Kendala lain (selain tak punya ide dll) dalam menulis adalah malu. Saya sering merasa malu dengan tulisan saya sendiri apalagi tulisan model curhat seperti ini. Terus terang saya tidak nyaman membicarakan tentang diri saya sendiri meski bisa jadi pengalaman atau hal-hal lain tetang saya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Meski demikian, sebagai seorang pembelajar, saya tetap harus menembus batas. Kata Nabi, musuhmu adalah dirimu sendiri. Ya, saya memang kerap menyerah pada kekuatan yang muncul dalam diri saya sendiri. Kekuatan itu seperti iblis membisiki saya untuk menyerah, tidak menulis, dan menyuruh untuk tidur atau memunculkan emosi-emosi negatif.
Sabtu, 01 September 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Kering

Dunia kita sunyi
Mendekatlah
Duduklah di balai bambu ini
Akan kita tatap bulan tanpa risau
Kita dengar alam berdendang
Meski tetap saja celoteh rapuh yang kian terdengar
Pohon-pohon wafat
Daun-daunnya mengering
Sementara hujan tak lagi ramah
Lihatlah bagaimana sebagian menzalimi sebagian yang lain
Beginilah sejarah manusia kini berjalan
Dunia kita sunyi
Tak ada yang mendengar
Kata hanya hingar
Beureunuen, 16 Agustus 20012
Tags :
Selasa, 17 Juli 2012
Rasa takut itu umpama melihat maop: besar, gelap, bermata merah, bertaring dan menjerat. Itu dirasakan oleh putraku pada suatu magrib. Keringat membaluri keningnya.
"Ayah, aku takut"
"Takut kenapa?"
"Bagaimana kalau suatu saat nanti aku diklaim jadi ... ?"
Aku tergeragap. Tak pernah kubayangkan. Sejak mendengar itu aku kerap melihat maop dalam mimpi dan sesekali merasakannya seolah duduk menyeringai di sampingku. Ia berbulu lebat dan tangannya panjang betul.
Tak ingin digelayuti perasaan resah, aku dan putraku mulai keluar rumah mencari hiburan. Kami pulang ketika mata mulai layu. Lalu kami terlelap. Dalam lelap, tanpa kami sadari, tangan maop itu ternyata meraba-raba bunga di halaman rumah bahkan sesekali mengambil perabotan dalam rumah kami secara diam-diam.
"Ayah, aku takut"
"Takut kenapa?"
"Bagaimana kalau suatu saat nanti aku diklaim jadi ... ?"
Aku tergeragap. Tak pernah kubayangkan. Sejak mendengar itu aku kerap melihat maop dalam mimpi dan sesekali merasakannya seolah duduk menyeringai di sampingku. Ia berbulu lebat dan tangannya panjang betul.
Tak ingin digelayuti perasaan resah, aku dan putraku mulai keluar rumah mencari hiburan. Kami pulang ketika mata mulai layu. Lalu kami terlelap. Dalam lelap, tanpa kami sadari, tangan maop itu ternyata meraba-raba bunga di halaman rumah bahkan sesekali mengambil perabotan dalam rumah kami secara diam-diam.
Tags :
Tears In Fairmont Park
By Putra Hidayatullah
In the middle of spring, still like the last few years, I visit Fairmont Park. I sit on an iron chair placed under hundreds cherry blossom trees. Some purple, white and pink flowers fall on ground. Ten meters away two young couples are laughing while eating ice cream. The wind that afternoon blows unhurriedly and touches my hair. I see some children aged around five are playing kites excitedly in the middle. A smile shines from my face but it is soon fade when that vivid memory comes.
Tags :
Minggu, 03 Juni 2012
Tipu Ibu
"Adek bayi itu datangnya darimana, Ma?"
Setelah mendengar jawaban ibu, bertahun-tahun kita kerap peka pada langit. Kita mengacungkan telunjuk tinggi-tinggi manakala ada pesawat melintas. Kita cekikikan.
"Aku yang lihat duluan!"
"Bukan, aku duluan!"
Kita saling mendebat. Dalam gegas kita menyatukan tangan kanan dengan tangan kiri membentuk corong lalu kita tempelkan di mulut.
"Pesawat, kami mau adik lagi!"
"Berikan kami adik baru!"
