Novel tersebut mengambil setting/latar di pulau jawa. Pribumi di sana masa itu jauh tertinggal bahkan tidak mengerti baca tulis. Satu yang paling mencolok digambarkan Pram adalah karakter Nyai Ontosoroh. Ia gadis jawa yang cantik, pribumi yang menjadi gundik seorang pria Belanda. Ketika tinggal bersama Belanda itulah pertama kali Nyai tahu sebuah benda bernama sikat gigi. Sebelumnya tak pernah pun ia lihat sikat gigi dalam hidupnya.
Minggu, 12 Mei 2013
Pelajaran Dari Nyai Ontosoroh
Novel tersebut mengambil setting/latar di pulau jawa. Pribumi di sana masa itu jauh tertinggal bahkan tidak mengerti baca tulis. Satu yang paling mencolok digambarkan Pram adalah karakter Nyai Ontosoroh. Ia gadis jawa yang cantik, pribumi yang menjadi gundik seorang pria Belanda. Ketika tinggal bersama Belanda itulah pertama kali Nyai tahu sebuah benda bernama sikat gigi. Sebelumnya tak pernah pun ia lihat sikat gigi dalam hidupnya.
Tags :
Jumat, 10 Mei 2013
Cerpen Shirley Jackson
Shirley Jackson adalah seorang penulis kawakan Amerika. Ia lahir di California pada 14 Desember 1916. Shirley banyak menulis tentang cerita-cerita horor baik novel maupun cerita pendek. Saya pertama mengetahui Shirley Jackson setelah membaca sebuah cerita pendeknya. Sampai hari ini cerita itu menjadi cerita pendek favorit yang saya baca berulang-ulang. Ada prinsip simplicity dan nada menggelitik dalam cerpen itu. Judulnya Charles. Begini ceritanya:
Charles
Karya Shirley Jackson
Pada hari pertamanya masuk TK, putraku Laurie, tidak mau lagi memakai pakaian kanak‑kanaknya dan mulai memakai celana blue jeans yang berikat pinggang. Kuperhatikan pagi itu ia berangkat bersama putri tetangga kami yang lebih tua umurnya. Terlihat jelas ada suatu masa dalam kehidupannya yang telah berakhir. Putraku yang dulu sekolah di play group dengan suara merdu khas kekanakannya, kini telah berubah menjadi satu sosok cilik yang berjalan gagah dan angkuh dengan celana panjangnya, dan sudah lupa pula berhenti di pojok jalan untuk melambaikan tangannya kepadaku.
Tags :
Minggu, 28 April 2013
Ditolak
Karena lelah, jam sembilan malam itu saya sudah mengantuk. Belum sempat mata terpejam, saya ingat tulisan yang belum terkirim ke media. Tulisan itu berupa cerpen. Saya menulisnya semalam sebelumnya, selesainya jam 2 dini hari. Ceritanya tentang ujian nasional; mengisahkan keresahan seorang siswi yang mematikan rasionalitasnya. Ia minta ibunya merendam kaki ke air lalu air rendaman diminumnya. Ide ini saya dapat ketika menonton acara talkshow di TVRI Aceh beberapa hari lalu terkait ujian nasional. Seorang narasumber megatakan kejadian itu nyata.
Selain perihal janggal itu, saya juga menyentil perilaku orang tua si karakter dalam cerita itu. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri dan baru peduli pada pendidikan anaknya saat ujian nasional. Sementara hari-hari saat anaknya malas membaca, suka membolos, dan hal-hal tak pantas lainnya jarang mereka perhatikan. Ini juga cerminan yang terjadi akhir-akhir ini. Orang tua terlalu mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal pendidikan di sekolah itu, kadangkala, tak dapat diandalkan. Justru di sekolah anak-anak sekarang mengenal rokok, film porno, narkoba dan lainnya. Ada juga sedikit sentilan untuk guru. Seorang guru lelaki masuk ke kelas menolong muridnya dengan memberikan kunci jawaban. Setelah ujian murid-murid datang ke rumahnya membawa oleh-oleh sebagai ucapan terimakasih.
Karena beberapa minggu lalu masih momen ujian nasional (UN), saya tak menyiakan kesempatan. Saya lawan rasa kantuk dan lelah. Saya menuju ke warung kopi terdekat. Setelah mengedit untuk kesekian kalinya, saya mengirim melalui e-mail. Setelah itu saya menunggu-nunggu hari minggu seperti seorang siswa menunggu penyerahan rapor dari gurunya. Tapi sayangnya, begitu hari minggu tiba, cerpen saya itu tak terpampang di koran. Saya kecewa, sudah rela melawan kantuk dan lelah untuk mengirimnya, tapi ujung-ujungnya tak dimuat.
