-------

Senin, 02 April 2012

Teumeunak



            Tidak seperti kebanyakan kata lain, teumeunak adalah kata yang memiliki power dan aura. Kata ini mengandung unsur yang bisa merepresentasikan kepribadian  seseorang seperti kuat, berani, tegas, lantang, sampai pada amoral. Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata yang akurat semisal radio, kursi, kakak atau lainnya yang dapat mewakili kata teumeunak. Untuk mencapai pada makna teumeunak yang sejati, kita bisa mengaitkannya dengan beberapa kata lain yang sebangsa dengan teumeunak seperti kata menggertak, mencaci, membentak, dan menusuk (dengan kata-kata).

Selain teumeunak, kata lain yang hampir serupa adalah semeuseup. Dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, kedua kata tersebut adalah bagian yang tak dapat dipisahkan. Di satu sisi, ini dikarenakan karakter orang aceh yang cenderung keras dan frontal terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini dan diinginkannya.

Teumeunak ini biasa dilakukan oleh orang dewasa karena ‘pekerjaan’ ini terlalu kasar bila dilakukan oleh anak-anak. Tidak jarang anak-anak yang sempat mengucapkan kata-kata ini akan kena jewer oleh orang tua atau gurunya. Sementara orang dewasa, hampir tidak ada yang berani memberi sanksi kepada mereka. Dalam beberapa lini, orang dewasa memang memiliki ruang-ruang istimewa atau privilege Karena itulah semenjak kecil saya ingin cepat-cepat jadi orang dewasa.

Kembali pada teumeunak. Walau pun perbuatan ini dianggap negatif, dalam beberapa kondisi teumeunak adalah skill yang penting untuk dipelajari. Seperti bagaimana diksi (pemilihan kata) yang tepat untuk membuat teumeunak kita menjadi benar-benar berasa lebih dan lebih berasa.

Mengapa teumeunak itu perlu? Salah satu alasannya adalah supaya harga diri seorang individu bisa tetap survive dalam kondisi tertentu. Sehingga apa yang disebut dengan pembunuhan karakter tidak dengan mudahnya terjadi. Kita tidak dapat memungkiri bahwa dalam kehidupan sosial ada beberapa tipe manusia yang kebal nasehat. Setiap peringatan yang disampaikan dengan cara-cara halus malah membuat mereka semakin keranjingan melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti mengejek, menertawakan dan memandang rendah.

Ada sebuah kutipan yang saya simpulkan dari pengalaman-pengalaman yang saya alami, bahwasanya “terlalu baik itu tidak baik”. Kata “terlalu” ini mengingatkan saya pada guru bahasa Inggris sewaktu saya SMP  dulu. Dalam bahasa inggris, ada kata-kata terlalu atau too  digunakan untuk menerangkan sesuatu yang berlebih. Misalnya too expensive yang berarti terlalu mahal; too bad, terlalu buruk. Kata guru saya itu,  sesuatu yang sudah memakai kata-kata too alias terlalu, seringkali condong pada konotasi negatif. Dengan kata lain berlebihan. Saat ini  sesuatu yang berlebihan ini sering disebut dengan “lebai”.

“Terlalu baik” dapat pula bermakna sikap yang lebai dan berlebihan. Sikap ini hampir sama seperti sikap terlalu toleran-nya orang tua terhadap anak-anak mereka sehingga apa yang mereka minta dipenuhi.  Dalam sikap terlalu baik, ketika harga diri diinjak-injak, kita diam. Ketika marwah digadaikan kita pasrah.  Bukan karena memiliki sikap bijaksana, tapi karena lebai. Ingin dikatakan baik, dikatakan tabah, penyabar dan lain sebagainya. Anehnya, sikap terlalu baik ini membuat beberapa tipe manusia semakin keranjingan memanfaatkan kesempatan. Semakin lebai kita menjadi baik, semakin keranjingan pula mereka menghina. Lebih ekstrem lagi ketika pemanfaatan kesempatan ini dilakukan dalam keramaian. Mereka tidak peduli tentang harga diri orang lain selama mereka masih bisa membuat orang sekitar tertawa atau lebih tepatnya menertawakan.

