-------

Jumat, 18 Mei 2012

Mahal

"Di matamu atau di benakmu kau mungkin merasa diri mahal, mahal sekali. Kau mungkin tidak tahu ketika menganggap diri begitu, kau justru terlihat murah bahkan murahan."

Banta berhenti sejenak dan menyesap kopi yang tinggal separuh. Asap rokok mengepul dan menggerayangi wajah tirusnya. Ada banyak sekali yang ingin ditulis untuk perempuan itu. Ia ingin menumpahkan segala perasaannya di atas kertas. Karena ia telah membuat keputusan bahwa harga diri itu jauh lebih berharga ketimbang kemolekan-kemolekan yang tak berapa lama itu. 

"Di matamu aku mungkin hanya daun kering yang lebih layak dibakar atau dibiarkan membusuk di tanah, alih-alih untuk singgah di pelataran hatimu".

Lelaki itu menghela nafas. Malam telah larut. Semua lampu rumah sudah dimatikan kecuali sebatang lilin yang masih menyala di atas meja. Cahayanya menerpa wajah Banta dan membentuk siluet pada pada dinding kamar. 

Beberapa menit yang lalu, di dinding itu masih terpampang foto Halimah lengkap dengan seulas senyum manis. Namun di mata Banta, wajah itu kini lebih hina dari wajah perempuan malam yang mengumbar birahi di tengah malam buta. Itulah sebabnya dibiarkan foto itu dilahap lilin hingga jadi abu. 

"Kelak kecantikanmu yang dengannya kau menyombongkan diri, juga akan sirna seperti ini, Halimah" kata Banta dalam hati. Gigi gerahamnya beradu dan rahangnya berdenyut.[]

Rabu, 09 Mei 2012

Menulis Cerpen


Beberapa hari ini saya belajar sesuatu yang baru mengenai cerpen. Memang kebanyakan orang terutama di Indonesia, menganggap cerpen itu hanyalah sebuah karangan yang berisi khayalan-khayalan. Mungkin saja itu ada benarnya. Saya menduga orang-orang berasumsi demikian karena mereka membaca banyak cerpen tentang pengalaman pribadi atau orang lain, atau pun murni khayalan. Akan tetapi dalam khayalan itu tidak ada inti sari atau pesan tersirat kuat yang ditinggalkan di hati pembaca. 

Setelah membaca beberapa cerpen di koran-koran nasional, saya berkesimpulan bahwa cerpen itu sangat mahal harganya. Bagi saya menulis cerpen itu ratusan kali lebih sulit ketimbang menulis artikel semisal opini, skripsi dan beberapa jenis tulisan ilmiah lainnya. Ketika menulis cerpen, kita menciptakan dunia kita sendiri tanpa ada intervensi siapa pun. Nah, karena fiksi itu adalah membuat pembaca menemukan kebenaran dalam sebuah ‘kebohongan’, ada beberapa hal yang dituntut. Yang pertama adalah logis atau tidak sebuah kisah yang kita tulis. Kemudian membentuk karakter dalam tulisan. Bagaimanakah kita akan menggambarkan jika seseorang itu ramah, baik hati, kejam dan lain sebagainya. Kemudian narasi, bagaimana kita menggerakkan si tokoh dari satu scene ke scene yang lain sambil tetap menjaga agar kisah berjalan mulus. Selain ada pula hal lain yang mendukung yaitu deskripsi dan dialog. 

Bagi saya pribadi, bagian yang paling sulit itu adalah deskripsi. Yaitu bagaimana kita menggambarkan sesuatu dan membuat pembaca benar-benar melihat gambaran itu dalam imajinasi mereka. Misalnya kita menggambarkan kota Paris berikut dengan Menara Eiffelnya. Wah, saya benar-benar harus menghela nafas. Kalau kata Stephen King, jika kau sudah mampu membuat deskripsi yang baik, maka baru kau pantas dibayar mahal atas tulisan-tulisanmu. 