Apa mungkin karena tulisan saya itu terlalu tajam dan ditakutkan ada yang tersinggung? Dalam sastra saya memang cenderung pada aliran realisme sosialis. Sebuah aliran sastra yang produk sastranya muncul dari kebobrokan sosial atau patologi. Dalam aliran ini sastra, meski fiksi, merupakan cerminan sebenarnya dari realitas. Contohnya karya-karya Anton Chekov, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, dan termasuk juga Iwan Fals. Mungkin karena ini maka media tak memuat atau bisa pula ada tulisan lain yang lebih layak dari punya saya. Meski ketika saya baca biasa-biasa saja.
Selain perihal janggal itu, saya juga menyentil perilaku orang tua si karakter dalam cerita itu. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri dan baru peduli pada pendidikan anaknya saat ujian nasional. Sementara hari-hari saat anaknya malas membaca, suka membolos, dan hal-hal tak pantas lainnya jarang mereka perhatikan. Ini juga cerminan yang terjadi akhir-akhir ini. Orang tua terlalu mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal pendidikan di sekolah itu, kadangkala, tak dapat diandalkan. Justru di sekolah anak-anak sekarang mengenal rokok, film porno, narkoba dan lainnya. Ada juga sedikit sentilan untuk guru. Seorang guru lelaki masuk ke kelas menolong muridnya dengan memberikan kunci jawaban. Setelah ujian murid-murid datang ke rumahnya membawa oleh-oleh sebagai ucapan terimakasih.
Karena beberapa minggu lalu masih momen ujian nasional (UN), saya tak menyiakan kesempatan. Saya lawan rasa kantuk dan lelah. Saya menuju ke warung kopi terdekat. Setelah mengedit untuk kesekian kalinya, saya mengirim melalui e-mail. Setelah itu saya menunggu-nunggu hari minggu seperti seorang siswa menunggu penyerahan rapor dari gurunya. Tapi sayangnya, begitu hari minggu tiba, cerpen saya itu tak terpampang di koran. Saya kecewa, sudah rela melawan kantuk dan lelah untuk mengirimnya, tapi ujung-ujungnya tak dimuat.
Apa mungkin karena tulisan saya itu terlalu tajam dan ditakutkan ada yang tersinggung? Dalam sastra saya memang cenderung pada aliran realisme sosialis. Sebuah aliran sastra yang produk sastranya muncul dari kebobrokan sosial atau patologi. Dalam aliran ini sastra, meski fiksi, merupakan cerminan sebenarnya dari realitas. Contohnya karya-karya Anton Chekov, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, dan termasuk juga Iwan Fals. Mungkin karena ini maka media tak memuat atau bisa pula ada tulisan lain yang lebih layak dari punya saya. Meski ketika saya baca biasa-biasa saja.
Tapi saya tak boleh menyerah. Harus mencoba lagi. Saya pernah membaca komentar Ayi Jufridar, penulis novel Putroe Neng, kepada teman saya Nazar Shah Alam, "Pokoknya kita menulis dan membaca saja terus" Intinya dimuat atau tidak bukan urusan kita. Itu urusan redaktur. Kata teman saya yang lain, masing-masing sudah punya pekerjaan sendiri. Penulis bertugas menulis, redaktur bertugas memuat (atau tidak memuat), dan pembaca bertugas membaca. Tapi di antara ketiga ini, menulislah yang paling sulit. Terkadang demi sebuah cerita seorang pengarang harus bergadang. Sementara redaktur hanya memilih saja mana yang cocok. Yang paling enak adalah pembaca. Ketika ia dapati satu atau dua baris tidak menyenangkan, maka dibukanya halaman lain.
Seorang penulis kawakan juga pernah bilang: "Pesanku adalah, jangan terlalu anggap serius setiap penolakan" Kisah-kisah penolakan-penolakan ini juga bagian dari cerita perjuangan para penulis sukses.Semoga semangat saya tak kendur. []
Tags :
Kamis, 28 Maret 2013
Menggambar Karakter
Seminggu sekali saya ikut kelas menulis kreatif. Minggu ini, dua hari yang lalu, kami diajari tentang deskripsi karakter. Secara umum ada dua hal penting ketika mencipta karakter dalam cerpen atau novel. Yang pertama adalah sisi anatomi dan yang kedua sisi personalitas. Kedua unsur ini menjadi
penentu apakah pembaca peduli dengan cerita kita atau menatap judul saja sekilas.