Dalam pada ini, teumeunak merupakan opsi terakhir agar begundal-begundal itu bisa menghargai orang lain. Di sisi lain, teumeunak merupakan ekspresi yang educative bagi beberapa  tipe manusia yang keras kepala dan tak pandai menggunakan hati. Ekspresi ini juga memberikan informasi tersirat kepada objek yang kita teumeunak-kan bahwa sikap mereka tidak sinkron dengan norma. Dengan demikian, akan muncul dalam pikiran mereka semacam pemberitahuan sekaligus kesimpulan yang elegan semisal “o… teranyata dia tidak suka kalau kita gituin” atau pun membantu mereka untuk meng-intropeksi diri “o… ternyata sikap saya sudah terlalu berlebihan”  Dengan teumeunak ini pula kita membuktikan pada para begundal bahwa kita punya marwah dan harga diri. Sama halnya seperti mereka.

Kendati teumeunak  itu perlu dalam situasi-situasi tertentu, maka janganlah sesekali melakukan teumenak terhadap orang yang baik-baik yaitu mereka yang pandai memakai hati dan tidak sembarangan dalam bersikap. Dalam kehidupan orang Aceh, terdapat sebuah filosofi yang bisa menggambarkan bagaimana sikap dan tindak-tanduk orang Aceh itu sendiri. “ Ureung Aceh nyan ureung leubeh. Meunyo ka teupeh, bu leubeh han geupeutaba. Tapi meunyo hana teupeh, boh kr*h jeut taraba.”

Maka itu berhati-hatilah agar tidak melewati batas dalam bersikap karena itu bisa merongrong harga diri orang lain. Kalau tidak, bisa-bisa anda akan keunong teunak. Wassalam…

Polem Brahim

Oleh Putra Hidayatullah

“Bertahanlah Ayah!” Aku berdiri di hadapan tubuh yang terbaring setengah kaku. Sesekali ia menatap dengan pandangan sayu, tak ada daya. Pembuluh oksigen masih melekat di hidungnya. Empat jam sekali perawat masuk mencatat sesuatu yang tak kuketahui. Terkadang memberi suntikan. 

Ayah menggerakkan bola mata perlahan ke wajah kami satu per satu. Kami berdiri di sisi ranjang yang terbuat dari aluminium itu. Perban putih membalut kepalanya. Sudah 22 hari ia terbaring di rumah sakit ini, RSU Zainal Abidin. Penyakit yang sama hadir. Tahun lalu ibuku juga meninggal. Aku curiga. Jangan-jangan penyakit ini ingin membunuh anggota keluarga kami satu per satu. 

Beberapa minggu lalu, aku bicara dengan tetanggaku, Cupo Ramlah. Awalnya ia bertanya tentang kondisi ayah dan entah mengapa tiba-tiba pembicaraan mengarah pada sesosok laki-laki tua di Gampong Meukuta. Hanya beberapa orang saja di kampungku yang tahu. Mereka memanggilnya Polem Brahim.

“Sering kudengar ia sakti. Suka memelihara jin.” Po Ramlah risih, tapi terlihat bersemangat bercerita.    

“Dulu aku pernah melihatnya dia berjalan menunduk sambil menyeret sepotong bambu  kering. Kata suamiku, itu tanda-tanda orang yang punya ilmu hitam. Tak berani lihat muka perempuan.”  Ia mencoba meyakinkan.

“Kalau dia meludah, kita harus meludah juga. Kalau tidak, iblis-iblis tak kasat mata itu bisa menggerayangi kita. Ia akan mencekik, membuat kita tersiksa berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun.” Ia tampak serius.

Seketika itu pula almarhum ibu berkelebat dalam ingatanku. Beberapa malam sebelum meninggal, ia juga sering merintih seperti ada yang mencekik. Pernah suatu ketika aku menjaganya di rumah sakit, ia berkata setengah berteriak.

