-------

Minggu, 28 April 2013

Ditolak

Karena lelah, jam sembilan malam itu saya sudah mengantuk. Belum sempat mata terpejam, saya ingat tulisan yang belum  terkirim ke media. Tulisan itu berupa cerpen. Saya menulisnya semalam sebelumnya, selesainya jam 2 dini hari. Ceritanya tentang ujian nasional; mengisahkan keresahan seorang siswi yang mematikan rasionalitasnya. Ia minta ibunya merendam kaki ke air lalu air rendaman diminumnya. Ide ini saya dapat ketika menonton acara talkshow di TVRI Aceh beberapa hari lalu terkait ujian nasional. Seorang narasumber megatakan kejadian itu nyata.

Selain perihal janggal itu, saya juga menyentil perilaku orang tua si karakter dalam cerita itu. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri dan baru peduli pada pendidikan anaknya saat ujian nasional. Sementara hari-hari saat anaknya malas membaca, suka membolos, dan hal-hal tak pantas lainnya jarang mereka perhatikan. Ini juga cerminan yang terjadi akhir-akhir ini. Orang tua terlalu mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal pendidikan di sekolah itu, kadangkala, tak dapat diandalkan. Justru di sekolah anak-anak sekarang mengenal rokok, film porno, narkoba dan lainnya. Ada juga sedikit sentilan untuk guru. Seorang guru lelaki masuk ke kelas menolong muridnya dengan memberikan kunci jawaban. Setelah ujian murid-murid datang ke rumahnya membawa oleh-oleh sebagai ucapan terimakasih.

Karena beberapa minggu lalu masih momen ujian nasional (UN), saya tak menyiakan kesempatan. Saya lawan rasa kantuk dan lelah. Saya menuju ke warung kopi terdekat. Setelah mengedit untuk kesekian kalinya, saya mengirim melalui e-mail.  Setelah itu saya menunggu-nunggu hari minggu seperti seorang siswa menunggu penyerahan rapor dari gurunya. Tapi sayangnya, begitu hari minggu tiba, cerpen saya itu tak terpampang di koran. Saya kecewa, sudah rela melawan kantuk dan lelah untuk mengirimnya, tapi ujung-ujungnya tak dimuat.

Apa mungkin karena tulisan saya itu terlalu tajam dan ditakutkan ada yang tersinggung? Dalam sastra saya memang cenderung pada aliran realisme sosialis. Sebuah aliran sastra yang produk sastranya muncul dari kebobrokan sosial atau patologi. Dalam aliran ini sastra, meski fiksi, merupakan cerminan sebenarnya dari realitas. Contohnya karya-karya Anton Chekov, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, dan termasuk juga Iwan Fals. Mungkin karena ini maka media tak memuat atau bisa pula ada tulisan lain yang lebih layak dari punya saya. Meski ketika saya baca biasa-biasa saja.

Tapi saya tak boleh menyerah. Harus mencoba lagi. Saya pernah membaca komentar Ayi Jufridar, penulis novel Putroe Neng, kepada teman saya Nazar Shah Alam, "Pokoknya kita menulis dan membaca saja terus" Intinya dimuat atau tidak bukan urusan kita. Itu urusan redaktur. Kata teman saya yang lain, masing-masing sudah punya pekerjaan sendiri. Penulis bertugas menulis, redaktur bertugas memuat (atau tidak memuat), dan pembaca bertugas membaca. Tapi di antara ketiga ini, menulislah yang paling sulit. Terkadang demi sebuah cerita seorang pengarang harus bergadang. Sementara redaktur hanya memilih saja mana yang cocok. Yang paling enak adalah pembaca. Ketika ia dapati satu atau dua baris tidak menyenangkan, maka dibukanya halaman lain.

