-------

Senin, 09 Desember 2013

Kawan Saya Dokter Hewan

“Hidupku kurang tantangan!” celoteh teman saya. Ia sedang mengoperasi penis kambing waktu itu. “Jadi dokter hewan itu terlalu aman. Misalnya begini,” Tiba-tiba saya mendengar kambing itu mengembik keras. Saya terkejut. “Aman kan?” ia terbahak lalu beranjak mengambil kopi. Kawan saya menyentil testis kambing itu. 


“Nah, coba kalau yang kita sentil itu manusia? Pasti ngamuk dia! Pasti ngadu, melapor. Itu wajar karena manusia. Kalau ada yang tak melakukan apa-apa ketika diperlakukan semena-mena, itu berarti dia kambing. Kambing yang terperangkap dalam tubuh manusia. Haha...” teman saya menyeruput kopi. 



“Tapi sekarang susah juga kalau protes. Apalagi rakyat kecil seperti kau. Kau ingat kasus Prita beberapa waktu lalu itu kan? Itu gara-gara ia protes atas perlakuan semena-mena pihak rumah sakit. Tapi ujung-ujungnya dia yang bermasalah. Dianggap melakukan pencemaran nama baiklah, inilah, itulah. Ada-ada saja negara ini” ia berdehem.


“Tapi hidupku memang kurang tantangan, kurang risiko. Sebenarnya inilah akibat dari tak ada risiko itu. Tak ada yang menghukum. Jadi saya bisa semena-mena memperlakukan kambing. Yah, namanya saja kambing. Macam mana ia mau melapor! Kau pun, kalau kau mau sentil itu testis, juga boleh. Mau?” 

Saya menggeleng kepala dan tertegun beberapa saat. “Kalau kambing itu bisa bicara pasti kau ditangkap, diadili” kata saya. Teman saya kembali terbahak. “Mana ada kambing bisa ngomong. Kalau pun bisa, dan ia melapor, aku punya banyak teman. Bisa unjuk rasa. Bisa saja aku bilang itu kriminalisasi yang dilakukan kambing terhadapku. Zaman sekarang, Bro, siapa yang ramai dia yang menang. Apalagi kalau golongan menengah ke atas. Soal hukum, gampanglah itu!” Ia menggesek-gesekkan telunjuk dengan ibu jari.

“Tapi kau harus sadar, Bro. Aku ini dokter hewan. Di tempat kita, pekerjaanku tidak terlalu berisiko. Ya karena itu tadi. Binatang tak bisa ngomong. Tapi konsekuensinya tahu sendiri. Kalau risiko kecil, uangnya pun kecil. Kalau tidak mau risiko besar tapi mau uang banyak, ya jadi dokter manusia, tapi jangan di luar negeri. Atau mau risiko tapi tidak mau uang, ya jadi kambing aja!” 

Sabtu, 07 Desember 2013

Oh Mandela



“If there are dreams about a beautiful South Africa, there are also roads that lead to their goal. Two of these roads could be named Goodness and Forgiveness (Nelson Mandela).”




INGUS saya merembes. Saya sedih dan tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Berbagi dengan Pak Presiden, tidak mungkin. Dengan Pak Gubernur apalagi. Lagi pula, tahu apa mereka soal Nelson Mandela. Kemarin, 6/12/2013, di usia 95, pemimpin idola saya itu menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan.

Pertama mendengar Mandela, saya masih gadis. Teman saya banyak bercerita tentangnya. Orang bergelar Madiba ini terlahir sebagai orang kulit hitam di Mvezo, 18 Juli 1918. Dan itu bertanda buruk. Sebab akan diperlakukan buruk oleh orang kulit putih, waktu itu. 

Saya pernah melihat foto lama sebuah pantai di Afrika Selatan. Di sana dibuat batasan: tempat berenang orang kulit putih dan tempat berenang orang kulit hitam. Hampir sama seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat. Konon, di pintu toko orang kulit putih di sana tertulis, “Anjing dan orang kulit hitam dilarang masuk!” 

Kejam sekali, Pembaca! Tentang bagaimana bisa orang yang mengaku diri paling waras, paling maju, dan paling beradab bisa berbuat demikian, saya tidak mengerti. Tapi katanya sekarang tidak lagi. Katanya. 

Karena diskriminasi itu Mandela melawan. Ia kemudian sempat dituduh teroris. Ini memang cerita lama. Setiap ada yang mengonggong, yang berkuasa akan langsung memberi label semisal teroris, GPK, PKI, dll. Mandela ditangkap dan dipenjara selama 27 tahun. Kata teman saya, dalam penjara Mandela pernah dikencingi. Ini memang kurang ajar, Pembaca! Kencing ke sarang semut saja kita dilarang, apalagi ke kepala manusia?

Tapi yang membuat saya terharu, ketika terpilih menjadi presiden, Mandela tidak menaruh dendam. Ia duduk tersenyum dan makan bersama orang yang mengencinginya dulu. Ada kata-katanya yang bijak, “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner.”

Ini mengingatkan saya pada cerita Nabi Muhammad yang berturut-turut dilempari taik unta. Ketika suatu hari Nabi tahu si pelempar itu jatuh sakit, Nabi berkunjung ke rumahnya, selayaknya mengunjungi seorang sahabat yang sedang terbaring.