“Allah… Allah… Allah…” Matanya memerah meminta belas kasih. Raut wajahnya berkerut merasakan sakit. Setiap kali begitu aku membuka Alquran dan mengulang-ngulang surat Yasin beberapa kali. Ia pun tenang dan damai. Perlahan ia terlelap selama beberapa jenak setelah cukup lama tak memejamkan mata. Empat hari kemudian, ibu pun ‘pergi’.

Ketika mendengar cerita tentang Polem Brahim itu, sarafku bekerja liar. Aku mencoba membayangkan kembali sosok itu. Lamat-lamat ia berkelabat dalam ingatan. Ia pernah ke rumah saat ibu meninggal dulu. Memakai kopiah putih dan tongkat bambu. Umurnya sekira 70 tahun. Selintas pandang ia tak seperti orang jahat. 

Tapi aku selalu percaya manusia punya seribu cara untuk menipu orang lain dengan penampilan luarnya. Semenjak sore itu, setiap kali aku membayangkan Polem Brahim, aku murka, darahku mendidih.

“Bang, cepat panggilkan dokter!” Aku tersentak dari lamunan. Kulihat ayahku bergerak-gerak ingin melepaskan infus. Ia seperti tersiksa dengan pembuluh-pembuluh buatan itu. Adikku Qafrawi dan Azizah langsung memegang tangan kanan dan tangan kirinya. Tanpa menunggu lama aku langsung berlari menuju pintu depan ruang ICU. Kubangunkan perawat yang sedang pulas di meja dengan berbantalkan kedua lengan. “Kak, ayahku, Kak.” Aku kalap.

Seketika perempuan muda itu menuju tempat ayah berbaring. Kulihat ia masih meronta  meminta dilepaskan selang infus. 

“Tidak apa-apa, dilepaskan dulu sebentar, nanti kita pasang lagi,” kata perawat. 

“Saya mau pergi,” kata Ayah, dengan nada berat. Ia terlihat lebih tenang sekarang kendati wajahnya masih pucat. Ia melepaskan sendiri selang-selang itu. 

“Saya ingin pergi.” Ayah memejamkan matanya. Membukanya lagi, lalu untuk terakhir kalinya ia pejam. Dan ia pun pergi untuk selama-lamanya. Denyut nadi telah berhenti. Di ruang ICU itu isak kami menyeruak, meraung memecah kesunyian malam.

***

Aku berlari terengah-engah. Dadaku kembang kempis.  “Dia tidak bisa juga Cek!” Aku memegang kedua lututku menopang tubuh. Wajahku pucat karena sedih dan letih. “Apa? Tidak bisa juga?” Pak Cek, adik ayahku, seakan tak percaya. “Coba kau tanya sama Pak Marwan. Dia sudah mengambil S2. Sepertinya untuk sekadar memandikan mayat, ia bisa.”

Akhir-akhir ini, mencari orang yang bisa memandikan mayat cukup susah. Sosok itu semakin langka, apalagi di kampungku. Semenjak Teungku Rasyid dan Teungku Ilyas meninggal, tidak ada lagi yang bisa meneruskan prosesi sakral itu. Aku mendesah. 

“Baiklah!”

Aku berlari lagi menyusuri lorong-lorong rumah warga yang berimpitan menuju rumah Pak Marwan. 

“Maafkan aku Dek Gam, bukan aku tak mau. Tapi aku tak bisa, tak ngerti” Aku menghela nafas putus asa. Dalam hati berkecamuk luka, amarah, dan penyesalan. “Kenapa dulu tak kau pelajari caranya. Kenapa kau tak peduli ketika teungku mengajarimu!” Aku protes pada diri sendiri. 

Kubayangkan mayat ayah yang kian tersiksa. Sejak pukul 01.35 dini hari hingga siang ini, mayatnya belum dikubur juga. Aku teringat pesan teungku dulu; mayat tak boleh lama dibiarkan. Ureung deuk peureulee keu bu, ureung meuninggai peureulee keu kubu. Petuah itu terngiang-ngiang. Tapi apa daya, tak ada yang bisa memandikannya.