Seorang penulis kawakan juga pernah bilang: "Pesanku adalah, jangan terlalu anggap serius setiap penolakan" Kisah-kisah penolakan-penolakan ini juga bagian dari cerita perjuangan para penulis sukses.Semoga semangat saya tak kendur. [] 

Kamis, 28 Maret 2013

Menggambar Karakter

Seminggu sekali saya ikut kelas menulis kreatif. Minggu ini, dua hari yang lalu, kami diajari tentang deskripsi karakter. Secara umum ada dua hal penting ketika mencipta karakter dalam cerpen atau novel. Yang pertama adalah sisi anatomi dan yang kedua sisi personalitas. Kedua unsur ini menjadi penentu apakah pembaca peduli dengan cerita kita atau menatap judul saja sekilas. 

Sisi anatomi adalah penggambaran fisik. Apakah karakter yang kita ciptakan bertubuh tinggi, pincang, bermisai rimbun dan sebagainya. Sebagai contoh penggambaran sosok Hasan dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hosseni. Hasan digambarkan sebagai bocah berbibir sumbing; sehingga antara ekspresi senang dan sedihnya nyaris tak terbedakan. Begitu pula penggambaran ayah Hasan yaitu Ali. Ia dilukiskan sebagai seorang ayah yang bekaki pincang. Kalau berjalan tubuhnya naik turun berima.

Setelah sisi anatomi karakter berhasil digambarkan dengan baik, penting juga memasukkan ruh ke dalamnya supaya karakter tampak hidup. Bagian ini disebut sisi personalitas. Sisi ini meliputi perangai, kebiasaan, pandangan hidup, dan nilai-nilai yang dianut oleh karakter. Contoh karakter yang unik adalah Ranchordas Chancad dalam film 3 Idiots. Orang-orang lebih hafal pada namanya ketimbang nama penulis cerita atau sutradara. Karakter Rancho menjadi terkesan karena penggambaran perangai dan pandangannya terhadap pendidikan begitu mencolok. Ia tidak belajar untuk ijazah.

Kedua sisi karakter (anatomi dan personalitas) menjadi penting dalam prosa karena itu salah satu daya tarik dan penentu kualitas sebuah cerita. Konon ada pembaca yang jatuh cinta pada karakter Edward Cullen dalam novelnya Stephenie Meyer,Twilight. Padahal waktu itu novel tersebut belum difilmkan. Di sini letak kepiawaian seorang Meyer dalam menggambarkan karakter baik dari sisi anatomi maupun personalitas, ia menghipnotis pembacanya. 

Sebagaimana nasihat klise yang umum kita dapat dalam pelatihan tulis-menulis, tak terbantahkan bahwa kemampuan menggambarkan karakter ini juga diasah dengan banyak membaca dan banyak berlatih menulis. Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari seorang peraih nobel sastra, William Faulkner: "Baca, baca, bacalah. Baca semuanya –karya sampah, karya klasik, tulisan bagus dan tulisan jelek, dan lihat bagaimana cara mereka melakukannya. Sama seperti tukang kayu yang baru belajar. Baca! Anda akan menyerapnya. Kemudian tulis. Jika bagus, Anda akan mengetahuinya. Jika tidak, lempar saja keluar jendela." []










Selasa, 19 Maret 2013

Saya dan Film India

Waktu kecil, saya suka sekali menonton film India. Karena tidak punya televisi, saya menghabiskan waktu di rumah orang selama berjam-jam; sampai film India itu habis. Dulu film india diputar mulai dari jam sembilan pagi di TPI. Jadi, jika tidak ada sekolah, itulah agenda utama saya dan teman-teman. Sekarang pun saya suka film India. Meski tidak sedoyan dulu. Beberapa waktu terakhir saya iseng membuat sebuah grup di facebook. Namanya KOPELAFIA, Komunitas Pecinta Lagu dan Film India. Saya terkejut, ternyata ramai juga peminat film india.