Tapi sayangnya, Mandela tak sempat ke Indonesia untuk memberi kursus. Saya punya impian melihat Pak Presiden, Pak Gubernur, Pak Bupati, dan Pak Keusyik memasang tas kuning bergambar Hello Kitty lalu dengan penuh ceria pergi mengaji pada Pak Mandela. 

Ini perlu Pembaca. Sebab di tempat kita, jangan harap menjadi menteri, kepala dinas termasuk juga kepala sekolah, kalau semasa kampanye kita menjadi lawan politik. Walau pun kita pandai, punya pengalaman cukup, ahli, berkapasitas untuk memajukan, dan sebagainya. Tetap tak akan dipakai. 

Kalau di tempat orang ada slogan, “lawan bukanlah musuh”, di tempat kita “lawan adalah najis”. Jangankan itu, untuk saling berpelukan saja susah. Mungkin karena takut dikira homo kali ya?

Tapi ya sudahlah, Pembaca. Yang jelas saya sedih. Sebentar ya, saya ambil sapu tangan dulu.[]

Rabu, 04 Desember 2013

Merawat Lidah

PEMBACA budiman, Pembaca tahu ini tanggal 4 Desember. Saya malas bicara tentang ini. Bukan karena ini ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka, tapi tanggal ini beberapa hari terakhir mengingatkan saya pada sebuah pepatah lama. “Kalau bunuh ular, jangan di ekor. Bisa celaka”. Saya takut sekali pada ular. Hewan melata itu tak hanya menggigit, tapi berbisa, mematikan. Begitu juga kalau punya niat membunuh burung. Burung garuda misalnya. Jangan di ekor, pembaca harus ingat, ia punya paruh. 

Tapi untuk apa bicara tentang bunuh-membunuh. Tidak baik, Pembaca. Kita kan diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati. Contoh saja yang dilakukan oleh pemimpin kita di bulan agustus lalu. Meski dulu gontok-gontokan, apoh-apah, saling me-yatim-kan, berdarah-darah, juga sumpah serapah membenci garuda, toh mereka akhirnya berdiri dengan khusyu dan takzim menghormati sang saka. Saya terharu.  

Tapi haru saya kemudian berubah rasa. Kalau kita umpamakan, ibarat memakan durian tapi berasa daun pepaya. Sudah saya bilang, saya malas bicara tentang ini. Karena saya akan teringat lagi pada perjumpaan dengan seorang teman lama. Saya mengenalnya sebagai seorang yang taat.  Awalnya ia bekerja di toko bangunan. Tamat SMA. Tapi setelah beberapa tahun tak bertemu, saya melihatnya sumringah. Ia baru membeli simbol dan aksesoris untuk baju dinas. Anak muda itu diterima sebagai pegawai di sebuah institusi pemerintah. Yang membanggakan, ia diterima tanpa tes, tanpa perlu tetek bengek administrasi. Bukan sebab prestasi atau kontribusi, tapi karena pamannya yang dulu bergerilya kini jadi bupati. Saya jadi iri. Kenapa paman saya mau mencangkul di sawah. Maksudnya, kenapa tidak jadi bupati saja. 

Saya juga malas bicara ini sebab bisa mengingatkan saya pada Pak Harto lagi. Kata nenek saya, zaman Soeharto kita tak boleh ngomong sembarangan. Bisa diculik bahkan dibunuh. Kan dulu pernah ada Operasi Petrus alias penembak misterius. Setiap orang yang dianggap berpotensi mengganggu sistem atau kekuasaan, akan dihabisi. Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel hebat ditulis oleh Andre Vltchek. Katanya, In Indonesia, Suharto stepped down, but the system survived, it even hardened itself.  Di Indonesia, Suharto memang sudah turun, tapi sistemnya masih terus berjalan, bahkan lebih kuat. Karena itu, Pembaca, kalau saya bicara tentang ini, saya masih berisiko digertak, diculik atau dibunuh meski niat saya hanya untuk mempertahankan akal sehat. Kan kita tahu cerita penembakan Cagee beberapa waktu lalu. Dia kan juga ditembak oleh penembak misterius. Saya curiga jangan-jangan itu gara-gara omongan yang mengganggu tidur tuan besar. Belum lagi cerita teman saya, ada kawannya diteror gara-gara menggagas demo.

Karena alasan-alasan itulah, Pembaca budiman, saya malas bicara tentang ini. Daripada-daripada, lebih baik saya diam saja.[]




Minggu, 01 Desember 2013

Republik Nakal


SAYA ini memang nakal dan sering tak berdaya di hadapan wanita cantik. Saya suka mencuri-curi pandang sambil berkhayal. Padahal saya pernah diajari kalau perbuatan itu tak baik. Tapi saya ini persis seperti kata seseorang yang saya lupa namanya, “Aku bisa menahan apa pun kecuali godaan”.

Saya memang nakal dan mudah tergoda. Tapi jangan pembaca terlalu kejam menghakimi saya seperti itu. Pasalnya, senakal-nakal saya, negara kita Indonesia ini jauh lebih nakal. Saya sudah bilang saya ini mudah tergoda, tapi ibu Nafsiah binti Haji Walinono tega memanfaatkan ketidakberdayaan ini dengan membagi-bagikan kondom. Gratis pula! Siapa yang tidak suka dengan yang gratis-gratis? Anak kecil pun mau kalau dikasih kondom gratis. Kita kan punya adagium, meunyo pre, gambe mangat!

