-------

Jumat, 23 November 2012

Filem The Flowers of War

Beberapa waktu lalu, atas rekomendasi seseorang, saya menonton sebuah film berjudul The Flower of War. Filem tersebut disutradarai oleh Yi Mou Zhang menceritakan tentang pengorbanan dibalik penyerangan Cina oleh tentara Jepang.

Cina mengalami kekalahan hingga Jepang berhasil menduduki kota Nanking. Saat itu sebagian warga sipil yang selamat berlomba-lomba mencari aman. Ada yang langsung keluar dari Nanking ada pula yang pergi ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Lalu ada sekelompok pelacur yang juga ikut mencari pelindung. Tempat tujuan mereka adalah sebuah gereja yang dikelola oleh seorang misionaris barat. Menurut mereka, orang Jepang tidak akan menganggu orang barat. 


Rabu, 21 November 2012

Memaknai Sastra

Malam ini seorang teman mengirim link wawancara Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review (LBR) dengan Linda Christanty, salah seorang sastrawati Indonesia yang sudah dua kali meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA). Dari jawaban-jawaban Linda pada wawancara tersebut, khusus yang berkait dengan sastra, saya belajar sesuatu.


At All Cost

At all cost adalah ungkapan inggris yang bermakna memperjuangkan sesuatu hingga darah penghabisan. Menemukan istilah ini membuat saya teringat ibu saya di kampung. Ibunda saya berjuang at all cost untuk anak-anaknya. Sampai hari ini pun beliau masih begitu. Saya teringat ketika adik saya yang paling kecil bersekolah jauh di kota. Setelah bangun pagi, ibunda saya membereskan urusan dapur lalu melawan dingin pagi mengantar adik saya ke sekolah. Setelah itu pulang  dan berangkat mengajar di daerah pedalaman dengan murid-murid yang bebalnya luar biasa. Sepulang dari sana Ibunda saya pergi ke sawah. 


Selasa, 06 November 2012

Cerita Sabtu Pagi

Pada sabtu pagi yang cerah (kedengarannya seperti kalimat anak SD), saya tak ada agenda kecuali mengajar selama satu jam pada sorenya. Setelah bangun tidur saya duduk-duduk di beranda. Rumah saya  terletak di Jeulingke tepatnya pada perbatasan antara Lingke dengan Tibang, Banda Aceh. Lorong menuju rumah saya itu adalah jalan aspal yang buntu. Kata ibu saya yang kini menetap di kampung, dulu jalan itu tembus hingga ke jalan utama. Tapi setelah tsunami seseorang membeli lahan dan pemilik lahan tersebut turut menjual jalan. Akibatnya jalan itu sekarang buntu karena dipagar oleh pemilik tanah. Di sekeliling rumah saya tumbuh banyak sekali bak ngom yang membentuk seperti hutan kecil. di bawahnya ada genangan air. Kalau melihat sekilas, seolah tak ada sesiapa tinggal di ujung sana. Tapi ternyata ada. Ada sebuah rumah shelter kayu yang saya tempati berdua dengan adik saya. "Ini seperti rumah teroris" celutuk seorang teman saat pertama menyambang.


Selasa, 16 Oktober 2012

Pemerataan Ekonomi

Alhamdulillah hari ini mendapat sedikit pencerahan setelah  membaca opini Syahrol Kirom, master filsafat Universitas Gajah Mada di Media Indonesia (16/10/12). Syahrol mengurai masalah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Krisis ini jelas terlihat pada ketidakmerataan kesejahteraan dalam bidang ekonomi. Kalau kita pergi ke pasar kita bisa dengan mudah melihat ketidakmerataan ini. Pemasukan seorang nenek-nenek yang berjualan di atas tikar lapak pinggir jalan tentu jauh berbeda dengan pemilik toko. Kalau di kota besar bahkan ada mall. Tentunya penghasilan pengusaha mall jauh lebih banyak dibanding orang yang berjualan di gerobak dorong. Padahal produk yang dijual rasanya tidak jauh berbeda. 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Di Gerbong

Di gerbong kita menghisap sepi
Bersandar pada kereta api tua yang mulai berkarat
Sembari menatap kematian bergentayangan di atap kota

Masih ingatkah kau?
Di rel besi itu dulu kita bermain
Berkelakar melepaskan layang-layang jumawa

Kita lupa saat usia dibunuh waktu
Berhelai-helai tawa luruh ke tanah
Seperti koran bekas dilumat genang air

Sudah sampai di mana kereta ini?
Di gerbong tua kini hening
Terbayang suara mayat hidup berkelakar dengan musim

Ada bulir bening di pucuk bulu mata kita
Jatuh berirama dengan harmoni luka
Di sini, di gerbong tua yang hampa.

Untuk Segelas Kopi



Duduk sejenak nikmati hari
Pada kursi kayu ditemani kopi
Sembari mengeringi keringat

Aih, tak perlu buru-buru
Biar derita gagah berdiri
Biar luka mengharu biru

Tapi mimpi tetap membara
Doa-doa harus mekar
Sebab turbin hidup terus berputar

Jumat, 05 Oktober 2012

Dari Hal Kecil

Sesekali menanyakan pada diri sendiri untuk apa sebenarnya hidup perlu. Apakah untuk mencari reputasi, prestise, atau pujian semata. 

Setelah duduk-duduk dengan dua teman yang sudah dua tahun tak jumpa, saya mendapat sesuatu.