Di antara film india yang saya tonton,  rata-rata ada adegan atau alur cerita yang mampu menguras air mata penonton. Di sinilah, menurut saya, perbedaan mendasar antara film india dengan film barat. Film india cenderung bermain-main di wilayah emosi. Meski begitu, dulu saya tidak pernah (berani) menangis. Karena ketika kami kecil, terdapat kebiasaan mencari mata siapa di antara kami yang sembab saat ada adegan sedih atau mengharukan. Ketika kedapatan, maka kami akan mengejeknya sampai merah muka. 

Konon, apa yang kita tonton berpengaruh pada perilaku kita. Suatu malam, usai salat isya berjamaah dan orang-orang telah pulang, saya memutuskan duduk sendirian di tangga mesjid. Saya memikirkan Rohit (Hritik Roshan) dalam film Kaho Naa... Pyaar Hai. Dia dibunuh oleh sekelompok orang karena Rohit tidak sengaja menyaksikan sekelompok orang itu menghabiskan nyawa seseorang. Karena tidak ingin ada saksi mata, maka bandit itu memutuskan membunuh Rohit juga. Dengan jip bandit-bandit itu mengejar Rohit yang bersepeda motor. Nafas saya tertahan saat ia akhirnya terjatuh ke dalam sungai dan meninggal. Lebih miris, mayatnya (sengaja) tidak ditemukan.  Oh Tuhan, tragis sekali itu! Saya tak sanggup memikirkannya. Lalu sambil duduk itu saya menyanyikan lagu pilu yang menjadi soundtrack film tersebut. Karena tidak tahu kata-katanya, saya menyanyikannya dengan hidung, hmm.... hmm...hmm... hmm.... (saya tidak ingat apakah  ada cairan bening mengalir di pipi) Begitulah saya dulu.

Kamis, 14 Maret 2013

Tentang Sombong dan Menghargai

Kalau blog ini saya anggap teman, mungkin saya harus bercerita tentang apa yang ada dalam hati saya. 

Dalam hidup saya sebenarnya tidak ingin membenci siapa pun. Saya berharap bisa menjalani hari dengan baik. Jika Tuhan telah membuat saya memulai hidup ini dengan baik, saya juga ingin menutupinya dengan baik. Tanpa bercita-cita untuk keburukan atau kejahatan. Tapi di saat bersamaan saya, anda, dan kita semua diberikan perasaan. Ada emosi yang membuat kita menghadapi bermacam dinamika.

Siapa pun tidak suka pada kesombongan apalagi kecongkakan. Itu sifat tak elok kata Nabi. Saya selalu berharap sifat itu tidak melekat pada diri saya. Saya sering melihat orang-orang yang sombong. Beberapa di antaranya mereka yang memiliki kehebatan dalam bidang tertentu semisal fotografi, film, musik, atau kepenulisan/sastra. Saya sering mendengar mereka merendahkan orang lain yang masih belajar. Saya tidak tahu apakah ini salah satu cara  membunuh calon pesaing baru  atau semata-mata karena mereka dihinggapi (meminjam istilah Andrea Hirata) penyakit gila: mengganggap diri istimewa.

Senin, 04 Februari 2013

Oh Nona

Di atas sana Nona berdiri mengangkang. Lalu dengan anggunnya ia berak di atas kepala kami.

Aih, pada siapa kami mengadu?

Untuk Nona dan Nyonya Di Gedung Sana

Nyonya dan Nona di gedung sana,
Janganlah dengan sedikit jabatan itu Nyonya dan Nona menjadi sombong. 

Tak perlulah Nona dan Nyonya meruncingkan mulut dan memasamkan wajah saat melihat batang hidung kami yang kurang mancung. 

Tak eloklah jika Nyonya dan Nona melihat kelapa pada kulit luarnya saja yang kusam nan berkerut. Tapi tengoklah ke dalam. Ada putih yang menghasilkan santan dan bisa melezatkan dodol Nona dan Nyonya. 