“Coba kau pergi ke kampung sebelah, Dek Gam!” Pak Marwan akhirnya angkat bicara. “Di sana ada seorang yang paham agama dan biasa memandikan mayat. Namanya Tu.” 

Tanpa berpikir lama aku pulang mengambil sepeda di rumah. Aku mengayuhnya sekuat mungkin. Sesampai di sana, kutanyakan pada seorang bocah kecil berdiri setengah telanjang di pinggir jalan. Dia menunjukkan sebuah rumoh Aceh  yang sudah reot.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”

Tak berapa lama pintu berdecit. Lelaki tua keluar. Ia tersenyum ramah.     

“Ada apa Neuk, ada yang bisa saya bantu?”

Tiba-tiba aliran darahku serasa beku. Ada sesuatu bergolak kencang dalam hati dan pikiran. Seolah ada gempa, ada tsunami yang merobohkan tembok prasangkaku hingga berkeping-keping. Tangan kanannya memegang butiran tasbih. Aku baru sadar, Tu adalah panggilan lain untuk Polem Ibrahim yang selama ini kuanggap tukang sihir. Itu hanya gosip manusia awam yang tak paham. Ia seorang yang taat, seorang yang terkucilkan zaman. Oh, betapa banyak orang yang tak bisa membedakan mana bejat mana mulia. Maafkan aku Tu Brahim.

Aku menceritakan perkara yang menimpa. Menit itu juga ia langsung menuju rumahku. Ia memandikan ayah dengan telaten. Tidak hanya itu, ia menyalati, menguburkan, dan membacakan doa. 

Kini hari-hari perih itu telah berlalu. Namun, ada sesuatu dalam hati kecil yang sesekali menohok. Aku merasakan sepotong kekhawatiran. Aku gelisah.  “Jika Tu Brahim lebih dulu meninggal, siapa lagi yang akan memandikanku nanti?” 

* Penulis adalah Mahasiswa TEN IAIN Ar-Raniry, bergiat di Forum Alumni Muharram Journalism College (FAMJC) dan Komunitas Menulis Jeunurob (KMJ)


Sumber : Serambi Indonesia, 11 Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

Dengarlah Tuan

Karya Putra Hidayatullah
 
Tuan, Dengarlah!
Duduklah sejenak di atas tikar kami yang lusuh ini
Tak perlu kau membasuh kaki,
Air terjun sudah sangat deras
kami takut kau terhanyut

Tuan, sudah tahukah engkau tentang kisah usang?
Alam murung, dan langit menangis
Isi rimba sangat kecewa
Tak ada yang mendengar raung luka mereka

Sekarang lihat ke sana, Tuan,
Lihatlah bumi bersedih
Lihat itu, hutan kita beramai diperkosa, berkali-kali!
Sengaja mereka lakukan demi menukar rupiah dengan bah

Tuan, sudah tahukah engkau tentang
gaungmu yang kini pudar
Duduklah sejenak di sela pepohonan itu
Dengarkan lagi jerit satwa dan suara gergaji
Duet bunyi yang sedang mengundang maut lain
 
Tuan, kalau bisa ajarkanlah tentang kebijaksanaan 
Tentang hutan, tentang anak cucu, dan tentang kehidupan
Telinga sebagian kami telah sumbat dengan rupiah
Alangkah mulianya jika kau bisa menyinari gelap
 
Dan jika bisa begitu,  kami akan mengasihimu
Kami akan mencintaimu, Tuan
Seperti kami mencintai diri sendiri
Seperti tumbuhan yang dicintai musim semi 
 
Putra Hidayatullah
, warga Desa Ulee Gampong Gumpueng, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie



Sumber: Serambi Indonesia 4 Maret 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/03/04/dengarkanlah-tuan

Menguak Bisnis Trafficking

Oleh Putra Hidayatullah

MIRIS sekali mendengar kabar tentang dua gadis belia Aceh yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Keduanya dibawa ke Singapura, lalu dipaksa menjadi budak seks. Dua orang wanita berinisial Mi (19) dan Ay (19) diduga sebagai bagian dari gembong mucikari di negeri Kosmopolitan tersebut (Serambi Indonesia, Senin 23/1).