Sisi anatomi adalah penggambaran fisik. Apakah karakter yang kita ciptakan bertubuh tinggi, pincang, bermisai rimbun dan sebagainya. Sebagai contoh penggambaran sosok Hasan dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hosseni. Hasan digambarkan sebagai bocah berbibir sumbing; sehingga antara ekspresi senang dan sedihnya nyaris tak terbedakan. Begitu pula penggambaran ayah Hasan yaitu Ali. Ia dilukiskan sebagai seorang ayah yang bekaki pincang. Kalau berjalan tubuhnya naik turun berima.
Setelah sisi anatomi karakter berhasil digambarkan dengan baik, penting juga memasukkan ruh ke dalamnya supaya karakter tampak hidup. Bagian ini disebut sisi personalitas. Sisi ini meliputi perangai, kebiasaan, pandangan hidup, dan nilai-nilai yang dianut oleh karakter. Contoh karakter yang unik adalah Ranchordas Chancad dalam film 3 Idiots. Orang-orang lebih hafal pada namanya ketimbang nama penulis cerita atau sutradara. Karakter Rancho menjadi terkesan karena penggambaran perangai dan pandangannya terhadap pendidikan begitu mencolok. Ia tidak belajar untuk ijazah.
Kedua sisi karakter (anatomi dan personalitas) menjadi penting dalam prosa karena itu salah satu daya tarik dan penentu kualitas sebuah cerita. Konon ada pembaca yang jatuh cinta pada karakter Edward Cullen dalam novelnya Stephenie Meyer,Twilight. Padahal waktu itu novel tersebut belum difilmkan. Di sini letak kepiawaian seorang Meyer dalam menggambarkan karakter baik dari sisi anatomi maupun personalitas, ia menghipnotis pembacanya.
Sebagaimana nasihat klise yang umum kita dapat dalam pelatihan tulis-menulis, tak terbantahkan bahwa kemampuan menggambarkan karakter ini juga diasah dengan banyak membaca dan banyak berlatih menulis. Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari seorang peraih nobel sastra, William Faulkner: "Baca, baca, bacalah. Baca semuanya –karya sampah, karya klasik, tulisan bagus dan tulisan jelek, dan lihat bagaimana cara mereka melakukannya. Sama seperti tukang kayu yang baru belajar. Baca! Anda akan menyerapnya. Kemudian tulis. Jika bagus, Anda akan mengetahuinya. Jika tidak, lempar saja keluar jendela." []
Sebagaimana nasihat klise yang umum kita dapat dalam pelatihan tulis-menulis, tak terbantahkan bahwa kemampuan menggambarkan karakter ini juga diasah dengan banyak membaca dan banyak berlatih menulis. Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari seorang peraih nobel sastra, William Faulkner: "Baca, baca, bacalah. Baca semuanya –karya sampah, karya klasik, tulisan bagus dan tulisan jelek, dan lihat bagaimana cara mereka melakukannya. Sama seperti tukang kayu yang baru belajar. Baca! Anda akan menyerapnya. Kemudian tulis. Jika bagus, Anda akan mengetahuinya. Jika tidak, lempar saja keluar jendela." []
Tags :
Selasa, 19 Maret 2013
Saya dan Film India
Waktu kecil, saya suka sekali menonton film India. Karena tidak punya televisi, saya menghabiskan waktu di rumah orang selama berjam-jam; sampai film India itu habis. Dulu film india diputar mulai dari jam sembilan pagi di TPI. Jadi, jika tidak ada sekolah, itulah agenda utama saya dan teman-teman. Sekarang pun saya suka film India. Meski tidak sedoyan dulu. Beberapa waktu terakhir saya iseng membuat sebuah grup di facebook. Namanya KOPELAFIA, Komunitas Pecinta Lagu dan Film India. Saya terkejut, ternyata ramai juga peminat film india.
Di antara film india yang saya tonton, rata-rata ada adegan atau alur cerita yang mampu menguras air mata penonton. Di sinilah, menurut saya, perbedaan mendasar antara film india dengan film barat. Film india cenderung bermain-main di wilayah emosi. Meski begitu, dulu saya tidak pernah (berani) menangis. Karena ketika kami kecil, terdapat kebiasaan mencari mata siapa di antara kami yang sembab saat ada adegan sedih atau mengharukan. Ketika kedapatan, maka kami akan mengejeknya sampai merah muka.
Konon, apa yang kita tonton berpengaruh pada perilaku kita. Suatu malam, usai salat isya berjamaah dan orang-orang telah pulang, saya memutuskan duduk sendirian di tangga mesjid. Saya memikirkan Rohit (Hritik Roshan) dalam film Kaho Naa... Pyaar Hai. Dia dibunuh oleh sekelompok orang karena Rohit tidak sengaja menyaksikan sekelompok orang itu menghabiskan nyawa seseorang. Karena tidak ingin ada saksi mata, maka bandit itu memutuskan membunuh Rohit juga. Dengan jip bandit-bandit itu mengejar Rohit yang bersepeda motor. Nafas saya tertahan saat ia akhirnya terjatuh ke dalam sungai dan meninggal. Lebih miris, mayatnya (sengaja) tidak ditemukan.
