-------

Rabu, 04 April 2012

Sudut Pandang



Saya tertarik dengan blog seorang teman. Nama blognya Sudut Pandang. Sudut pandang menurut saya menarik untuk dibahas karena ia sebuah piranti yang mempengaruhi persepsi dan keputusan seseorang terhadap suatu hal. Kita sering melihat sebuah objek sama namun dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Contohnya saja mengenai kenaikan BBM. Sebagian orang setuju dan sebagian lain menolak. Masing-masing mereka memiliki sudut pandang tersendiri.

Berbicara masalah sudut pandang ini, ada beberapa orang yang bisa memiliki sudut pandang yang luar biasa dan berbeda dengan khalayak ramai. Umumnya mereka ini adalah orang-orang yang memperhatikan sesuatu secara menyeluruh hingga detil. Katakanlah seperti sudut pandang Newton terhadap buah apel yang jatuh. Di dunia ini ada banyak sekali orang yang telah melihat apel jatuh. Tapi sedikit yang memiliki sudut pandang yang tak biasa (termasuk saya). Hanya sedikit yang berhasil merumuskan sebuah konsep besar dari sebuah peristiwa yang sederhana seperti lahirnya hukum Newton. Salah satu thesisnya adalah “…and to every action there is always an equal and opposite reaction” (…dan dalam setiap aksi itu pasti ada reaksi; yang sesuai atau berlawanan/positif atau negatif)

Contoh lainnya adalah seperti yang dikatakan oleh pengarang novel Hafalan Shalat Delisa, Tere Liye. Dalam sebuah pelatihan tulis-menulis yang saya ikuti beberapa bulan lalu, penulis yang memiliki nama asli Darwis ini mengatakan bahwa ada banyak sekali novel-novel bertema cinta yang bertadang di toko buku tapi tidak bisa ‘meledak’ seperti novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lainnya. Mengapa demikian? Salah satu alasan menurutnya adalah karena penulisnya, Habiburrahman Elshirazy, memiliki sudut pandang yang unik dan lebih hebat terhadap cinta dari pada penulis-penulis lain.

Dalam kehidupan sosial, ada banyak sekali sudut pandang manusia terhadap segala hal. Karena itu banyak pula lahir perbedaan-perbedaan interpretasi. Untuk melihat perbedaan sudut padang, saya tertarik dengan  kutipan dari esai Prof. Teuku Jacob, seorang ahli antropologi ragawi dari UGM yang tulisannya dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat tahun 1998 (konon esai ini juga terangkum dalam buku "Tahun-Tahun yang Sulit : Mari Mencintai Indonesia” diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2001, tapi saya belum membacanya). Diawali dengan sebuah pertanyaan ini, “Mengapa Kambing Menyeberang Jalan?”
 
Maka beberapa ‘ahli’ yang berkecimpung di bidangnya pun memberi jawaban, 

Ahli demografi :  "Meningkatnya kepadatan populasi di satu sisi memicu
beberapa kambing secara selektif pindah ke sisi lain yang tekanan
demografinya lebih rendah."

Pakar migrasi : "Di seberang, rumput lebih hijau dan kambing ingin mencoba
nasibnya di sana."

Ahli evolusi : "Ia ingin pindah ke relung ekologis yang lain untuk bertahan
hidup."

Pakar mutasi : "Ia tidak menyeberang, tetapi melompat-lompat ke seberang
jalan."

Ahli genetika : "Ia membuktikan bahwa makhluk hidup itu memang egois yang
berpuncak pada gennya."

Ahli meteorologi : "Ia pikir di seberang tidak hujan."

Ahli astrofisika : "Untuk menghindari dampak meteor."

Ahli vulkanologi : "Tanda-tanda gunung api akan meletus."

Pengusaha hutan : "Ia melarikan diri dari kebakaran hutan."

Ahli matematika : "Ia ingin membentuk himpunan baru."

Ahli filsafat : "Ia tak puas lagi dengan dengan paradigma lama."

Penganut kepercayaan : "Ada kekuatan gaib yang menggerakkannya ke seberang."


Calon doktor : "Ia hendak membuktikan salah satu hipotesis bahwa kambing
tidak berani menyeberang jalan."

Pejabat : "Harus diwaspadai, mungkin ia anti pembangunan."

LSM : "Ia bermaksud mencari suaka karena tidak dapat membuktikan bahwa bahwa
ia bukan kambing hitam."