Kita berteriak menukik hingga muka memerah. Tak satu pun pesawat mengabulkan permintaan kita.
Kecewa, kita kembali pada ibu,
"Bu, pesawat itu pelit! Kenapa pesawat tidak menjatuhkan adik bayi?"
Ibu membelai rambut kita sambil tersenyum. Ibu kata, pesawat mengirim adik ketika kita sedang terlelap.
Sekarang kita tahu siapa yang pertama kali membohongi kita. Kita tak marah, mengingatnya saja kita tersenyum.
Begitulah cara ibu berbohong, tanpa melukai.[]
Tags :
Jumat, 01 Juni 2012
Fiksi Mini
Hujan menderas. Terlihat ibu-ibu di komplek berlarian ke rumah masing-masing. Sudah satu jam berlalu. Kita duduk tenang di bangku teras rumahmu. Kau kata, begitulah kau suatu saat,
“Apa kau masih mencintaiku, jika aku sudah jadi ibu-ibu?”
“Tidak,” aku menyungging senyum.
Rautmu merajuk. Kau mencubit pahaku.
“Aw…” aku tak bisa menahan tawa. Anggunmu semakin muncul saat kau cemberut begitu.
“Kalau siang aku memang sering sendiri. Ibu sama Ayah biasa pulang malam” katamu. Setiap kali bicara, aku memperhatikan bibir tipismu merekah.
“Karena itukah kau menghubungiku?”
“Memang tidak boleh ya?”
Aku tersenyum saja. Kau tersipu dan berkata,
“Aku kangen”
Gemuruh cinta seketika menggelora dalam dadaku.
Hari semakin sore. Hujan belum reda. Kau mendekat dan berbisik pelan,
“Kita masuk yuk!”
Kau menarik tangan kananku mengajak ke dalam. Aku manut seperti kambing dicucuk hidung.
***
Tags :
Kamis, 24 Mei 2012
Berpikir dan Bersikap Positif
Adakalanya kita merasa iri pada orang-orang yang memiliki kemampuan lebih. Muncul keinginan dalam diri untuk bisa melakukan hal yang sama. Karena itu kita bekerja keras dengan harapan mampu mengimbangi dan menyaingi mereka. Lalu ketika target tersebut tidak dapat dicapai, muncul kegelisahan dalam diri. Bahkan pada tingkat paling parah, diserang penyakit rendah diri.
Secara tidak sadar kita kerap memberi sugesti pada diri sendiri. Karena belum mampu melakukan sesuatu, bisa jadi kita menganggap diri bodoh, tidak unggul, dan sebagainya. Pikiran yang digelayuti keputusan negatif seperti ini tidak akan mampu melahirkan sesuatu yang bermakna. Bisa dikatakan pohon-pohon ide yang semestinya bisa bercabang dan menjadi tempat berteduh menjadi mati tiba-tiba.
Memang suatu hal lumrah ketika kita dapati orang dengan banyak kelebihan. Bukan suatu yang mustahil lahir pula kecenderungan membanding-bandingkan diri dengan mereka. Namun jika itu kemudian memicu rasa inferior alias rendah diri, maka lebih baik tidak usah dilakukan. Ketika dilanda penyakit inferior, semangat dan motivasi akan hilang. Begitu pula dengan ide-ide dan kreatifitas yang berkembang dalam pikiran.
Setiap kita memiliki jalan sendiri dan kelebihan masing-masing, “everyone is good at something”. Berjanjilah untuk berhenti membandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain. Berjanjilah untuk terus berusaha membangkitkan pikiran, emosi, dan sikap positif agar kelak impian menjadi kejutan. []
Tags :
Jumat, 18 Mei 2012
Sihir
Sudah tiga hari Rio, anakmu, tidak di rumah. Ia ingin tinggal di rumah neneknya selama seminggu.
“Adek mau belajar sihir sama nenek” katanya sehari sebelum di antar suamimu.
Kau tersenyum dan mengelengkan kepala. Kau tahu ia itu hanya khayalannya saja. Bisa jadi karena ia kebanyakan menonton film-film aneh semisal Harry Potter. Lagi pula, tak mungkin wanita setaat mertuamu itu punya sihir. Setiap kali datang ke rumahnya, kau selalu lihat ibu dari suamimu itu shalat tepat waktu dan lengkap dengan shalat sunatnya.