Begitu juga dengan dialog. Dialog tidak hanya semata-mata membuat karakter-karakter dalam tulisan kita tampak hidup, tapi dialog juga harus berperan menggerakkan cerita dengan memberikan informasi tersirat kepada pemabaca. Saya biasanya belajar ini di film. Setiap ada perkapan dalam film, saya perhatikan betul. Dan seperti yang saya katakan, rata-rata dari dialog-dialog yang saya pelajari dari film, saya menyimpulkan bahwa dialog dibuat se-logis mungkin, tidak kobong dan memainkan peran yakni memberi informasi yang menjadi bagian penting dari film kepada penonton. 

Kembali kepada cerpen. Setelah duduk-duduk dan berdiskusi dengan beberapa penulis muda yang sudah mengirip puluhan bahkan ratusan tulisan ke media, saya menyimpulkan bahwa sebuah cerpen itu semestinya memiliki nilai lain selain dari cerita itu sendiri. Misalnya ia ikut pula menjelaskan bagaimana budaya dan kearifan lokal di suatu tempat. Sebuah cerpen yang ideal tidak hanya memiliki deskripsi, narasi dan dialog yang bagus, tetapi secara substansi ia memainkan peran lain seperti kritik sosial, nasihat, dan lain sebagainya. Semalam (9/0512), seorang teman yang kini bekerja di sebuah media malah terang-terangan mengatakan bahwa di media tempat dia bekerja, cerpen-cerpen bertema ‘merah jambu’ tidak lagi diminati oleh redaktur. Dengan kata lain, berpeluang besar untuk tidak dimuat. Singkat kata, menulis cerpen itu tidak enteng dan cerpen bukanlah seperti anggapan selama ini, sebuah dongeng atau khayalan yang tidak bermanfaat. Bagi saya pribadi, cerpen itu adalah seni menelanjangi orang lain dan bahkan diri sendiri dengan cara elegan agar bisa berubah menjadi lebih baik.[]

Selasa, 08 Mei 2012

Standar


"Lima tahun kuliah di TEN dengan nilai TOEFL 550, itu kurang ajar.” Aku memaki diri sendiri. 

“Semestinya, selaku mahasiswa Bahasa Inggris, aku sudah mencapai nilai 620, minimal! Tapi karena masih saja kurang ajar, maka yang kudapat hanya sebanyak itu saja. Padahal kalau aku mau, aku bisa mendapatkan jauh lebih dari itu." 

Untuk kesekian kalinya aku menyesap kopi yang tinggal separuh. Di sampingku seorang gadis cantik menatapku serius. Matanya sedikit terbelalak. Bibir merahnya seperti beku. Kupikir baru kali ini ia mendengar pernyataan seperti ini. Aku berhenti sejenak. Ia menyungging senyum tipis. 


“Dua tahun yang lalu aku ke Jakarta untuk mengikuti TOEFL Ibt untuk persyaratan pertukaran pelajar ke Amerika. Dan di sana, aku bertemu dengan seorang pemuda asal Padang, Sumetara Barat. Dia sedang kuliah di jurusan Manajemen Universitas Indonesia. Dan yang mengejutkan adalah nilai TOEFL Ibt-nya jauh lebih tinggi dari punyaku. Bukankah itu memalukan? Bayangkan aku yang berkuliah di jurusan bahasa inggris hanya memperoleh nilai toefl ibt 77 dan ITP 553. Seandainya waktu itu adalah kompetisi toefl, total aku telah mempermalukan almamaterku” 


Aku berhenti sejenak ketika seorang pelayan mendekat dan menanyakan menu apa yang dipesan si Gadis. Ia baru saja datang, menemuiku untuk meminjam buku TOEFL. Aku tidak menanyakan untuk apa. Dia baru saja menjadi sarjana di jurusan bahasa Arab. Kupikir ia mau mengikuti tes beasiswa S-2 ke luar negeri karena Pemda baru saja membuka pendaftaran untuk tahun ini. 