Politikus : "Memang dasar kutu loncat."

Ideolog : "Terbukti bahwa kambing itu liberal."

Pakar hak-hak asasi : "Di sebelah sini cukup makan, tetapi tidak bebas
mengembek, sedangkan di seberang sana bebas mengembek meski tak cukup
makan."

Ahli hukum : "Tidak ada rambu jalan yang melarangnya menyeberang."

Pedagang kaki lima : "Ada bau kereta tukang sate yang mendekat."

Pembantai : "Kambing boleh menyeberang ke mana saja, tetapi hidupnya akan
berakhir di bawah doa dan parang saya."

Penimbun pangan : "Ia sangka rumput di sini akan segera habis."

Wartawan : "Kambing menyeberang jalan bukan berita, kecuali kalau ia milik
pejabat atau artis."

Ahli psikologi : "Karena terkejut oleh klakson mobil, ia jadi panik dan
salah ambil keputusan."

Ahli sejarah : "Sejak jalan ada, kambing sudah menyeberang jalan."

Kritikus sastra : "Ia agak jalang, dan ingin lari dari gerombolannya yang
terbuang."

Ahli statistik : "Seekor kambing dan sebuah jalan adalah indikator yang
terlalu kecil sehingga tak perlu didiskusikan."

Ahli ekonomi : "Mengapa buang waktu dan energi memperbincangkan kambing
menyeberang jalan, yang penting berapa harga kambing sekarang dalam dolar."

Kaum realis : "Kambing itu menyeberang karena ingin berada di sisi yang
lain, terlepas dari rumput di sana lebih hijau atau tidak."

Jawaban-jawaban di atas menunjukkan betapa beragamnya persepsi seseorang terhadap hal tertentu. Tidak jarang, perbedaan-perbedaan ini melahirkan benturan-benturan yang bersifat saling menyerang. Ada sebuah analogi  yang elegan untuk ini. Kita ambil saja sebuah angka yaitu angka 6. Dilihat dari sisi berlawanan, maka ia akan berubah menjadi angka 9. Maka dalam permasalahan sudut pandang ini beberapa orang akan bersikuh dan berjuang mati-matian untuk membenarkan bahwa itu adalah angka 9. Sementara yang lain akan melakukan hal yang sama dengan mengatakan bahwa itu adalah angka 6. Hanya karena persoalan kecil itu, bentrokan terjadi. Dan hal sejenis ini sering kita temukan di sekeliling kita.

Di negara sekaliber Indonesia, keluwesan sudut pandang menjadi sangat penting. Negara  ini terdiri dari 300 kelompok etnik dengan ratusan bahasa. Tak pelak kita dihadapkan pada sebuah kenyataan dimana perbedaan-perbedaan tumbuh subur. Apa jadinya jika kita hanya bersikukuh pada satu sudut pandang sempit untuk memahami sedemikian luasnya keberagaman ini.

               Disebutkan bahwa manajemen yang paling fundamental dalam hidup adalah manajemen perbedaan. Manajemen perbedaan ini juga dipengaruhi oleh sudut pandang terhadap perbedaan itu sendiri. Maka untuk menyatukan itu, perlu keluwesan sikap yang dicerminkan dalam kesediaan untuk bermusyawarah bukan saling menodong dan saling memvonis. Itulah mengapa ada perintah, “bermusyawarahlah kamu dalam setiap urusan”.

Wassalam.

Ilustrasi: Google

Senin, 02 April 2012

Teumeunak



            Tidak seperti kebanyakan kata lain, teumeunak adalah kata yang memiliki power dan aura. Kata ini mengandung unsur yang bisa merepresentasikan kepribadian  seseorang seperti kuat, berani, tegas, lantang, sampai pada amoral. Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata yang akurat semisal radio, kursi, kakak atau lainnya yang dapat mewakili kata teumeunak. Untuk mencapai pada makna teumeunak yang sejati, kita bisa mengaitkannya dengan beberapa kata lain yang sebangsa dengan teumeunak seperti kata menggertak, mencaci, membentak, dan menusuk (dengan kata-kata).

Selain teumeunak, kata lain yang hampir serupa adalah semeuseup. Dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, kedua kata tersebut adalah bagian yang tak dapat dipisahkan. Di satu sisi, ini dikarenakan karakter orang aceh yang cenderung keras dan frontal terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini dan diinginkannya.