Kalau kondom gratis ini dibagikan masa saya kecil dulu, saya akan meniupnya karena yang saya tahu kondom itu nama lain dari balon. Jadi ceritanya begini, dulu di meunasah saya pernah mendengar beberapa orang tua bergosip tentang seseorang lelaki. Ia digrebek di kota. Dalam kamarnya ditemukan kondom. Saya melihat ekspresi kejut orang tua itu begitu mendengar kata kondom. Sontak saya penasaran. Ketika mereka sudah pulang, diam-diam saya bertanya pada ustaz saya. “Ustaz, kondom itu apa?” Dengan santai ustaz menjawab, “Kondom itu balon”. Saya mengangguk dan langsung teringat guru bahasa indonesia di sekolah. Hei, bukankah ini yang disebut dengan sinonim?

Tapi kalau anak kecil zaman sekarang beda. Mereka sudah lebih duluan nakal dari saya. Mereka tahu kondom bahkan nekat memakainya meski longgar. Coba-coba. Yah, nama saja anak zaman sekarang! Apa yang mereka tidak tahu? Akses bebas internet mengajari mereka banyak hal, tak seperti saya dulu. 

Mungkin karena tidak ingin anak-anak zaman sekarang ketinggalan seperti saya yang baru mengenal kondom menjelang dewasa, dibuatlah Pekan Kondom Nasional. Sungguh suatu pembaharuan bukan?

Ini juga memberi makna baru pada orang-orang yang nakal seperti saya ini. Di bawah kata-kata Pekan Kondom Nasional itu saya bisa menerawang dengan mata batin saya (bak si Joko Bodo). Ada sebuah slogan tak kasat mata. “Ayo, jangan berani berkhayal saja! Mari meraba, mari mendaki. Aman kok!”

Aih, Indonesia memang nakal! Saya jadi tambah girang saja.[]


Sumber gambar: micecartoon.com

Senin, 02 September 2013

Kualitas Sastra Kita

Beberapa minggu yang lalu seorang teman bertanya pada saya bagaimana perkembangan sastra di tempat kita, di Aceh. Bagi saya ini adalah pertanyaan yang abstrak. Sama seperti seorang bertanya bagaimana pandangan orang timur terhadap orang barat. Orang timur itu beragam. Orang timur yang mana? Begitu pula dengan sastra. Setiap orang punya interpretasi yang beda. Saya misalnya dalam beberapa hal sependapat dengan Putu Wijaya yang mengatakan bahwa sastra adalah sparring partner  atau lawan tinju penguasa. Bagi saya sebuah karya sastra yang ideal itu adalah karya yang bangkit dari realitas sosial yang penuh kebobrokan atau karya-karya yang membela orang-orang tertindas. Sastra model begini juga dikenal dengan realisme sosialis. Aliran sastra yang juga kental pada masa kepopuleran komunisme. Saya sepakat jika seni termasuk sastra dijadikan sebagai alat atau gerobak yang mengangkut "barang" berupa kritikan-kritikan yang menghantam sekaligus menjadi racun untuk revolusi kesadaran. Karya sastra yang hanya berisi keindahan tanpa "isi" hanya akan meninabobokan. Dalam pada ini saya bukan berada dalam falsafah seni modern yakni L'art pour art alias seni untuk seni, tidak untuk alat. Sebuah ungkapan menarik dari Anton Chekov adalah ia menulis dengan tujuan menampakkan kepada orang-orang bahwa betapa konyolnya kehidupan yang mereka jalani. Karya-karya sastra yang mendobrak dan menjadi alat dilahirkan oleh sastrawan kebanggaan saya seperti  Pramoedya Ananta Toer, Leo Tolstoy, Kahlil Gibran, dan Anton Chekov. Begitulah selayaknya sebuah karya sastra. Jadi ketika kembali ke pertanyaan bagaimana perkembangan kualitas sastra kita, saya akan menjawab nyaris tidak berkembang. Jarang sekali karya sastra kita mengangkat persoalan-persoalan remeh-temeh namun membuat kita geram. Misalnya tukang parkir yang menawarkan jasa. Kita membayarnya untuk mejaga sepeda motor kita tapi ketika kita bayar mereka memberi kita kupon dengan tulisan kecil "hilang bukan tanggung jawab kami". Contoh lain ketika di kampus dosen jarang masuk. Ia mengabaikan mahasiswa yang menjadi tanggung jawabnya demi proyek lain di luar yang lebih menguntungkan. Bisa pula intimidasi yang dilakukan oleh partai politik tertentu terhadap rakyat kecil atau penipuan dan pembodohan (bisa jadi dalam bentuk janji-janji). Karya sastra idealnya lahir dari persoalan-persoalan begini rupa. Banyaknya ketidakwarasan dalam tindakan manusia dan itu tidak tertuang dalam teks telah menunjukkan kemandulan kualitas sastra kita.[] 

Rabu, 17 Juli 2013

Sabang Suatu Ketika



Oleh Putra Hidayatullah



Bunyi sirene menggema. Terdengar gesek katrol berputar. Pelan-pelan pintu raksasa itu tertutup. Dalam lambung kapal berbaris ambulan, beberapa mobil pribadi, dan truk fuso yang penuh muatan. Petugas berseragam oranye dan biru masih mencari-cari celah untuk sepeda motor. Menjelang pukul 11 pagi itu, 26 Juni 2013, kapten menghidupkan mesin. Perlahan KMP BRR beringsut meninggalkan bibir dermaga Ulee Lheue. 