Sebenarnya ada sesuatu yang agak janggal. Setidaknya menurutku. Batas akhir pendaftaran adalah akhir bulan ini. Beberapa temanku yang lain juga menelpon menanyakan tentang TOEFL. Ada yang menyuruhku membeli buku toefl yang bagus untuknya, ada yang meminta diajarkan toefl secara private. Menurutku ini sama seperti mencari payung yang hilang atau yang tak pernah dibeli saat hujan sedang turun lebat. Seorang teman lain malah dengan ekstreme meminta sertifikat TOEFL-ku untuk di-scan karena dia tak mengerti toefl. Dia ingin mengantikan namaku dengan namanya. Sayangnya dia tidak beruntung karena seritifikat TOEFL yang 550 itu tidak kubawa ke Banda. Kertas keramat itu masih tersimpan rapi dalam lemari di kampung halaman. 


Aku pribadi sebenarnya percaya bahwa jika teman-temanku itu tidak bodoh. Jika mereka mau berusaha, mendapat nilai 600 bukanlah suatu hal yang mustahil. Hanya perlu sedikit usaha dan fokus. Dan tidak tersadar di saat ujung yang santing begini. 


“Saya tidak pesan apa-apa, Bang. Saya hanya sebentar” Gadis cantik di sampingku menolak halus. Si pelayan melempar senyum dan berlalu ke meja lain. Aku melanjutkan ceramah, 


“Sebenarnya kuliah di tempat ini kita sangat santai bahkan terlampau santai. Seperti kata dosenku yang baru tamat S-2 di Inggris, mahasiswa kita, saat sedang kuliah masih saja punya waktu untuk bersantai, bermain, ber-online atau mencari uang. Kalau di sana, kuliah betul-betul serius dan menguras tenaga. Maka wajar saja bagaimana kualitas sarjana yang kita miliki sekarang. Mental seperti apa yang mereka miliki. Alih-alih menjadi seorang yang idealis atau ideologis, malah mereka menjadi sang oportunis. Mencari-cari informasi tes PNS seolah pintu kehidupan hanya ada di sana. Bahkan ada yang rela menyogok. Itu kan lucu! Masa mantan mahasiswa, seorang intelektual, tidak bisa berpikir rasional. Sogok menyogok itu tidak rasional!” Suaraku naik beberapa oktaf. Aku yakin dua orang bapak-bapak yang duduk dibelakangku mendengar. Tapi sengaja kulakukan itu. Biar mereka mendengar. 


“Sudah nonton film Beautiful Mind?”


“Hmm… sepertinya udah! Yang tentang seorang bapak dosen yang memiliki dunia sendiri itu kan? Yang dia sempat ingin membunuh bayinya sendiri itu?” 

Sedikit demi sedikit gadis itu menceritakan sinopsis dari film yang sangat inspiratif jika dilihat dari sudut pandang yang khusus itu. 


“Iya” aku mengangguk. “Waktu itu aku baru saja membaca sebuah novel hebat karya Andrea Hirata, Edensor. Seandainya “kebetulan” itu memang ada, aku akan mengatakan “kebetulan” setelah membaca novel itu, seorang teman menyarankanku menonton film tersebut. Aku memang percaya “kebetulan” itu tidak ada karena seperti kata mantan pacarku dulu, “tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya telah ditentukan Tuhan” 


Dan karena telah maktub, aku menemukan satu titik temu yang sangat mencerahkan antara novel Edensor dan film Beautiful Mind. Kata kuncinya adalah “standar”. Kalau ada waktu bacalah novel itu dan tontonlah film itu. Kalau sudah dua-duanya, kau pasti tahu pencerahan semacam apa yang kudapat. Jika sudah menonton dan membaca tapi belum ‘dapat’, renungi saja. Kata kuncinya adalah “standar”. Coba kait-kaitkan. Belajar bisa di mana saja. Bahkan dari novel dan film sekali pun. Semoga tercerahkan! Aku juga mendoakan semoga teman-temanku, dengan usaha mereka menaklukkan TOEFL, juga berhasil seperti yang diharapkan.[]