Teumeunak ini biasa dilakukan oleh orang dewasa karena ‘pekerjaan’ ini terlalu kasar bila dilakukan oleh anak-anak. Tidak jarang anak-anak yang sempat mengucapkan kata-kata ini akan kena jewer oleh orang tua atau gurunya. Sementara orang dewasa, hampir tidak ada yang berani memberi sanksi kepada mereka. Dalam beberapa lini, orang dewasa memang memiliki ruang-ruang istimewa atau privilege Karena itulah semenjak kecil saya ingin cepat-cepat jadi orang dewasa.

Kembali pada teumeunak. Walau pun perbuatan ini dianggap negatif, dalam beberapa kondisi teumeunak adalah skill yang penting untuk dipelajari. Seperti bagaimana diksi (pemilihan kata) yang tepat untuk membuat teumeunak kita menjadi benar-benar berasa lebih dan lebih berasa.

Mengapa teumeunak itu perlu? Salah satu alasannya adalah supaya harga diri seorang individu bisa tetap survive dalam kondisi tertentu. Sehingga apa yang disebut dengan pembunuhan karakter tidak dengan mudahnya terjadi. Kita tidak dapat memungkiri bahwa dalam kehidupan sosial ada beberapa tipe manusia yang kebal nasehat. Setiap peringatan yang disampaikan dengan cara-cara halus malah membuat mereka semakin keranjingan melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti mengejek, menertawakan dan memandang rendah.

Ada sebuah kutipan yang saya simpulkan dari pengalaman-pengalaman yang saya alami, bahwasanya “terlalu baik itu tidak baik”. Kata “terlalu” ini mengingatkan saya pada guru bahasa Inggris sewaktu saya SMP  dulu. Dalam bahasa inggris, ada kata-kata terlalu atau too  digunakan untuk menerangkan sesuatu yang berlebih. Misalnya too expensive yang berarti terlalu mahal; too bad, terlalu buruk. Kata guru saya itu,  sesuatu yang sudah memakai kata-kata too alias terlalu, seringkali condong pada konotasi negatif. Dengan kata lain berlebihan. Saat ini  sesuatu yang berlebihan ini sering disebut dengan “lebai”.

“Terlalu baik” dapat pula bermakna sikap yang lebai dan berlebihan. Sikap ini hampir sama seperti sikap terlalu toleran-nya orang tua terhadap anak-anak mereka sehingga apa yang mereka minta dipenuhi.  Dalam sikap terlalu baik, ketika harga diri diinjak-injak, kita diam. Ketika marwah digadaikan kita pasrah.  Bukan karena memiliki sikap bijaksana, tapi karena lebai. Ingin dikatakan baik, dikatakan tabah, penyabar dan lain sebagainya. Anehnya, sikap terlalu baik ini membuat beberapa tipe manusia semakin keranjingan memanfaatkan kesempatan. Semakin lebai kita menjadi baik, semakin keranjingan pula mereka menghina. Lebih ekstrem lagi ketika pemanfaatan kesempatan ini dilakukan dalam keramaian. Mereka tidak peduli tentang harga diri orang lain selama mereka masih bisa membuat orang sekitar tertawa atau lebih tepatnya menertawakan.

Dalam pada ini, teumeunak merupakan opsi terakhir agar begundal-begundal itu bisa menghargai orang lain. Di sisi lain, teumeunak merupakan ekspresi yang educative bagi beberapa  tipe manusia yang keras kepala dan tak pandai menggunakan hati. Ekspresi ini juga memberikan informasi tersirat kepada objek yang kita teumeunak-kan bahwa sikap mereka tidak sinkron dengan norma. Dengan demikian, akan muncul dalam pikiran mereka semacam pemberitahuan sekaligus kesimpulan yang elegan semisal “o… teranyata dia tidak suka kalau kita gituin” atau pun membantu mereka untuk meng-intropeksi diri “o… ternyata sikap saya sudah terlalu berlebihan”  Dengan teumeunak ini pula kita membuktikan pada para begundal bahwa kita punya marwah dan harga diri. Sama halnya seperti mereka.

Kendati teumeunak  itu perlu dalam situasi-situasi tertentu, maka janganlah sesekali melakukan teumenak terhadap orang yang baik-baik yaitu mereka yang pandai memakai hati dan tidak sembarangan dalam bersikap. Dalam kehidupan orang Aceh, terdapat sebuah filosofi yang bisa menggambarkan bagaimana sikap dan tindak-tanduk orang Aceh itu sendiri. “ Ureung Aceh nyan ureung leubeh. Meunyo ka teupeh, bu leubeh han geupeutaba. Tapi meunyo hana teupeh, boh kr*h jeut taraba.”