Aku menaiki tangga besi menuju lantai dua. Puluhan penumpang duduk berderet di kursi hitam yang empuk. Seorang pemuda menyandarkan kepala dengan headset di telinga. Kursi dekat jendela tak ada yang kosong. Sama seperti di pesawat terbang, orang-orang berebut duduk dekat tingkap demi pemandangan laut atau pulau. 

Aku mondar-mandir mencari teman yang lebih dulu masuk. Di luar dekat pagar kapal tampak seorang ibu menggendong anaknya sambil berdiri menatap laut. Ombak menggerayangi dan membuncahkan buih. Aku menyandarkan siku pada pagar besi. Beberapa laki-laki dan perempuan lalu lalang. Ada yang turun, ada yang menaiki lantai paling atas. Lantai itu tak beratap kecuali tempat khusus kapten sebesar tiga kali ruang kelas. 

Angin berhembus. Sebagian orang duduk di bangku besi. Beberapa yang lain sibuk memotret atau memicing mata menatap laut lepas. Lantai tiga ini mengingatkanku pada film Titanic. Si Rose, aktris cantik, berdiri di bengket kapal dan menatap samudra. Angin melerai rambutnya. 

Rasanya seperti di Titanic meski tak sama mewah. Sebuah kantin rakitan terletak di tengah-tengah dan berdempet dengan ruang kapten dan stafnya. Di atasnya dirangkai besi pelintiran berbentuk bunga yang kurang rapi. Aneka kue basah seperti bakwan, timphan, kue lapis, dan kue bolu dihidangkan terbuka. Beberapa lelaki bersandar di meja kasir berbentuk letter U seperti pada bar-bar. Mereka menyesap kopi Ulee Kareng saset dalam gelas plastik. Lagu barat berdentam-dentam dari sebuah loudspeaker. Suaranya sedikit lebih baik dari bunyi bambu belah. 

Seorang bule laki-laki asal Inggris duduk bersandar di dinding kapal. Rambut pirangnya yang keriting tergerai diterpa angin. Di mulutnya terselip sebatang rokok. Beberapa jenak kemudian, kulihat ia bangkit dan membuang puntung rokok ke laut. Sesuatu yang tak lazim untuk seorang Eropa: buang sampah sembarangan. 

Kapten memberitahu bahwa perjalanan dari pelabuhan Ulee Lheue menuju Balohan ditempuh dalam waktu 1.5 jam. Aku mendekat ke pinggir dan menjenguk ke laut. Tampak sepasang lumba-lumba serentak menyaingi laju kapal. “Beberapa bulan lalu ke Sabang bisa habis 2 jam lebih. Kapal berputar jauh sampai ke kota untuk berlabuh di tempat sementara. Pelabuhan waktu itu sedang direhab” Kata Khalisil, seorang pemuda bertubuh jangkung. 

Aku duduk berselonjor kaki dan bersandar di dinding luar ruang kapten. Dua perempuan dan seorang pemuda berpindah tempat. Mereka kini duduk di bangku yang tak jauh dariku. Perempuan itu berkelakar dengan temannya, "Aku malas ngomong sama qe, kayak kita ngomong sama PKI" gadis itu terbahak. Rambutnya yang panjang diikat mirip ekor kuda. Ujungnya yang pirang dilerai angin. "Di Sabang tak apa-apa hai kalau tak pake jilbab" katanya sambil tersenyum. 


2 

Dari jarak jauh sudah tampak daratan berwarna biru, Pulau Weh. Perahu-perahu kecil bertebaran. Di atasnya duduk nelayan bertudung sambil menjaring ikan. Mereka berlayar menjauhi pulau. Tujuh jam kemudian aku tahu bahwa ada penyebab “lain” selain alasan mencari ikan. 

Jam 12.45 kapal berlabuh. Lima belas menit bergeser dari jadwal yang diumumkan. Terdengar gemerincing seperti bunyi rantai. Pintu raksasa kembali dibuka. Sepeda motor menderu berebut keluar. Truk-truk dihidupkan. Asap berbau solar menguar. Seratusan lebih penumpang mengantre. Anak-anak mengekor ibu mereka. Dalam sekejap pelabuhan berubah jadi pasar tumpah. 

Aku mengeluarkan Jupiter MX merah dari perut kapal. Sebuah becak berdiri dekat kapal. Seorang lelaki tua berkeriput menjual rokok, semangka, nenas dan rujak. Beberapa anak-anak Sabang berdiri dekat bibir dermaga kemudian satu persatu terjun bebas ke laut. Kulit mereka tampak legam. 

Sepeda motor menggerung menanjak. Jalanan teraspal mulus. Konon hampir setiap jalan di Sabang begitu. Dari daratan yang lebih tinggi terlihat hamparan laut biru yang memukau. Pohon-pohon kelapa yang lengkung bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. 

Pasee seorang wartawan muda berhidung mancung, kurus, dan berkulit sawo matang. Ia mendapat amanah atasan untuk mengantar surat ke kantor Wali Kota Sabang. Kantor itu terletak di pinggir jalan utama. Di pintu gerbang terdapat lampu berbentuk peta pulau weh. Pikiranku mengatakan bahwa malam hari lampu ini akan kerlap-kerlip dan berputar seperti baling-baling. 