Sebelumnya kasus serupa juga pernah mencuat di Aceh. Aparat kepolisian Aceh Utara berhasil menangkap beberapa orang yang diduga menjadi pelaku. Seorang korban yang dibawa ke Malaysia mengirimkan sms kepada orang tuanya bahwa dia telah dijual dan dipekerjakan dengan tanpa gaji. Drama nyata perdagangan manusia ini memang bukan lagi persoalan baru. Ada beberapa kasus yang berhasil terkuak dan ada yang berjalan mulus tanpa hambatan. 

Victor Malarek, seorang wartawan investigasi Kanada menuliskan dalam bukunya The Natashas: The New Global Sex Trade, tentang bagaimana seluk beluk dan proses trafficking ini terjadi. Secara garis besar, bentuk akhir dari human trafficking adalah perbudakan, pelacuran, dan kerja paksa. Praktik ini bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang cukup menggiurkan. 

Peringkat ketiga
Tercatat bahwa bisnis perdagangan manusia menduduki peringkat ketiga di dunia setelah perdagangan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang. Dari seorang perempuan yang dieksplotasi, seorang mucikari bisa memperoleh keuntungan antara 75.000 hingga 250.000 dollar atau laba sekitar Rp 75.000.000 hingga Rp 250.000.000 dalam setahun.  

Dalam buku yang sama dikutip pernyataan Willy W Bruggeman, agen intelijen polisi Uni Eropa, bahwa keuntungan yang didapatkan oleh para gembong perdagangan manusia seluruh dunia bisa mencapai 12 milyar euro per tahun. 

Setidaknya ada empat gelombang besar dari jaringan perdagangan manusia di dunia. Victor menyebutkan bahwa gelombang jaringan terbaru beranjak dari Eropa Timur dan Eropa Tengah (The Fourth Wave), tepatnya pascaruntuhnya Uni Soviet sekitar tahun 1991. Setelah itu perlahan menjalar ke hampir seluruh negara-negara Asia dan Amerika.

Setelah Uni Soviet pecah dan terbentuk beberapa negara kecil, muncul ketidakberesan dalam pemerintahan, seperti banyaknya pejabat yang korup, budaya suap menyuap, serta birokrasi yang kacau, ternyata berpengaruh pula pada kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam negatif pun muncul dalam kehidupan keluarga, banyak lelaki mabuk-mabukan, dan terlibat kriminal karena lapangan kerja yang tidak jelas.

Melihat kenyataan itu, lalu muncul sekelompok orang yang memanfaatkan gejala. Mereka menawarkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri terutama bagi perempuan. Profesi yang ditawarkan beragam, mulai dari pelayan restoran, kasir, cleaning service, pekerja perusahaan dan sebagainya. Para korban dijanjikan untuk diberikan fasilitas yang lengkap dan gaji yang tinggi. 

Di tempat pendaftaran tersebut para “perekrut” memilih mana yang lebih berpenampilan menarik dan layak. Terkadang iklan-iklan tersebut ikut menempelkan logo resmi negara semisal daun mapel jika negara yang dituju adalah Kanada. Ini dilakukan supaya para pendaftar menjadi lebih yakin dan percaya.

Budak seks
Setelah urusan administrasi keberangkatan dan tiba di negara tujuan, para perempuan itu dijual kepada penadah dan digunakan sebagai “mesin” pendulang uang. Seketika itu pula, perempuan-perempuan itu dipaksa menjadi budak seks. 

Mereka diwajibkan melayani klien sebanyak-banyaknya agar cepat menghasilkan uang banyak. Seperti diungkapkan oleh seorang mafia sindikat trafficking: “Kamu bisa membeli satu perempuan seharga 10.000 dollar dan uangmu akan kembali dalam seminggu kalau dia muda dan cantik. Sesudahnya tinggal meraup untung.”