Maka itu berhati-hatilah agar tidak melewati batas dalam bersikap karena itu bisa merongrong harga diri orang lain. Kalau tidak, bisa-bisa anda akan keunong teunak. Wassalam…

Polem Brahim

Oleh Putra Hidayatullah

“Bertahanlah Ayah!” Aku berdiri di hadapan tubuh yang terbaring setengah kaku. Sesekali ia menatap dengan pandangan sayu, tak ada daya. Pembuluh oksigen masih melekat di hidungnya. Empat jam sekali perawat masuk mencatat sesuatu yang tak kuketahui. Terkadang memberi suntikan. 

Ayah menggerakkan bola mata perlahan ke wajah kami satu per satu. Kami berdiri di sisi ranjang yang terbuat dari aluminium itu. Perban putih membalut kepalanya. Sudah 22 hari ia terbaring di rumah sakit ini, RSU Zainal Abidin. Penyakit yang sama hadir. Tahun lalu ibuku juga meninggal. Aku curiga. Jangan-jangan penyakit ini ingin membunuh anggota keluarga kami satu per satu. 

Beberapa minggu lalu, aku bicara dengan tetanggaku, Cupo Ramlah. Awalnya ia bertanya tentang kondisi ayah dan entah mengapa tiba-tiba pembicaraan mengarah pada sesosok laki-laki tua di Gampong Meukuta. Hanya beberapa orang saja di kampungku yang tahu. Mereka memanggilnya Polem Brahim.

“Sering kudengar ia sakti. Suka memelihara jin.” Po Ramlah risih, tapi terlihat bersemangat bercerita.    

“Dulu aku pernah melihatnya dia berjalan menunduk sambil menyeret sepotong bambu  kering. Kata suamiku, itu tanda-tanda orang yang punya ilmu hitam. Tak berani lihat muka perempuan.”  Ia mencoba meyakinkan.

“Kalau dia meludah, kita harus meludah juga. Kalau tidak, iblis-iblis tak kasat mata itu bisa menggerayangi kita. Ia akan mencekik, membuat kita tersiksa berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun.” Ia tampak serius.

Seketika itu pula almarhum ibu berkelebat dalam ingatanku. Beberapa malam sebelum meninggal, ia juga sering merintih seperti ada yang mencekik. Pernah suatu ketika aku menjaganya di rumah sakit, ia berkata setengah berteriak.

“Allah… Allah… Allah…” Matanya memerah meminta belas kasih. Raut wajahnya berkerut merasakan sakit. Setiap kali begitu aku membuka Alquran dan mengulang-ngulang surat Yasin beberapa kali. Ia pun tenang dan damai. Perlahan ia terlelap selama beberapa jenak setelah cukup lama tak memejamkan mata. Empat hari kemudian, ibu pun ‘pergi’.

Ketika mendengar cerita tentang Polem Brahim itu, sarafku bekerja liar. Aku mencoba membayangkan kembali sosok itu. Lamat-lamat ia berkelabat dalam ingatan. Ia pernah ke rumah saat ibu meninggal dulu. Memakai kopiah putih dan tongkat bambu. Umurnya sekira 70 tahun. Selintas pandang ia tak seperti orang jahat. 

Tapi aku selalu percaya manusia punya seribu cara untuk menipu orang lain dengan penampilan luarnya. Semenjak sore itu, setiap kali aku membayangkan Polem Brahim, aku murka, darahku mendidih.

“Bang, cepat panggilkan dokter!” Aku tersentak dari lamunan. Kulihat ayahku bergerak-gerak ingin melepaskan infus. Ia seperti tersiksa dengan pembuluh-pembuluh buatan itu. Adikku Qafrawi dan Azizah langsung memegang tangan kanan dan tangan kirinya. Tanpa menunggu lama aku langsung berlari menuju pintu depan ruang ICU. Kubangunkan perawat yang sedang pulas di meja dengan berbantalkan kedua lengan. “Kak, ayahku, Kak.” Aku kalap.

Seketika perempuan muda itu menuju tempat ayah berbaring. Kulihat ia masih meronta  meminta dilepaskan selang infus. 