Di seberang jalan terdapat tempat bercengkerama berbentuk kursi yang dipasangi keramik mengkilap. Di atasnya kulit jeruk berserakan. Semen-semen dicat berwarna cerah. Di tengah-tengah terdapat sebuah pot bunga yang dibeton. Di dalam pot itu sebuah botol minuman keras bermerek Stevenson tergeletak. "Khusus 21 tahun ke atas" tertulis pada label. Aku mendekatkannya ke hidung. Baunya sudah tak kentara. Isinya kosong kecuali sebuah puntung rokok Dji Sam Soe berwarna kumal. Aku menaruhnya kembali dan menyapu pandang. Dari tempat ini masih tampak Pelabuhan Balohan dan laut permai menghampar. Tampak pula atap rumah-rumah penduduk berwarna cokelat, perak, biru dan oranye. 

Kami sedang melanjutkan perjalanan ketika seorang teman bernama Muhajir menelpon. Tadi ia berangkat dengan kakaknya dan bertemu kami di kapal. Pemuda bertubuh pendek dan selalu berkemeja itu memberitahu  agar tak menyewa tempat penginapan. “Nginap di rumah kakak saya. Ada tempat kosong” Bagai musafir bertemu sungai di tengah gurun, senang bukan buatan. Bagaimana tidak, biaya penginapan di Sabang berkisar antara 150 sampai 200 ribu permalam; sangat tidak sesuai untuk ukuran dompet kami di penghujung bulan. 

Siang menjelang. Kami mencari rumah makan. Tak terlalu susah menjumpainya. Sebuah toko satu pintu. Di terasnya berdiri rak kaca berisi ikan rendang, telur asin, dan telur ikan digulai. Air liurku menderas. Kami makan dengan lahab. Lidah yang terkena kuah pedas memicu keringat  di dahi bercucuran. 

Usai membayar di kasir, temanku berbisik, “Di sini harga barang, termasuk harga nasi, lebih mahal. Mereka ‘mengimpor’ barang dari banda Aceh. Harga standar nasi di Sabang Rp. 10.000 per bungkus sementara di Banda Aceh Rp. 8000,-. 

Di depan rumah makan itu terdapat Mesjid Agung Sabang. Sebuah mesjid berwarna cream dengan arsitektur unik, rapi dan bersih. Halamannya luas. Lebih kurang lima kali lapangan bola voli. Usai salat dhuhur kami merebahkan badan. Sampai jelang asar seorang lelaki masuk menuju ruang ganti dekat podium. Ia memakai baju koko biru muda. Di depan podium itu ia duduk bersila, membuka Al-Qur’an dan menghidupkan mic. Sudah lupa kapan terakhir kali kulihat orang bersedia membaca langsung ayat-ayat Al-Qur’an di mic. Biasanya orang sekarang sudah memilih cara instan dengan memutar kaset. 


3 

Selain di Aceh Besar, Krueng Raya juga nama salah sebuah perkampungan di Sabang. Di tempat ini kami akan bermalam. Sebuah rumah yang terletak di dataran tinggi. Dari sini kita dapat melihat laut dengan jarak lebih dekat. Sebuah pulau berwarna hijau membuat lanskap makin eksotis. Konon pada 2004 lalu pulau ini menjadi penghalang yang memecahkan ombak tsunami sehingga tak banyak yang porak-poranda juga yang menjadi korban. 

Sebuah mobil fortuner hitam berdiri di samping rumah sederhana itu. Pak Muzakkir adalah seorang lelaki berkumis yang murah senyum. Ia suami dari kakak ipar Muhajir. Kutaksir usianya sekira 40 tahun. Ia memperlakukan kami seperti menyambut raja. Begitu pula istrinya, seorang seorang bidan yang selalu memakai jilbab besar. Wajahnya teduh dan ramah. 

Pak Muzakkir bekerja di Kantor Pertanian Sabang. Sekilas kehidupannya mencerminkan kecintaannya pada flora. Di halaman rumah yang sempit itu ia tanami bermacam tumbuhan. Sesekali sengaja disiram dengan air beras bercampur air darah pesiang ikan. “ Itu bagus sekali untuk kesuburan tanaman” katanya. Di rumah ini juga aku pertama kali melihat rupa pohon zaitun. Di samping pohon zaitun ditanaminya pula pohon tin, dua nama tumbuhan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, (surat At-Tiin). 

Ada pula pohon-pohon unik lain yang ia pesan dari Malang, Jawa timur. Ada daun binahong, ubat mujarab untuk penyakit lambung. Pohon srikaya yang berbuah manis. Buah kiwano, sejenis mentimun berwarna kuning yang unik hampir mirip belimbing bintang, “antioksidan yang cukup bagus” katanya. Pak Muzakkir juga berlangganan majalah Trubus, majalah khusus tumbuh-tumbuhan. Ia menyusun rapi majalah itu di atas balai bambu belakang rumah, tempat kami sedang duduk. 

Seperti pemain sepak bola profesional amsal Christiano Ronaldo, selain menjadi profesi, pekerjaan Pak Muzakkir juga menjadi kesenangannya. Aku teringat kata-kata Konfusius, “Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari pun sepanjang hayat” 

Hampir sepanjang sore itu kami bicara tentang tumbuh-tumbuhan. “Sekarang banyak pohon dan buah-buahan yang hampir punah. Contohnya buah tuphah, buah munje, buah meuriya. Dulu Sabang juga terkenal dengan buah geureundong. Tapi sekarang hampir kita tidak mendengarnya. Begitulah orang kita. Tidak melestarikan apa yang menjadi kekayaannya. Pepohonan yang khas ditebang tanpa ditanami pengganti. Pohon seuntang misalnya. Datang orang menamainya pohon Afrika dan mengklaim asal dan kepemilikan. Pun, apa yang datang dari luar begitu cepat kita menerimanya. Misalnya obat-obatan atau ramuan yang telah diolah dan dicampur bahan kimia. Padahal tumbuhan kita lebih mujarab” Pak Muzakkir tersenyum. 

