ramah terhadap Bang Lara. Meski ujian dan penderitaan Bang Lara dalam kilas balik 2010 tidak sebanding dengan derita Cinderella, begitu juga pencapaian Bang Lara yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tarzan, namun satu pertanyaan yang tertinggal di hati adalah “kenapa Bang Lara harus sempat marah pada Tuhan?”

Jika kita menderita, ada lagi yang lebih menderita. Jika pun harus berbangga, ada orang lain yang lebih luar biasa. Di atas awan ada awan lain yang lebih tinggi. Derita dan bahagia harus disambut dengan lapang dada. Akhirnya, selamat datang 2012 !  []

Selasa, 27 Desember 2011

Skripshit



Anjrit! Kalau kata orang Jakarta. Bah! Kata orang Batak. Dua kata ini cukuplah untuk mewakili kekesalan yang terlalu keras untuk di rasakan. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Bah! Ia datang lagi. Perlahan mengendap-endap dengan mata tajam ibarat pencuri. Gelagat yang penuh kepaspadaan dan juga kekhawatiran. Khawatir tertangkap, khawatir gagal, dan khawatir target operasi yang berjaya, bukan dirinya. Tapi, pagi ini dialah yang telah tertawa melihat keberhasilannya itu.

Hal yang sama terulang lagi. Aku yang gagal. Matahari telah meninggi setinggi galah.  Dan aku baru membuka mata pertama kali untuk hari ini. Subuhku kemana? Iblis itu sungguh celaka dan bedebah. Subuhku hilang. Tadi ia datang lagi dan mengikat tubuhku dengan godaannya yang menghanyutkan sekaligus mematikan. Aku jadi teringat seorang pesohor tempo dulu di Perancis. Aku lupa namanya siapa. Kata-katanya begini, “aku bisa menahan apa pun kecuali godaan”. Aku kalah, makhluk itu datang lagi dan menggoda lagi. Ia mencoba menekan tombol otomatis pada jiwaku agar besok bangun telat dan tidak disiplin lagi; supaya sifat itu mengeras dan membentuk kebiasaan hingga membatu.

Anjrit! Aku tak ingin melakukannya lagi. Aku ingin bikin skripsi, sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan itu. Meski suka menulis, tapi kalau skripsi, selera menulisku bisa  tumbang tiba-tiba. Bukan karena tidak bisa. Terlalu gengsi untuk kukatakan tidak bisa. Hanya saja, aku bosan. Dicoret lagi, tulis lagi, coret lagi, begitulah seterusnya. Seperti itulah siklusnya berputar-putar sehingga membentuk bola kekecewaan besar yang siap menggelinding dan menghancurkan masa depan, mungkin.

Kau tahu? Seperti kata orang, “Manusia berencana, Tuhan tertawa”, sudah terlalu sering aku berencana. Rencana bangun lebih awal, rencana memelihara ikan lele, rencana mengajar, dan yang paling menyesakkan, rencana bikin skripsi yang sudah ratusan kali tak pernah berjalan. Ah skripsi, kau terlalu buas untuk dijinakkan. Bukan karena aku takut, tapi karena kau memuakkan. Bagaimana Tuhan akan menentukan jika tidak pernah bertindak begini.

Semalam ibuku menelpon, sudah sampai di mana skripsimu Nak? Aku terkejut dan mulai memutar kembali jurus lamaku, berbohong. Hampir selesai Mak. Sedikit lagi.

Skripsi oh skripsi, kamu sungguh tidak menyenangkan! Kalau begini, jadi teringat sama lagu Iwan Fals, Cemburu pada ombak yang selalu bergerak!