Oh Tuhan, tragis sekali itu! Saya tak sanggup memikirkannya. Lalu sambil duduk itu saya menyanyikan lagu pilu yang menjadi soundtrack film tersebut. Karena tidak tahu kata-katanya, saya menyanyikannya dengan hidung, hmm.... hmm...hmm... hmm.... (saya tidak ingat apakah ada cairan bening mengalir di pipi) Begitulah saya dulu.
Tags :
Kamis, 14 Maret 2013
Tentang Sombong dan Menghargai
Kalau blog ini saya anggap teman, mungkin saya harus bercerita tentang apa yang ada dalam hati saya.
Dalam hidup saya sebenarnya tidak ingin membenci siapa pun. Saya berharap bisa menjalani hari dengan baik. Jika Tuhan telah membuat saya memulai hidup ini dengan baik, saya juga ingin menutupinya dengan baik. Tanpa bercita-cita untuk keburukan atau kejahatan. Tapi di saat bersamaan saya, anda, dan kita semua diberikan perasaan. Ada emosi yang membuat kita menghadapi bermacam dinamika.
Siapa pun tidak suka pada kesombongan apalagi kecongkakan. Itu sifat tak elok kata Nabi. Saya selalu berharap sifat itu tidak melekat pada diri saya. Saya sering melihat orang-orang yang sombong. Beberapa di antaranya mereka yang memiliki kehebatan dalam bidang tertentu semisal fotografi, film, musik, atau kepenulisan/sastra. Saya sering mendengar mereka merendahkan orang lain yang masih belajar. Saya tidak tahu apakah ini salah satu cara membunuh calon pesaing baru atau semata-mata karena mereka dihinggapi (meminjam istilah Andrea Hirata) penyakit gila: mengganggap diri istimewa.
Dalam hidup saya sebenarnya tidak ingin membenci siapa pun. Saya berharap bisa menjalani hari dengan baik. Jika Tuhan telah membuat saya memulai hidup ini dengan baik, saya juga ingin menutupinya dengan baik. Tanpa bercita-cita untuk keburukan atau kejahatan. Tapi di saat bersamaan saya, anda, dan kita semua diberikan perasaan. Ada emosi yang membuat kita menghadapi bermacam dinamika.
Siapa pun tidak suka pada kesombongan apalagi kecongkakan. Itu sifat tak elok kata Nabi. Saya selalu berharap sifat itu tidak melekat pada diri saya. Saya sering melihat orang-orang yang sombong. Beberapa di antaranya mereka yang memiliki kehebatan dalam bidang tertentu semisal fotografi, film, musik, atau kepenulisan/sastra. Saya sering mendengar mereka merendahkan orang lain yang masih belajar. Saya tidak tahu apakah ini salah satu cara membunuh calon pesaing baru atau semata-mata karena mereka dihinggapi (meminjam istilah Andrea Hirata) penyakit gila: mengganggap diri istimewa.
Tags :
Senin, 04 Februari 2013
Oh Nona
Di atas sana Nona berdiri mengangkang. Lalu dengan anggunnya ia berak di atas kepala kami.
Aih, pada siapa kami mengadu?
Aih, pada siapa kami mengadu?
Tags :
Untuk Nona dan Nyonya Di Gedung Sana
Nyonya dan Nona di gedung sana,
Janganlah dengan sedikit jabatan itu Nyonya dan Nona menjadi sombong.
Tak perlulah Nona dan Nyonya meruncingkan mulut dan memasamkan wajah saat melihat batang hidung kami yang kurang mancung.
Tak eloklah jika Nyonya dan Nona melihat kelapa pada kulit luarnya saja yang kusam nan berkerut. Tapi tengoklah ke dalam. Ada putih yang menghasilkan santan dan bisa melezatkan dodol Nona dan Nyonya.
Kami tak pandai menjilat kulit durian. Karena itu janganlah Nona dan Nyonya memandang kami dengan ujung mata. Karena kami khawatir, suatu saat turbin berputar dan Nyonya juga Nona akan menyesal.
Bila tak mampu melihat kami dengan kacamata agama, maka tataplah melalui kacamata cinta.
Nyonya dan Nona di gedung sana, bukankah memperlakukan binatang dengan cara baik-baik adalah perbuatan mulia? Apalagi manusia.
Nyonya dan Nona di gedung sana, tersenyumlah sekali pada kami. Kami telah bosan pada gonggongan.
Tags :