“Tidak apa-apa, dilepaskan dulu sebentar, nanti kita pasang lagi,” kata perawat. 

“Saya mau pergi,” kata Ayah, dengan nada berat. Ia terlihat lebih tenang sekarang kendati wajahnya masih pucat. Ia melepaskan sendiri selang-selang itu. 

“Saya ingin pergi.” Ayah memejamkan matanya. Membukanya lagi, lalu untuk terakhir kalinya ia pejam. Dan ia pun pergi untuk selama-lamanya. Denyut nadi telah berhenti. Di ruang ICU itu isak kami menyeruak, meraung memecah kesunyian malam.

***

Aku berlari terengah-engah. Dadaku kembang kempis.  “Dia tidak bisa juga Cek!” Aku memegang kedua lututku menopang tubuh. Wajahku pucat karena sedih dan letih. “Apa? Tidak bisa juga?” Pak Cek, adik ayahku, seakan tak percaya. “Coba kau tanya sama Pak Marwan. Dia sudah mengambil S2. Sepertinya untuk sekadar memandikan mayat, ia bisa.”

Akhir-akhir ini, mencari orang yang bisa memandikan mayat cukup susah. Sosok itu semakin langka, apalagi di kampungku. Semenjak Teungku Rasyid dan Teungku Ilyas meninggal, tidak ada lagi yang bisa meneruskan prosesi sakral itu. Aku mendesah. 

“Baiklah!”

Aku berlari lagi menyusuri lorong-lorong rumah warga yang berimpitan menuju rumah Pak Marwan. 

“Maafkan aku Dek Gam, bukan aku tak mau. Tapi aku tak bisa, tak ngerti” Aku menghela nafas putus asa. Dalam hati berkecamuk luka, amarah, dan penyesalan. “Kenapa dulu tak kau pelajari caranya. Kenapa kau tak peduli ketika teungku mengajarimu!” Aku protes pada diri sendiri. 

Kubayangkan mayat ayah yang kian tersiksa. Sejak pukul 01.35 dini hari hingga siang ini, mayatnya belum dikubur juga. Aku teringat pesan teungku dulu; mayat tak boleh lama dibiarkan. Ureung deuk peureulee keu bu, ureung meuninggai peureulee keu kubu. Petuah itu terngiang-ngiang. Tapi apa daya, tak ada yang bisa memandikannya.

“Coba kau pergi ke kampung sebelah, Dek Gam!” Pak Marwan akhirnya angkat bicara. “Di sana ada seorang yang paham agama dan biasa memandikan mayat. Namanya Tu.” 

Tanpa berpikir lama aku pulang mengambil sepeda di rumah. Aku mengayuhnya sekuat mungkin. Sesampai di sana, kutanyakan pada seorang bocah kecil berdiri setengah telanjang di pinggir jalan. Dia menunjukkan sebuah rumoh Aceh  yang sudah reot.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”

Tak berapa lama pintu berdecit. Lelaki tua keluar. Ia tersenyum ramah.     

“Ada apa Neuk, ada yang bisa saya bantu?”

Tiba-tiba aliran darahku serasa beku. Ada sesuatu bergolak kencang dalam hati dan pikiran. Seolah ada gempa, ada tsunami yang merobohkan tembok prasangkaku hingga berkeping-keping. Tangan kanannya memegang butiran tasbih. Aku baru sadar, Tu adalah panggilan lain untuk Polem Ibrahim yang selama ini kuanggap tukang sihir. Itu hanya gosip manusia awam yang tak paham. Ia seorang yang taat, seorang yang terkucilkan zaman. Oh, betapa banyak orang yang tak bisa membedakan mana bejat mana mulia. Maafkan aku Tu Brahim.

Aku menceritakan perkara yang menimpa. Menit itu juga ia langsung menuju rumahku. Ia memandikan ayah dengan telaten. Tidak hanya itu, ia menyalati, menguburkan, dan membacakan doa. 

Kini hari-hari perih itu telah berlalu. Namun, ada sesuatu dalam hati kecil yang sesekali menohok. Aku merasakan sepotong kekhawatiran. Aku gelisah.  “Jika Tu Brahim lebih dulu meninggal, siapa lagi yang akan memandikanku nanti?” 