Sabtu, 28 April 2012

Penyanyi dan Penyakit


Saya sering punya cerita menarik tentang musik. Beberapa tahun terakhir saya merasa kecewa dengan beberapa lagu. Pada 2011, lagu yang membuat saya bergidik adalah lagunya Wali yang berjudul Cari Jodoh. Saya pikir lagu itu secara substansi tidak memberi arti apa-apa. Hanya ungkapan cengeng dan putus asa seorang lelaki. Hanya sebuah keluhan yang disampaikan dengan bahasa yang hambar. Mungkin lebih cocok disebut bahasa vulgar. “Ibu-ibu… bapak-bapak… siapa yang punya anak bilang aku… aku yang tengah malu sama teman-temanku karena Cuma diriku yang tak laku-laku..” persis seperti suara pemuda kampung yang suka kentut di mic meunasah di bulan puasa dan ketika sahur menjelang, mereka berteriak “ibu-ibu, bapak-bapak, bangunlah”.

Pada tahun 2012, ada lagi lagu yang membuat saya tidak selera makan. Lagu itu adalah “Iwak Peyek”  saya selaku orang Indonesia di pulau Sumatera paling ujung tidak tahu arti Iwak Peyek. Di sinilah letak ‘kelemahan’ si pencipta lagu. Seharusnya, mereka belajar dulu siapa pasar mereka. Indonesia terdiri dari beragam bahasa dan suku; bukan jawa saja. Lagu adalah salah satu seni untuk menyampaikan pesan. Jika lagu tak dapat dimaknai oleh banyak orang, maka penyanyi tersebut tak layak menjadi penyanyi nasional di negara semisal Indonesia. Kecuali penyanyi lokal, di kampungnya sendiri misalnya.

Dari pertama mengenal Trio Macan itu saya memang sudah curiga. Mereka seperti apa yang digambarkan oleh Andrea Hirata dalam cerpennya, Kemarau, "Lebih menyanyikan maksiat daripada lagu". Mereka tidak peduli filosofi dari karya mereka dan dampak apa yang ditimbulkan kepada masyarakat terutama anak-anak. Salah satu potongan liriknya yang saya ingat adalah “sampai tua trio macan akan disanjung” Apa tujuan dari kata-kata itu coba? Tak ada apa-apanya dibanding dengan lirik lagu Iwan Fals yang kaya dengan pesan moral dan puitik. Contohnya,

“Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi”

                Sekarang ini makin banyak ‘penyanyi’ seperti Trio Macan. Mereka lebih mengandalkan tubuh ketimbang manfaat dari karya yang mereka cipta. Mereka jual paha, dada, dan sedikit suara. Yang penting terkenal, yang penting dapat uang. Kita semakin jarang menemukan seorang penyair yang bernyanyi semisal Ebit G Ade, Franky Sahilatua, Bob Dyland dan lainnya. Menurut saya, populasi penyanyi di Indonesia makin lama semakin menipis. Yang bertambah hanyalah penyakit.[]

Kamis, 26 April 2012

Menulis (curhat)

Tulis apa saja boleh, yang penting jujur dan tidak bersembunyi di balik tulisan. Yang dimaksud bersembunyi di balik tulisan adalah menjadikan tulisan sebagai topeng agar si penulis terlihat suci, kritis, dan hebat. Tulisan yang ditulis dengan jujur itu bagus dan punya kekuatan. Berbeda dengan tulisan yang dibuat-buat dan dijadikan sebagai alat pencitraan. 


Menulis itu memang sulit. Saya sendiri kerap menghadap wajah ke layar laptop dalam keadaan frustrasi dan stress. Rasanya seperti kambing yang sedang dikuliti hidup-hidup. Tapi apa boleh dikata, saya tetap harus setia dan bersabar,  berharap suatu saat ide bisa mengalir rapi dalam tulisan sehingga nyaman untuk dibaca. Apa sedang saya lakukan saat ini adalah berproses untuk itu. 