Mendengar kenyataan itu membuat sesuatu terbesit dalam benak. “Saat ini untuk kemanusiaan sudah ada aktifis kemanusiaan; untuk wanita ada aktifis perempuan. Sepertinya kita juga mulai butuh aktifis buah-buahan” kataku bergurau. Pada Pasee, temanku yang berprofesi wartawan, aku mengusulkan untuk membuat majalah buah-buahan yang tumbuh di Aceh terutama yang terancam punah. “Supaya menjadi dokumen karena No document no history” kami tergelak. 

Kami tinggal di rumah adik lelaki istri Pak Muzakkir. Tepat di samping rumahnya. Rumah itu kosong. Menjelang magrib kami mengantre mandi di ruang tengah sambil bergolek bebas di depan televisi. Di Krueng Raya air PDAM mengalir dua hari sekali. Karena itu kalau ramai air bisa tidak cukup. Istri Pak Muzakkir begitu serius menyuruh kami mandi di rumahnya kalau air tak cukup. 

*** 

Sudah menjadi budaya orang Aceh untuk membawa semacam oleh-oleh saat bertamu ke rumah kenalan, kerabat atau saudara di perantauan. Tapi kami lupa. Dan alpa ini membuat perasaan bersalah menebal setiap detik. Istri Pak Muzakkir dengan ramah mengatakan, “makan malam sudah Kakak siapkan. Jangan malu-malu!” ia tersenyum. Tidak ada pilihan yang bijak untuk menolak sebuah ketulusan yang jujur. Meski di sisi lain ada malu yang menohok. 

4 

Saat kembali ke rumah, kami melihat dua lelaki duduk di kursi teras rumah. Mereka tersenyum dan kami berjabat tangan. “Tidak apa-apa, Dek. Silakan. Masuk saja.” Di dalam kami mengecas hp, melipat baju kotor, dan bermalas-malasan di sofa. Beberapa saat kemudian temannya pergi. Lelaki itu tinggal sendiri. Ia kemudian masuk dan duduk di lantai. Kami yang duduk di sofa ikut berpindah ke lantai. 

Tidak tampak aura arogan. Ia langsung bicara panjang lebar sambil sesekali menyelip senyum. Dari pembicaraannya aku mengetahui lelaki jangkung ini bekerja sebagai nelayan. Usianya sekitar 33 tahun. Kumisnya jarang-jarang. Karena satu dan lain hal, anggap saja namanya AN. 

“Angin di laut lagi kencang. Jadi Abang libur dulu. Kemarin ada kawan terbalik boatnya. Ia berenang sampai 2.5 jam pakai jeriken” AN menggeleng-geleng kepala. Kemudian melanjutkan, “Sekarang hidup kita rakyat kecil begini susah. Banyak peraturan macam-macam. Dilarang menangkap ikan lah, itulah; seperti di Gapang. Padahal Nabi Khaidir bilang bahwa laut punya Tuhan. Kita boleh mengambil ikan tapi ini ...” Wajah cerianya redup. “Gapang dikelola oleh orang bule dengan mempekerjakan orang kita. Ia buat peraturannya sendiri, tak boleh nangkap ikan. Kalau di Iboih, bolehlah dibuat peraturan begitu. Untuk pembibitan ikan, tapi ini?!” ia menghela nafas. “Orang kita mana ada, kalau sudah dikasih pulsa gratis, diberi uang, dan tugasnya cuma melapor kalau ada perahu mencari ikan, senang betul! Kami sudah dua kali ditangkap dibawa ke kantor polisi. Kena denda 20 juta. Lebih parahnya, polisi mengambil ikan kami untuk barang bukti. Tapi setelah kami tebus, ikan itu tak dikembalikannya. Saya bilang ke polisi itu, kalau begini caranya, cara Bapak mencuri lebih parah!” Wajahnya tegang. Matanya nyalang. 

“Kalau tanggapan dari pemerintah sendiri bagaimana, Bang?” tanya Pasee. Lelaki itu menghembuskan asap rokok. “Pemerintah mana ada melarang. Mereka kan senang, dapat pajak tinggi” Mendengar itu membuat dadaku sesak. Tidak jauh berbeda dengan kisah masa kolonial dalam roman-roman sejarah. “Area nafkah sekarang pun jadi sempit. Pawang laot dulu cuma ada dua. Sekarang hampir tiap kampung punya pawang sendiri, punya wilayah penangkapan sendiri” Wajah lelaki itu terlihat getir. 

*** 

Malam itu kami juga keluar menghirup udara malam kota Sabang. Dingin malam menyapa pori-pori. Tak seperti di Banda Aceh, warung-warung kopi tidak begitu ramai. Jalanan kurang pencahayaan. Apalagi di kawasan Sabang Fair. Suasana lebih remang-remang. Tampak berpasang muda-mudi bermesraan. Melihat pemandangan itu dan memutar ulang cerita Bang AN yang berprofesi nelayan tadi, aku seperti mencium ironi dan kepincangan. 