Kami tak pandai menjilat kulit durian. Karena itu janganlah Nona dan Nyonya memandang kami dengan ujung mata. Karena kami khawatir, suatu saat turbin berputar dan Nyonya juga Nona akan menyesal. 

Bila tak mampu melihat kami dengan kacamata agama, maka tataplah melalui kacamata cinta. 

Nyonya dan Nona di gedung sana, bukankah memperlakukan binatang dengan cara baik-baik adalah perbuatan mulia? Apalagi manusia. 

Nyonya dan Nona di gedung sana, tersenyumlah sekali pada kami. Kami telah bosan pada gonggongan.

Senin, 21 Januari 2013

Tini Binti Kutubujaden

Sudah maktub jika nenek-nenek kita terdahulu menamai bulan hijriah dengan nama-nama tertentu. Ada bulan asan usen untuk menyebut muharram, sapha untuk safar, khanduri bungong kayee untuk jumadil akhir dan disebut apam untuk bulan rajab. Maka pada suatu sore, awan hitam menggumpal di ufuk barat. Halilintar menyalak seperti dengan kilat mirip pola akar kayu. Tepat pada bulan apam, saat guntur ke lima belas, lahirlah seorang bayi. Tangisnya pecah, melengking tak kenal ampun. Kelak polah bayi perempuan itu akan sama dengan nama bulan lahirnya itu, meuapam. 

Namanya Tini binti Kutubujaden. Bukan main senangnya hati Maimunah, ibundanya. Seorang mantan kembang desa berparas anggun. Ia tersenyum lega melepas lelah melahirkan. Wajahnya masih pucat. Ayah Tini, Kaoy bin sadikin langsung menarik nafas dalam-dalam seolah menghirup rakus seluruh kebahagiaan di setiap sudut semesta. Ditempelnya kedua telapak di telinga. Lalu suaranya yang bak bambu pecah itu mengalunkan azan dengan makhraj yang tak melanggar hukum. Suara itu menggema ke seisi rumah sakit.

Tahun demi tahun Tini tumbuh hingga sampailah saatnya ia bersekolah. Ia berkulit putih mirip ibundanya. Di antarnya dia ke sekolah dasar kampungnya, SD Negeri Cinta Ibu. Pada caturwulan pertama senyum Maimunah mengembang. Rapor Tini di tangan kanan. Matanya berbinar. Dia diam memejamkan mata bersiap mengatakan sesuatu “Kau seperti emak, Dek Nong. Cerdas! Juara 1. Pintalah sesuatu. Pasti mak kabulkan!” Maimunah mengelus-ngelus kepala anaknya itu. Ia menunggu Tini mengucapkan sesuatu. 

Dalam hati ia menerka-nerka apa gerangan yang akan diminta anaknya itu. Sepeda. “Mungkin sepeda sebab telah kulihat anak ini menatap setiap sepeda lewat. Kemarin lama betul ia memandang sepeda ontel penjual pisang. Atau televisi. Tapi tivi sekarang banyak paha dan dada” perempuan itu mengetuk lembut bibirnya dengan telunjuk. 
“Aku mau ke Banda Mak!” sambar Tini. Alangkah terkejutnya Maimunah. “Ngapain kau ke Banda? Kau masih kecil!” Kedua matanya terbelalak. Bocah kecil itu tersenyum saja. “Aku mau kuliah di Banda nanti Mak” kata Tini. Rasa bangga bergemuruh dalam dadanya. Betapa jauh jarak pandang anak perempuannya itu. “Pasti Dek Nong! Pasti! Kelak kau akan menjadi gadis yang berguna bagi bangsa dan negara.” 