Korban trafficking ini akan dibebaskan oleh si “tuan” jika berhasil menggantikan modal (uang) yang dikeluarkan ditambah keuntungan dengan jumlah tertentu. Dalam praktik trafficking, pelaku mengharuskan perempuan-perempuan yang dibelinya segera mengembalikan uang yang telah dikeluarkannya dengan melakukan prostitusi. 

Banyak sekali penderitaan yang dialami oleh seorang korban kasus ini. Tidak hanya mengalami tekanan dari “tuan” yang telah membeli mereka, tetapi juga mengalami kerusakan organ biologis, kecanduan alcohol, trauma, terinfeksi virus dan penyakit berbahaya lainnya. Di samping mereka juga mendapat stigma negatif dari masyarakat. 

Para korban trafficking umumnya dengan mudah bisa dikelabui karena beberapa faktor. Di antaranya karena kurangnya keterampilan dan pendidikan dalam diri individu. Hal ini bisa diperparah lagi dengan himpitan ekonomi dalam keluarga yang membuat calon-calon korban baru lupa dan tidak belajar dari kenyataan-kenyataan yang pernah  terjadi.

Solusi
Karena bisnis ini menggiurkan, sepertinya tidak ada negara mana pun yang aman dari praktik trafficking. Bisa jadi yang terjadi di Aceh adalah fenomena gunung es. Artinya, yang baru terlihat hanya satu kasus saja dan tak mustahil banyak kasus serupa lainnya yang belum terungkap. 

Adanya beberapa jejaring sosial semisal facebook, twitter, dan lainnya semakin mempermudah para pelaku dalam menggaet korban. Untuk itu kita berharap pihak kepolisian bisa mengani kasus ini hingga ke akar-akarnya. Setiap iklan-iklan yang menggiurkan dan berbau trafficking harus benar-benar diawasi. Juga, memastikan bahwa tidak ada dari jajarannya yang disawer



Sumber: Serambi Indonesia 25 Januari 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/01/25/menguak-bisnis-trafficking#.Tx-vzCJpc4k.facebook

Costa Concordia

Karya Putra Hidayatullah
 
Concordia, kau sungguh cantik
Tuan-tuan mana yang tak tergoda
Melihat tubuhmu meliuk di punggung samudera
Air liur anak negeri pun mericik
 
Di kolong langit, engkau mesra ditating ombak
Angin laut  menjalar
Pelita-pelita kecil itu lalu merebak
Samudera  tiba-tiba menjadi liar
 
Langit tenang menatap saja
Riuh pekik melengking tak terkata  
Ternyata kemewahan itu tak abadi
Bisa hanyut, menggulung bak tsunami
 
Putra Hidayatullah
, mahasiswa TEN dan alumnus MJC; bergiat di Komunitas Menulis Jeunurob


Sumber: Serambi Indonesia 22 Januari 2012 

Rabu, 15 Februari 2012

Menyoal Independensi Media

 Meski tidak sepenuhnya percaya media, saya masih menganggap bahwa masih ada jurnalis yang bekerja dengan nurani dan mewakili rakyat yang lemah. Hal ini berbeda dengan media. Walau pun wartawan bekerja untuk media, tapi media tidak sepenuh dapat dipercaya. Kebanyakan media tidak ada yang independent. Bahkan seorang penulis menyebutkan bahwa tidak ada media yang betul-betul independen alias tidak bergantung pada kepentingan politik suatu golongan.

Beberapa orang yang bergelut dalam bidang politik atau bisa disebut dengan politisi itu sendiri ada yang mendirikan media sebagai rodanya untuk mendapat kekuasaan. Di Indonesia misalnya, ada beberapa media seperti TV One, Metro TV, dan beberapa stasiun lainnya yang merupakan tangan-tangan dari politisi besar di negeri ini. 