Jam 11 malam di ruang tamu, di atas sofa, dan di atas kasur dalam kamar, kami berlima sudah menarik selimut. Di luar dingin. Angin berdesau. 


5 

Pagi di Krueng Raya adalah pagi yang menggiurkan. Kami berdiri di depan rumah dengan pandangan menghadap laut. Matahari masih ramah. Dingin masih ada. Bahari Tuhan itu sungguh memesona. Pasee tak menyiakan kesempatan. Ia menyambar Nikon dan menjepret wajah kami yang masih sembab satu persatu. 

Tapi ceria kami wagu ketika Muhajir memberi tahu, “Kakak menyuruh kita makan pagi dulu” Oh Tuhan, perasaan ‘tidak enak’ bercampur malu itu... Kami merasa merepotkan. Padahal mendapat penginapan saja sudah sangat lebih dari cukup. “Kita makan di bale bambu saja, dekat tumbuh-tumbuhan Pak Muzakkir” Kopi dan kue basah bulat mirip donat berbalut tepung gula juga hadir. 

Usai makan kami bicara-bicara dan tanpa sadar lari ke persoalan politik. Kami bicara praktik demokrasi yang tak luput intimidasi. Rakyat yang mudah ditipu. Pejabat yang memperkaya diri. Debat kecil-kecilan muncul. Sesekali terselip pula lelucon yang membuat semua terkikik. 

Di luar sadar, seorang lelaki tua lewat dan berdiri di depan kami. Ia menyungging senyum. Kepalanya tampak uban. Celananya agak kedodoran hingga menyentuh bumi. Bajunya kumal seperti petani mau berangkat ke sawah. Di tangannya sebuah parang dibalut karung. Ia seperti telah menguping pembicaraan kami. Pak tua itu menyapa dan menanyakan asal daerah kami satu persatu. Aku mengatakan datang dari kabupaten X, kecamatan, X dan desa X. “Ow, ya... ya.. Bupati X itu itu keponaan saya” ia mengangguk-angguk tersenyum. 

Setelah itu ia diam menunggu kami melanjutkan. Mungkin sedang membaca arah pembicaraan. “Saya tidak sekolah dan tidak juga pintar agama. Tapi saya bertanya pada orang yang lebih mengerti semisal ulama” Bapak berkulit legam itu tersenyum. Kelak kuketahui namanya dan kuberinya inisial KR. 

Ia ternyata mantan kombatan GAM. Dulu sempat menenteng senjata dari satu wilayah ke wilayah lain. Tahun 1990 ia pernah dirantai oleh tentara di Kota Bakti, Lamlo, Pidie. Tapi kemudian ia dilepas dan akhirnya kembali angkat senjata bersama Abdullah Syafi’i, panglima GAM. Saat ditanya apakah dia berjalan kaki atau naik gunung ketika dulu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, ia menjawab, “Mana ada. Tidak begitu. Kita pakai seragam loreng, naik mobil dan jalan terus. Masuk perkampungan, naik lagi ke jalan raya. Begitu seterusnya. Kalau memang berjumpa musuh, kita hajar saja” ia terkekeh. Aku seperti mampu melihat pijar keberanian di matanya. Mungkin beginilah tipikal orang Aceh zaman dulu. Khalisil bertanya, “Pak, jadi menurut Bapak bagaimana situasi politik di Aceh sekarang? Pak KR terdiam. Wajahnya redup. Ia menggeleng kepala. 

“Aceh akan selamanya perang sampai akhir anak cucu nanti kalau perjuangan dilalui dengan partai. Apalagi kalau petinggi sibuk berbagi tumpuk dan melupakan darah syuhada yang telah banyak tumpah. Berapa banyak perempuan jadi janda. Dan, apakah bisa dijamin kalau anak yatim korban konflik dulu tidak akan bangkit melawan dan membalas? Apalagi jika menyibukkan diri dengan pembagian tumpuk. Saya ini, wahai anakku (ia memanggil kami anak), sudah lelah. Berpuluh tahun melawan. Saya memang tidak sekolah, tidak pandai agama. Tapi tidak mencari tumpuk. Saya tak akan menjual kepala saya ini dengan uang seharga seratus ribu! Lebih baik saya pergi berkebun walau pun tertatih menyekolahkan anak saya” Mata Pak KR berkaca-kaca. 

“Kalau persoalan bendera itu, Pak?” tanya Khalisil. Pak RK menyeringai senyum. “Tidak. Itu bukan bendera Aceh. Bendera Aceh berwarna hijau. Itu bendera perjuangan, bendera perlawanan yang kalau menang, bendera hijaulah yang dinaikkan” jawab Pak KR. Ia juga mengatakan bahwa tanah Aceh itu bukanlah milik suku atau golongan tertentu. Tapi milik siapa saja yang tinggal dan menetap di Aceh. Dari mana pun asalnya, ia adalah orang Aceh yang harus dijaga haknya. “Kami ini sudah tua-tua. Tinggal kalian ini yang muda-muda. Kalian harus tahu bagaimana sejarah, bagaimana bangsa kita” Pak RK mengakhiri. Suaranya rendah. Aku menghela nafas. Resah. 