Memang benar seperti yang dikatakan oleh seseorang yang saya telah lupa namanya. Ia menyebutkan bahwa jika seseorang tidak menulis dengan keringat, maka pembaca pun tidak akan serius membacanya. Intinya, tulisan yang enak membutuhkan banyak keringat dan kesabaran. Kesabaran dan keringat itulah yang nanti membuat pembaca betah. Tapi jika tulisan ditulis seadanya saja, sekedar melepaskan uneg-uneg pribadi, maka nilainya kurang. 

Untuk menjadi seorang penulis memang ada harga yang harus dibayar. Sekilas pekerjaan ini terlihat mudah dan tidak mengeluarkan keringat. Tapi, ketika sudah mempraktikkannya, maka proses penuangan ide ke dalam tulisan ini ibarat bekerja sebagai buruh yang mengangkat sebuah batu informasi kemudian mengolahnya dan menggubahnya menjadi bentuk tertentu yang indah dan disukai. 

Menjalani profesi menulis juga seperti menjadi seorang messenger, pembawa pesan. Pekerjaan pertama yang tidak mudah adalah memanfaatkan semua indra terutama telinga dan mata semaksimal mungkin. Dengan kedua itu kita harus merekam segala yang terjadi di sekitar atau apa yang kita baca dan simpulkan dari sebuah literature. Belum lagi jika membahas tentang creative writing seperti menulis karya sastra seperti cerpen, novel, atau lainnya. Untuk yang satu ini, perlu kiranya menyimak keluh-kesah orang-orang di sekitar. Dari semua peristiwa dan dinamika, kita mengambil intisari dan menyampaikannya kepada  pembaca. Semakin bermakna dan sederhana sebuah tulisan, semakin pantas pula penulisnya dihargai. 

Saya sudah lama ingin menjadi penulis dan saya mendapati bahwa saya harus banyak mengeluarkan keringat seperti membaca banyak buku untuk menambah wawasan dan pengetahuan juga mempelajari teknik menulis. Misalnya melihat bagaimana seorang penulis yang sudah sukses membuka sebuah paragraf atau sebuah cerita. Bagaimana mereka menciptakan konflik dan lain sebagainya. 

Selama ini saya sudah mempraktikkan itu. Dari belajar ini saya menemukan betapa besarnya perjuangan yang dilakukan oleh para penulis cerita sehingga mereka berhasil merobohkan mental block atau writer block. Sebuah keadaan bersifat psikologis yang menghambat seseorang untuk menumpahkan semua ide dan perasaannya. Bisa jadi karena malu, takut, tidak percaya diri dan lain sebagainya. Tulisan yang buruk memang adalah fase utama yang harus dilalui sebelum mampu menulis dengan baik. Saya rasa penulis professional sekali pun, ketika pertama kali dia menulis, tulisannya juga buruk. Bisa jadi dia akan malu membaca itu kembali. Tulisan yang bagus hanya bisa lahir setelah melalui proses yang panjang tanpa kenal lelah dan tanpa ‘malu’. 

Merasa malu adalah permasalahan yang kerap saya alami. Saya memiliki banyak sekali tulisan jelek yang saya simpan dan tidak pernah saya publikasikan. Selain itu tidak memberi nilai manfaat yang banyak, saya juga merasa malu untuk membiarkannya dibaca oleh para pembaca. Sebenarnya pula, ada banyak tulisan yang tewas di benak dan perasaan saya karena tidak pernah menuliskannya. Sekali lagi karena alasan malu, takut dianggap jelek, dan tidak memberi manfaat atau bahkan bisa takut risiko. 

Tapi akhirnya, untuk bisa menulis, saya harus memutuskan untuk berusaha dan mengorbankan apa yang harus saya korbankan seperti waktu dan energi atau bahkan uang (untuk membeli buku). Dan yang terpenting membongkar mental-block saya dengan terus menumpahkan isi perasaan dan ide tanpa merasa malu. Sekali lagi, saya harus memegang prinsip, “tulis apa saja boleh, yang penting jujur dan apa adanya”.