Lantas ada apa dengan ini? dengan adanya media yang seperti ini, maka kemungkinan bisar, kalau tidak mau dikatakan pasti, setiap isu yang diangkat dalam media tersebut adalah yang berkenaan dengan kepentingan politik partai dan kroninya. Bisa pula digembar-gembor tingkat kegagalan pemerintahan yang sedang menjabat. Ini dilakukan sebagai upaya balas dendam atau rasa tidak senang pihak-pihak yang mungkin belum beruntung pada masa-masa pemilu dulu. Dan beginilah realita politik negara kita. Prinsip "tidak ada teman sejati yang ada adalah kepentingan abadi" begitu kental terpelihara. Jika itu bersinggungan dengan kepentingan, maka teman bisa saja dijegal.

Pada pelatihan ketahanan nasional pemuda tahun lalu, wakil DPR RI, Bambang Priyo Santoso menyebutkan bahwa gelombang kekuatan besar saat ini ada di media. Bahkan presiden sendiri tidak mampu menaklukkan media. Bicara politik adalah bicara tentang kekuatan. Upaya menuju ke kekuasaan itu membutuhkan kekuatan. Kekuatan awal ini menjadi modal utama untuk memperoleh kekuatan-kekuatan besar nantinya setelah memegang tampuk kekuasaan. Mereka akan mampu mengontrol kebijakan-kebijakan yang kemungkinan dijadikan sebagai jalan untuk membayar hutang-hutang semasa kampanye. Di sinilah keuntungan memiliki media. Selain menjadi roda yang memiliki kekuatan mengontrol opini publik, ia juga menjadi ladang bisnis para konglomerat politik ini. 

Media khususnya televisi adalah alat yang paling mujarab untuk kampanye dan propaganda. Beberapa ahli propaganda mengatakan bahwa buku dan film adalah dua alat proganda yang paling luar biasa. Ini tentunya tergantung juga pada pasar. Pasarlah yang menentukan mana yang paling mujarab dan mana yang kurang. Di Indonesia, rata-rata rakyatnya menyukai televisi. Hampir bisa dikatakan bahwa tidak ada rumah yang tidak ada televisi. Dengan memiliki media televisi, maka propaganda-propaganda dengan mudah bisa digencarkan.

Dan itulah media. Semenjak era reformasi, media dan pers bisa dijalankan oleh siapa pun yang memiliki modal. Kebijakan ini merupakan hal yang menguntungkan para politisi kaya. Mereka bisa membuka media-media baru yang selain menghasilkan uang, juga menjadi alat kampanye. Ada sebuah siaran televisi yang ketika sang pemilik modalnya melakukan suatu agenda atau kegiatan, maka ia akan disorot lebih lama dan lebih sering ketimbang sosok-sosok lain. Walhasil, isu yang diangkat pun bisa menjadi isu yang menyangkut kepentingannya saja, bukan kepentingan rakyat. Inilah alasannya mengapa media tidak selamanya bisa dipercaya.[]

Sabtu, 28 Januari 2012

Belajar Menulis

Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Itu kata kata guru saya pada suatu hari. Waktu itu adalah hari-hari yang sulit, bahkan sampai hari ini pun sebenarnya masih terasa sulit. Bukanlah perkara mudah menyusun kata demi kata, merangkai  kalimat menjadi paragraf apalagi jika harus berakhir menjadi sebuah tulisan yang lengkap dengan segala unsur seperti koheren, sistematis, runut dan sebagainya. Sulit sekali! Tidak jarang frustrasi muncul terus menerus. Kalau menulis di kertas, maka tong sampah bisa penuh karena tulisan-tulisan yang salah terpaksa kita buang. Hal seperti ini adalah ilustrasi klasik bagi seorang yang sudah menjadi penulis dan merupakan awan gelap bagi penulis pemula seperti saya.