Rumah semakin sepi saja tanpa Rio. Biasanya bocahmu itu selalu menceracau atau pun duduk kusyuk di depan layar televisi sambil bermain Playstation. Namun begitu, tanpa kehadirannya kau merasa lebih leluasa dengan suamimu. Kau bisa melakukan ekpedisi rutin di mana saja. Di kamar, ruang tamu, kamar mandi, dan tanpa harus menunggu anakmu terlelap dulu.
Di luar masih gelap. Kau mendengar suara ayam berkokok. Seperti biasa kau bangun menuju kamar mandi kemudian ke dapur. Kau mengambil pisau dan mulai mengiris bawang untuk memasak.
“Maak..” tiba-tiba kau mendengar suara anakmu
“Maak…” dia mengetuk pintu. Kau tergopoh menuju pintu depan. Di sana sudah berdiri anakmu. Ia memakai seragam sekolah, celana merah dan baju putih. Ia tersenyum dan kau memeluknya.
“Ma, aku sudah bisa sihir!”
“Oya?” kau tersenyum. “Coba lakukan sesuatu dengan sihirmu”
Anakmu memasukkan telunjuknya dalam mulut kemudian dengan sigap mengarahkannya ke wajahmu. Kau terkejut dan mengerang ketika mendapati mata kirimu membesar tiba-tiba lalu meletus mengeluarkan darah. Tak lama kemudian, ia menunjukkan lagi telunjuknya itu. Kali ini mata kananmu yang hilang. Kau meraung-raung di atas lantai sambil menahan rasa sakit. Anakmu tertawa.
Di kamar, suamimu terbangun dari tidur. Handphonenya berdering. Ia mengangkatnya. Di seberang mertuamu berbicara padanya,
“Bola mata Rio pecah. Kumohon segeralah kemari”.
“Apa?!” suamimu terkejut.
Sementara kau masih meraung-raung di atas ranjang.
“Ma, bangun…Ma..."
Kau terjaga. Bulir-bulir keringat membasahai keningmu.
“Anak kita sakit” kata suamimu. “Kita harus menjemputnya sekarang”
Kau merasa gamang seperti berada di antara dua alam yang berbeda. Kau perlu waktu beberapa detik untuk tahu bahwa kau baru saja mengalami mimpi buruk. Kau mengehela nafas dan mengikat rambut panjangmu yang tergerai hingga ke punggung.
Setelah membasuh muka, kau mengunci pintu rumah. Di luar masih gelap. Sesekali terdengar kokok ayam. Sandal yang kau pakai terasa basah karena embun. Kau membuka pintu mobil. Wajah suamimu tampak cemas. Ia langsung menekan pedal dan mobil melaju. Lebih cepat dari biasanya.
***
Baru di pintu pagar rumah mertuamu, kau sudah mendengar suara Rio meraung. Kau dan suamimu mempercepat langkah. Pintu depan rumah tak ditutup. Di sana ada beberapa tetangga berdiri. raut wajah mereka menunjukkan simpati. Kau langsung menuju kamar. Rio tampak meronta-ronta. Ibu mertuamu duduk di sampingnya. Wajahnya cemas bercampur takut. Tanpa menunggu lebih lama kau memeluk anakmu itu.
“Ma, nenek menyihirku”
Kau terhenyak dan nafasmu tercekat.
“Lupakan sihir-sihir itu. Kita harus ke rumah sakit sekarang” kata suamimu. Kau langsung bangkit menuju mobil. Baru beberapa langkah kau berjalan, kau melihat ke belakang menatap wajah ibu mertuamu. Pada raut yang kian menua itu, kau tidak bisa menerjemahkan apakah ia sedang takut ataukah merisaukan anakmu.
***
“Ibumu penyihir” setiap kali terbayang wajah Rio, kau selalu mencerca suamimu dengan kata-kata itu. Semenjak kejadian itu, kau tidak pernah terpikir untuk mengunjungi mertuamu lagi. Dan pada sore kemarin, untuk terakhir kalinya kau bisa mengatakan “kau anak seorang penyihir” untuk suamimu. Setelah kehilangan Rio, kau pun kehilangan suamimu. Ia mati di sebuah diskotik setelah menelan segenggam obat penenang.
Tags :