***

Saat ditunggu-tunggu itu telah tiba. Bertahun sudah, semenjak SD. Sanggupkah kau bayangkan, Kawan? Keras betul tekad perempuan yang telah berubah postur menjadi seorang gadis itu. Namanya masih seperti yang dulu, Tini Binti Kutubujaden. Di kampungnya, cuma dia yang lulus di universitas. Senang betul ia melihat gedung-gedung universitas yang berdiri berderet. Wah, mimpi dia semakin liar. Di kuliah ia belajar mati-matian hingga selesai di saat yang tepat.

Tapi ada sesuatu yang hilang dari anak perempuan Maimunah itu semenjak ia diangkat menjadi asisten dosen di kampus. Ia pun diberi tugas melayani mahasiswa-mahasiswa baru. Tapi ada sesuatu yang aneh, kawan, itulah mengapa kusebut meuapam, selain nama bulan, ini istilah untuk menyebut sesuatu yang tak berjalan sebagaimana mestinya. 

Galaknya minta ampun. Seperti petir saat ia lahir, disambarnya setiap mahasiswa-mahasiwa yang tak berkenan di hatinya. Bukan karena mahasiswa itu jahat, tapi bisa jadi hanya karena kejahatan kecil. Katakanlah misalnya mahasiswa itu tidak ganteng, tidak sedap dipandang mata. Atau agak berantakan dan tak tampak seperti tipikal pemuda yang cinta tanah air. Dengan rambut disisir ke samping seperti Presiden SBY. Maka kukatakan padamu, Kawan, jika di dunia ini ketidakgantengan adalah sebuah kejahatan, maka aku telah ditakdirkan menjadi penjahat semenjak aku lahir.

Itu Tini, Tini Binti Kutubujaden. Kalau sudah tak berkenan di hatinya, senyum tulus pun bisa dianggap sebuah kejahatan. Sudah kubilang, ada sesuatu yang hilang dalam diri perempuan itu. Ia lupa cita-cita ibunya untuk menjadi perempuan yang berguna bagi nusa dan bangsa. Pelajaran moral yang dapat dipetik, jangan pernah berharap menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa jika tidak bisa tersenyum pada orang yang tak ganteng. Kedua, jabatan (sekecil apa pun), kecantikan, kecerdasan tak akan berguna kalau kau tak bisa menghargai ummat manusia. 

Begitulah sekilas mengenai Tini Binti Kutubujaden, Kawan. Nanti akan kuceritakan lagi kalau kau berjanji tak mengatakan tentang ini pada siapa-siapa.

Rabu, 16 Januari 2013

Kedua mata layu. Sudah lewat tengah malam. Aku masih masih di meja paling luar warung kopi ini. Mendengar sepeda motor atau mobil sesekali lewat. Sudah dua gelas kopi pancung tandas. Aku tersadar betapa waktu berjalan sangat cepat dan meninggalkan orang-orang yang berjalan pelan dan orang-orang yang lalai. Bangun di pagi hari kemudian diberi kebebasan agenda apa yang akan kita lakukan. Dalam waktu satu hari seorang penulis mungkin menyelesaikan sebuah cerita. Dalam satu jam seorang atlit bisa memanfaatkannya untuk mengembangkan otot-ototnya. Tapi bagi orang sepertiku, waktu kadang tak lebih angin lalu. Seperti kapas melayang-layang di udara. Aku baru saja mengatakan pada seorang teman, jejaring sosial betul-betul jaring. Kita adalah ikan. Kemana jaring menghalau, ke sanalah ikan akan mengerumun. Terkurung dan terkungkung. Parahnya lagi kita sering tak sadar. 

Seandainya waktu bermain facebook digantikan untuk membaca atau menulis, mungkin akan lahir-lahir tulisan-tulisan yang bermanfaat ketika dibaca. Pun itu untuk mengembangkan kapasitas diri. Seorang manusia itu ibarat sepotong besi. Jika ia tidak melakukan sesuatu untuk mengasah diri, maka besi tak akan berarti banyak. 

Memang permasalahan yang paling utama adalah persoalan manajemen waktu dan komitmen dalam menjalankan agenda-agenda.