Senin, 23 April 2012

I Have Dreams

I have dreams
That one day, when I wake up I find myself becoming a man of letter
That one day, a beautiful woman strengthen me when my tears fall
That one day, I become a moral man
That one day, my children become wise stars
That one day, I see humble heart shining within me: no hatred, no anger, no pride, no fear
That one day, I face my God with the sweetest smile ever



                                                                                             Jeulingke, 23 April 2012

Hebat Itu...

Ketika mengingat ke belakang, ada hal menggelikan yang membuat saya tertawa. Terutama berkaitan dengan sikap diri yang konyol. Tak terhitung berapa sering kami duduk di warung kopi dan mulai mengkritisi apa-apa yang terjadi di sekitar dan juga memberikan opini masing-masing dengan tidak lupa menganggap diri lebih hebat dari siapa pun. Kami percaya dengan apa yang kami ketahui saja dan sayangnya yang kami ketahui waktu itu ternyata masih terlalu sedikit. Dan yang lebih penting adalah apa yang dulu kami komentari kebanyakannya adalah dari persepsi dan asumsi belaka tanpa dibarengi dalil, teori dan fakta ilmiah. Kalau pun ada, hanya secuil saja. 

Setelah bertemu dengan orang-orang baru yang menyampaikan perspektif terhadap banyak hal, dan juga wawasan mereka yang tak terkalahkan membuat saya sadar bahwa apa yang saya ketahui selama ini belumlah apa-apa. Masih banyak ilmu dan pengetahuan yang ternyata belum saya ketahui. Ada banyak buku-buku yang belum saya baca dan ternyata saya masih tergolong orang-orang yang mengurung ilmu dalam perpustakan. Saya hanya bisa melongo dan terperangah ketika mereka membicarakan tentang marxisme, liberalisme, anarkisme, kapitalisme, politik dan sebagainya. 

Di sinilah saya menyadari betapa pentingnya keluar dari eumpung alias zona nyaman. Berada pada zona nyaman dan menganggap diri sudah hebat yang ternyata membuat saya terhenti dan bahkan tertinggal. Mungkin di sinilah Tuhan menunjukkan kasih sayang kepada hambaNya dengan melarang kita bersikap tinggi hati dan merasa lebih hebat dari siapa pun. Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh seorang kakak kelas, kesombongan adalah tingkatan terakhir dari ilmu pengetahuan. Artinya, meski kita punya kemampuan atau potensi mencapai angka 10, tapi karena di angka 6 saja kita sudah sombong, maka pada tingkatan 6 sajalah kita tersangkut dan tidak akan mencapai tingkatan yang lebih dari itu meski kemampuan kita lebih besar. 

Sebenarnya kalau belajar dari sejarah, ada banyak sekali orang-orang yang binasa karena kesombongannya baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, sastra, dan science dan sebagainya. Ikon kesombongan yang paling besar sepanjang sejarah adalah Fir’un. Kesombongannya telah melampaui siapa pun bahkan iblis. Ia mengatakan bahwa dialah Tuhan yang juga bermakna ia berani menantang Tuhan. Dia yang mampu menghidupkandan mematikan tapi sejarah tidak sungkan-sungkan mencoret namanya dari daftar kemuliaan sebagai manusia. 

Manusia adalah makhluk yang mulia sebagai mana yang dikatakan oleh Allah dalam kalamnya, “Telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. Tapi baik rupa atau kebagusan fisik ini tidak dibarengi oleh tingkah dan sifat mulia dan rendah hati maka Allah mengatakan bahwa Ia melemparkan harga diri manusia itu ke tempat yang serendah-rendahnya. Begitu pula dengan seorang manusia yang cerdas dan pandai. Ketika ia sudah bersifat sombong dan angkuh, maka tidak lama ia akan dipandang rendah oleh orang banyak. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran, “Siapa yang merendahkan hatinya, akan diagungkan dan siapa yang meninggikan hatinya maka akan diinjak-injak”. 

Dalam kearifan lokal orang Aceh juga terdapat sebuah hadih maja, “Ta koh dheun panah keu bara jambo, si nyak le tulo di Blang Meuraxa. Ujob semeuah, riya, teukabo, di sinan keuh le ureung binasa” intinya, sikap ria dan takabur itu mengundang kebinasaan. 