* Penulis adalah Mahasiswa TEN IAIN Ar-Raniry, bergiat di Forum Alumni Muharram Journalism College (FAMJC) dan Komunitas Menulis Jeunurob (KMJ)


Sumber : Serambi Indonesia, 11 Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

Dengarlah Tuan

Karya Putra Hidayatullah
 
Tuan, Dengarlah!
Duduklah sejenak di atas tikar kami yang lusuh ini
Tak perlu kau membasuh kaki,
Air terjun sudah sangat deras
kami takut kau terhanyut

Tuan, sudah tahukah engkau tentang kisah usang?
Alam murung, dan langit menangis
Isi rimba sangat kecewa
Tak ada yang mendengar raung luka mereka

Sekarang lihat ke sana, Tuan,
Lihatlah bumi bersedih
Lihat itu, hutan kita beramai diperkosa, berkali-kali!
Sengaja mereka lakukan demi menukar rupiah dengan bah

Tuan, sudah tahukah engkau tentang
gaungmu yang kini pudar
Duduklah sejenak di sela pepohonan itu
Dengarkan lagi jerit satwa dan suara gergaji
Duet bunyi yang sedang mengundang maut lain
 
Tuan, kalau bisa ajarkanlah tentang kebijaksanaan 
Tentang hutan, tentang anak cucu, dan tentang kehidupan
Telinga sebagian kami telah sumbat dengan rupiah
Alangkah mulianya jika kau bisa menyinari gelap
 
Dan jika bisa begitu,  kami akan mengasihimu
Kami akan mencintaimu, Tuan
Seperti kami mencintai diri sendiri
Seperti tumbuhan yang dicintai musim semi 
 
Putra Hidayatullah
, warga Desa Ulee Gampong Gumpueng, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie



Sumber: Serambi Indonesia 4 Maret 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/03/04/dengarkanlah-tuan

Menguak Bisnis Trafficking

Oleh Putra Hidayatullah

MIRIS sekali mendengar kabar tentang dua gadis belia Aceh yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Keduanya dibawa ke Singapura, lalu dipaksa menjadi budak seks. Dua orang wanita berinisial Mi (19) dan Ay (19) diduga sebagai bagian dari gembong mucikari di negeri Kosmopolitan tersebut (Serambi Indonesia, Senin 23/1).

Sebelumnya kasus serupa juga pernah mencuat di Aceh. Aparat kepolisian Aceh Utara berhasil menangkap beberapa orang yang diduga menjadi pelaku. Seorang korban yang dibawa ke Malaysia mengirimkan sms kepada orang tuanya bahwa dia telah dijual dan dipekerjakan dengan tanpa gaji. Drama nyata perdagangan manusia ini memang bukan lagi persoalan baru. Ada beberapa kasus yang berhasil terkuak dan ada yang berjalan mulus tanpa hambatan. 

Victor Malarek, seorang wartawan investigasi Kanada menuliskan dalam bukunya The Natashas: The New Global Sex Trade, tentang bagaimana seluk beluk dan proses trafficking ini terjadi. Secara garis besar, bentuk akhir dari human trafficking adalah perbudakan, pelacuran, dan kerja paksa. Praktik ini bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang cukup menggiurkan. 

Peringkat ketiga
Tercatat bahwa bisnis perdagangan manusia menduduki peringkat ketiga di dunia setelah perdagangan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang. Dari seorang perempuan yang dieksplotasi, seorang mucikari bisa memperoleh keuntungan antara 75.000 hingga 250.000 dollar atau laba sekitar Rp 75.000.000 hingga Rp 250.000.000 dalam setahun.  

Dalam buku yang sama dikutip pernyataan Willy W Bruggeman, agen intelijen polisi Uni Eropa, bahwa keuntungan yang didapatkan oleh para gembong perdagangan manusia seluruh dunia bisa mencapai 12 milyar euro per tahun. 

Setidaknya ada empat gelombang besar dari jaringan perdagangan manusia di dunia. Victor menyebutkan bahwa gelombang jaringan terbaru beranjak dari Eropa Timur dan Eropa Tengah (The Fourth Wave), tepatnya pascaruntuhnya Uni Soviet sekitar tahun 1991. Setelah itu perlahan menjalar ke hampir seluruh negara-negara Asia dan Amerika.

Setelah Uni Soviet pecah dan terbentuk beberapa negara kecil, muncul ketidakberesan dalam pemerintahan, seperti banyaknya pejabat yang korup, budaya suap menyuap, serta birokrasi yang kacau, ternyata berpengaruh pula pada kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam negatif pun muncul dalam kehidupan keluarga, banyak lelaki mabuk-mabukan, dan terlibat kriminal karena lapangan kerja yang tidak jelas.