Kesulitan-kesulitan inilah yang membuat seorang penulis sukses itu menjadi terhormat khususnya di mata orang-orang yang belum bisa menulis. Dia telah berhasil menghancurkan mental block atau pun penghalang dalam dirinya. Kalau seandainya kita ber-analogi, pikiran kita itu tidak berbeda dengan sebuah bendungan beton besar. Supaya air bisa mengalir lancar, maka bendungan itu harus dibuka atau bila perlu dihancurkan. Satu hal yang pasti adalah perjuangan yang berdarah-darah untuk menghancurkan tembok-tembok besar penghalang itu. Setidaknya begitulah gambaran tentang pikiran. Untuk mengalirkan ide-ide, maka kebekuan harus dihancurkan, tentunya dengan latihan yang tak kenal lelah.

Pada kesempatan lain, Ampuh Devayan, seorang penulis yang pernah mengajari kami, sempat mengatakan hal yang sampai hari ini masih selalu saya ingat, “Menulis itu tidak enteng meski yang kita tulis itu adalah yang enteng-enteng”. Saya setuju sekali. Untuk menulis tentang air dalam gelas saja bisa butuh waktu yang lama. Kalimat-kalimat yang yang kami tulis banyak sekali salah. Seperti waktu itu, beliau menggambarkan sebuah gelas yang terisi 50% air pada selembar kertas plano. Masing-masing kami disuruh maju ke depan untuk menggambarkan hal tersebut dalam kata-kata. Ada yang menulis, “air dalam gelas berisi setengah”, “setengah gelas berisi air”, “air dalam gelas itu kurang setengah” dan lain-lain. Ternyata, semua kalimat-kalimat itu kurang tepat. Akhirnya Ampuh menulis sebuah kalimat kalimat lain yang lebih bagus, “Gelas berisi separuh air”. Inilah contoh-contoh kecil betapa menulis itu tidak enteng meski yang kita tulis adalah yang enteng-enteng.

Bagi saya pribadi, menulis itu tak ubahnya seperti pekerja bangunan. Satu demi-satu kita menyusun batu bata. Perlahan-lahan dengan sabar dan telaten akhirnya berwujud istana. Tidak hanya diperlukan bata, namun perlu pengetahuan tentang pola dan gambaran awal seperti apa rumah yang akan dibangun. Bukan itu saja, lelahnya juga tidak jauh berbeda. Kalau pekerja bangunan lelah fisik, maka penulis itu lelah jiwa dan raga, lelah pikiran dan perasaan. Namun semua itu harus bisa ditaklukkan.

Dalam novel Ranah 3 Warna, karya A. Fuadi, (kalau tidak salah, halaman 145) saya bisa merasakan bagaimana seorang Alif berjuang mati-matian untuk bisa menulis sebuah artikel. Bang Togar, gurunya yang kejam dan sangar, tidak melunturkan semangatnya untuk belajar dan terus belajar. Menulis itu ternyata perlu perjuangan yang berdarah-darah.

Saya sendiri baru saja belajar menulis. Beberapa opini dan puisi saya sudah dimuat di media lokal. Namun, saya merasa seperti semakin bodoh saja. Seringkali kehilangan kata-kata, tidak ada ide, susunan pokok permasalahan yang tidak runut. Melelahkan. Biasanya, kalau sedang tak ada ide, saya akan menulis tentang menulis. Yah, seperti yang sedang saya lakukan ini; karena mengingat “Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Kalau begitu, saya padai di sini dulu ya! Nanti saya tulis lagi. Terimakasih sudah membaca tulisan ini! []

Senin, 09 Januari 2012

Sebiji Selongsong

















Karya  Putra Hidayatullah (Sumber : Serambi Indonesia, 8 Januari 2012)


Sebiji selongsong
Kosong melompong
Telunjuk kasar tarik pelatuk, sombong
Tubuh-tubuh kaku lalu digotong
 
Kosong melompong
Dua butir selongsong
Di tengah tawa nyawa ditodong
Nun jauh, hati anak-istri ikut  terpotong-potong
 
Kosong melompong
Tiga selongsong
Senapan menyalak, manusia tak tertolong
Selongsong, serigala malam tak jua lelah melonglong
 
RSU Zainoel Abidin,  5 Januari 2011