Akhir kata, di atas langit pasti ada langit. Di atas orang hebat pasti ada yang lebih hebat dan orang hebat sejati itu rendah hati. Wassalam.[]

Sabtu, 14 April 2012

Pada Usia 24


Kata ulang tahun semakin akrab di telinga saya sekira enam tahun yang lalu. Yaitu ketika masa SMA. Sekolah saya dulu adalah sebuah boarding school yang tidak begitu jauh dari kota Banda Aceh. Siswa-siswanya datang dari berbagai daerah. Sebagian mereka dari desa dan sebagian lain dari kota. Saya sendiri adalah anak kampung. Dan di kampung-kampung di Aceh, setahu saya, perayaan ulang tahun itu bukanlah suatu lazim dilakukan. Saya pertama kali mendengar istilah ini saat menonton film atau sinetron semasa kecil dulu. Ketika televisi hanya dimiliki oleh satu atau dua orang terkaya dalam sebuah desa. 

Sekira enam tahun yang lalu, saya mendapatkan kado ulang tahun pertama dari seorang wanita yang saya taklukkan hatinya dan juga menaklukkan hati saya. Dia adalah seorang gadis kota dan mengerti banyak tentang tren-tren yang tak pernah saya temui di kampung. Dia lebih dulu tahu apa itu internet, apa itu e-mail, apa itu yahoo messenger. Tapi ia tak tahu apa itu tapeh, on geurusong , apa itu geulungku dan dia juga tidak tahu apa itu paman (karena paman dalam bahasa Aceh disebut apa). 

Singkatnya, sejak itulah saya mengerti makna ulang tahun. saya pun jadi paham mengapa dalam sinetron-sinetron yang dulu saya tonton, gadis cantik kerap merajuk manakala ayahanda atau ibundanya lupa memberikan kado atau pun tidak ingat hari ulang tahunnya. 

Ternyata ada kebahagiaan tersendiri jika ada satu hari yang istemewa. Hari dimana ucapan selamat, doa dan harapan mengalir deras. Seperti ketika saya membaca ucapan-ucapan di dinding facebook kemarin (11 April 2012). Ucapan-ucapan itu mengukuhkan kembali kesadaran bahwa ternyata saya ada, saya tidak sendiri, saya memiliki teman-teman yang masih mendoakan. 

Namun di usia 24 ini, saya memiliki perasaan lain. Persis seperti yang dilukiskan oleh Iwan Fals pada sebuah lagunya yang berjudul Nona, "Kucoba berkaca pada jejak yang ada. Ternyata aku sudah tertinggal bahkan jauh tertinggal". Di usia yang semakin menua ini, saya belum memenuhi tuntutan zaman untuk tahu banyak hal mengenai agama, teknologi, politik, gejala sosial, dan lainnya. Apalagi status saya sebagai mahasiswa yang notabenenya “must know everything about something and know something about everything” (harus mengetahui banyak hal tentang sesuatu dan mengetahui sesuatu dari banyak hal). 

Saya seharusnya sudah memiliki kapasitas yang cukup dan mampu bersikap responsif terhadap yang terjadi di sekitar. Misalnya isu yang baru-baru ini menghangat: kenaikan BBM dan Pilkada. Namun alih-alih menawarkan solusi atas permasalahan yang ada, saya malah memilih sikap abai seolah itu bukan bidang saya, bukan masalah saya. Inilah adalah bentuk lain dari kebutaan. Sudah 24 tahun tapi masih ‘buta’. Apa jadinya kalau ada orang kampung datang bertanya, “Putra, apa pendapat kamu tentang kenaikan BBM? Bagaimana menurutmu pilkada itu? Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah? Ada berapa model demokrasi? Bagaimana demokrasi dalam Islam? Apa yang paling dibutuhkan bangsa ini? (ck.. ck.. ck.. hanya ada satu kata, galau!) 