Melihat kenyataan itu, lalu muncul sekelompok orang yang memanfaatkan gejala. Mereka menawarkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri terutama bagi perempuan. Profesi yang ditawarkan beragam, mulai dari pelayan restoran, kasir, cleaning service, pekerja perusahaan dan sebagainya. Para korban dijanjikan untuk diberikan fasilitas yang lengkap dan gaji yang tinggi. 

Di tempat pendaftaran tersebut para “perekrut” memilih mana yang lebih berpenampilan menarik dan layak. Terkadang iklan-iklan tersebut ikut menempelkan logo resmi negara semisal daun mapel jika negara yang dituju adalah Kanada. Ini dilakukan supaya para pendaftar menjadi lebih yakin dan percaya.

Budak seks
Setelah urusan administrasi keberangkatan dan tiba di negara tujuan, para perempuan itu dijual kepada penadah dan digunakan sebagai “mesin” pendulang uang. Seketika itu pula, perempuan-perempuan itu dipaksa menjadi budak seks. 

Mereka diwajibkan melayani klien sebanyak-banyaknya agar cepat menghasilkan uang banyak. Seperti diungkapkan oleh seorang mafia sindikat trafficking: “Kamu bisa membeli satu perempuan seharga 10.000 dollar dan uangmu akan kembali dalam seminggu kalau dia muda dan cantik. Sesudahnya tinggal meraup untung.”

Korban trafficking ini akan dibebaskan oleh si “tuan” jika berhasil menggantikan modal (uang) yang dikeluarkan ditambah keuntungan dengan jumlah tertentu. Dalam praktik trafficking, pelaku mengharuskan perempuan-perempuan yang dibelinya segera mengembalikan uang yang telah dikeluarkannya dengan melakukan prostitusi. 

Banyak sekali penderitaan yang dialami oleh seorang korban kasus ini. Tidak hanya mengalami tekanan dari “tuan” yang telah membeli mereka, tetapi juga mengalami kerusakan organ biologis, kecanduan alcohol, trauma, terinfeksi virus dan penyakit berbahaya lainnya. Di samping mereka juga mendapat stigma negatif dari masyarakat. 

Para korban trafficking umumnya dengan mudah bisa dikelabui karena beberapa faktor. Di antaranya karena kurangnya keterampilan dan pendidikan dalam diri individu. Hal ini bisa diperparah lagi dengan himpitan ekonomi dalam keluarga yang membuat calon-calon korban baru lupa dan tidak belajar dari kenyataan-kenyataan yang pernah  terjadi.

Solusi
Karena bisnis ini menggiurkan, sepertinya tidak ada negara mana pun yang aman dari praktik trafficking. Bisa jadi yang terjadi di Aceh adalah fenomena gunung es. Artinya, yang baru terlihat hanya satu kasus saja dan tak mustahil banyak kasus serupa lainnya yang belum terungkap. 

Adanya beberapa jejaring sosial semisal facebook, twitter, dan lainnya semakin mempermudah para pelaku dalam menggaet korban. Untuk itu kita berharap pihak kepolisian bisa mengani kasus ini hingga ke akar-akarnya. Setiap iklan-iklan yang menggiurkan dan berbau trafficking harus benar-benar diawasi. Juga, memastikan bahwa tidak ada dari jajarannya yang disawer



Sumber: Serambi Indonesia 25 Januari 2012
http://aceh.tribunnews.com/2012/01/25/menguak-bisnis-trafficking#.Tx-vzCJpc4k.facebook

Costa Concordia

Karya Putra Hidayatullah
 
Concordia, kau sungguh cantik
Tuan-tuan mana yang tak tergoda
Melihat tubuhmu meliuk di punggung samudera
Air liur anak negeri pun mericik
 
Di kolong langit, engkau mesra ditating ombak
Angin laut  menjalar
Pelita-pelita kecil itu lalu merebak
Samudera  tiba-tiba menjadi liar
 
Langit tenang menatap saja
Riuh pekik melengking tak terkata  
Ternyata kemewahan itu tak abadi
Bisa hanyut, menggulung bak tsunami
 
Putra Hidayatullah
, mahasiswa TEN dan alumnus MJC; bergiat di Komunitas Menulis Jeunurob


Sumber: Serambi Indonesia 22 Januari 2012