Selain itu pula, saya cukup tertinggal dengan teman-teman yang hampir setiap detik berpikir dan bekerja hingga melahirkan banyak karya. Beberapa di antaranya aktif memikirkan ide untuk pembuatan film, ada yang semakin rajin dan gigih menulis. Ada yang sudah memenangi even-even di tingkat nasional, ada yang tulisannya sudah mencapai puluhan bahkan mungkin seratusan dan tersebar ke media-media. Sementara saya baru  menulis empat opini, satu cerpen dan tiga puisi. Mereka aktif betul. Apalagi seorang teman baru yang luar biasa. Dia aktif sekali menulis kajian kritis dan menuangkan pandangannya terhadap realitas. Melihat mereka, saya semakin sadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa. 

Di usia 24 ini pula, saya merasa malu karena masih menerima "kiriman" dari ibu saya di kampung. Terkadang terlintas dalam pikiran bahwa ini adalah suatu hal yang tidak wajar. Sudah saatnya hidup mandiri dengan biaya sendiri. Tapi pikiran ini selalu dilindas oleh hal-hal lain yang menggembirakan seperti ber-online ria: dari pagi sampai malam. Bermain facebook, nonton film dan lain-lain. Tahun lalu saya mendapat kesempatan bertemu dengan perwakilan pemuda-pemuda di seluruh Indonesia (kecuali Papua) di Cibubur, Jakarta Timur. Acara tersebut adalah pelatihan ketahanan nasional untuk pemuda (TANNASDA). Ketika berkenalan dengan teman-teman yang ramah dan baik hati itu, saya mendapati bahwa kebanyakan mereka mulai berwirausaha untuk hidup mandiri. Sementara saya?! 

Problem lain adalah saya malu karena belum mampu menunaikan salah satu rukun hidup yaitu berhemat. Saya paling malas untuk melakukan PDKT dengan kompor meski hanya sekedar merebus mie instan. Setiap tiba waktu makan, saya lebih memilih membeli nasi di warung. Maka kalau dihitung-hitung pengeluaran saya terbesar setiap bulan adalah untuk membeli nasi dan ngopi. Terkadang berkelebat pula dalam pikiran mengapa saya tidak berhemat saja. Dengan memasak misalnya. Jika ada uang lebih bisa saya manfaatkan untuk membeli buku yang bagus untuk otak dan jiwa saya. Tapi lagi-lagi dan lagi. 

Dan yang paling penting di usia 24 ini saya masih sendiri. Kadang saya berpikir saya membutuhkan seorang perempuan yang bisa memotivasi saya untuk berubah dan melakukan hal-hal yang besar dan bermanfaat. Saya percaya pada kekuatan dan aura seorang wanita. Seperti kata orang bijak, "behind a great man there is a great woman", di belakang lelaki hebat ada seorang wanita yang hebat. Saya juga ingin beristirahat sejenak dari mengucapkan kata-kata ini, 

Allahu rabbon ilahon qade
Neubuka hate dum aneuk dara
Keu ulon tuan beuditem pike 
Bek sabe-sabe dalam keucewa

Haha…. Ya sudahlah. Saya sebenarnya tertarik dengan seorang perempuan muda yang cantik dan islami. Sayangnya, setelah berpikir ulang, saya harus menghabiskan banyak sekali energi untuk mendapatkannya. Dan juga setelah meninjau kembali, lebih baik saya menggunakan energi yang ada untuk melakukan hal-hal yang bisa merubah timah yang ada dalam diri saya supaya menjadi emas. Setelah berubah menjadi emas, saya tinggal memilih saja, perempuan mana kira-kira yang akan beruntung. (hahaa…khayalan tingkat tinggi) 

Jadi begitulah saya di usia yang duapuluh empat ini. Ada banyak hal yang harus dirubah. Perubahan bukanlah perubahan hingga sampai pada perubahan. Terimakasih buat teman-teman yang telah mendoakan. Semoga diberikan kesempatan untuk bertemu dengan tahun 2013 diiring dengan segenap -perubahan yang telah terwujud. Amiin. []