6 

Ibarat bibir bagi seorang wanita, iboh adalah bagian penting yang mempercantik rona wajah Pulau Weh. Di sini terdapat sebuah pulau eksotis bernama Pulau Rubiah. Dari pantai Iboih pengunjung dapat menapakkan kaki di pulau itu dengan membayar ongkos boat sebesar Rp. 150.000,-. Jarak dari Iboih ke Pulau Rubiah hanya sejauh mata memandang. “Bagaimana bisa ongkosnya Rp. 150.000,- sementara jarak dari pantai iboih ke Pulau Rubiah hanya sekitar dua ratus meter saja?! Tak sampai habis satu liter solar yang harganya Rp. 5000,-.” Khalisil memprotes. “Jasa tak dapat dikur” tandas Nailul, temanku yang tambun dan berbrewok tebal. Tapi kemudian keningnya berkerut, matanya memicing “Iya juga. Betul. Mahal!” 

Untuk ke menyeberang pulau Iboih, orang biasanya menyewa kaki katak, baju pelampung dan selang untuk snorkling. Sekali sewa dalam satu paket (kaki katak, selang pernapasan, dan baju pelampung) Rp. 40.000,- per orang. Nailul membawa pelampung dan selang sendiri dari Banda Aceh. Ia membelinya seharga Rp. 80.000,-. Isi dompet memacu otak kalkulatifku―yang hanya tajam dalam urusan uang―cepat bekerja dan memberi kesimpulan tragis: penyewa baju itu langsung memperoleh modalnya kembali hanya dengan dua kali penyewaan. Selebihnya untung yang melipatgandakan isi dompetnya. Karena sehari bisa berpuluh orang datang ke Iboih. 

Selain harga makanan dan minuman seperti Pop Mie, Coffe Mix, Sprite, Cokelat Beng Beng, hal lain yang menakutkan di Iboih adalah bue alias monyet yang liarnya melampaui dosis. Di jalan menuju kesana, seperti polisi melakukan sweeping, mereka berdiri dipinggir jalan. Memasang wajah buas dan garang. Lalu coba-coba mengejar orang yang lewat. Tapi siapa sangka, daya tarik Iboih membuat tantangan itu tak lebih dari lelucon belaka. 


7 

Mungkin Tuhan telah mengisi benak orang timur “perasaan tidak enak” yang lebih kental. Pulang dari Iboih kami tak ingin salat magrib di rumah karena tidak mau merepotkan keluarga Pak Muzakkir. Mereka pasti akan menyiapkan makan malam. Karena itu kami keluar ke kota sebelum magrib. Anak Pak Muzakkir bernama Qissy kami bawa bersama. Ia masih kelas 1 SMP. Fasih berbicara bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia. Ia mengarahkan kami ke sebuah warung yang menjual mie sedap, sejenis mie kocok yang baru pertama kulihat dalam hidup. Semua makan dengan lahab. Sementara aku memesan nasi. 

Selepas salat magrib di mesjid Agung, aku melihat orang-orang baca yasin bersama. Malam ini malam jum’at. Pemandangan seperti ini, baca yasin bersama, juga mulai jarang kulihat di beberapa tempat lain bahkan di kampungku. Di langit bintang berkedip dan berserakan. Kami sedang duduk di teras mesjid saat lamunan pecah. Muhajir mengangkat telpon. Tingkahnya tiba-tiba panik. Bibirnya bergerak-gerak, “kebakaran!” 

*** 

“Api hampir menjilat selang tabung gas” seorang lelaki menunjukkan. Sebuah kulkas menghitam dan hilang bentuk. Kayu-kayu telah jadi arang. Ibu-ibu bicara dengan sisa-sisa ketakutan. Nafas mereka tersengal-sengal. “Tak ada orang pula. Rumah kosong. Mereka udah berangkat. Katanya di tempat kayu itu disusun, sering keluar ular maka dibakar. Tapi tak disiram merata. Ternyata api masih nyala” 

Rumah yang hampir mengalami nasib tragis itu terletak jauh dari tempat kami menginap. Hanya dapur belakang yang terbakar. “Kakak takut api menjalar sampai ke mari. Jadi, maaf, tas kalian sudah Kakak masukkan ke mobil. Takut ada laptop.” Wajah istri Pak Muzakkir masih pucat. “Kenapa nggak panik. Kami perempuan semua. Bapak-bapak komplek ini sudah pergi samadiah ke tempat orang meninggal” katanya. Satu kata yang tak akan pernah terlepas dari mulut orang Aceh saat mengalami musibah adalah kata untung. “Untung tabung gas tidak meledak. Kalau tidak ...” ia menghela nafas. 


8 

Kami pulang besok, 28 Juni 2013. Teman-teman bersemangat ke kota untuk bakpia. Diajak, aku manut. Uang di kantong tandas. Untuk pulang saja sudah tak ada. “Untuk orang rumah harus kita beli sesuatu” kami sepakat. Aku sangat setuju. Sudah terlalu banyak yang kita nikmati. Kami beli roti kaleng untuk sedikit menambal hutang budi yang sudah lebih dari cukup. 

Tapi tiba di rumah setumpuk ikan mirah mata sudah dipesiang. “Ini untuk dipanggang” kata istri Pak Muzakkir. “Oh Tuhan... Perasaan ‘tidak enak’ menebal. Sampai tengah malam kami makan di teras dengan kelakar yang bertubi-tubi. Qissy sampai mengeluarkan air mata. 

Hari jum’at kapal hanya berangkat pagi jam 8.00. “Berarti besok jam 7 kita harus sudah di pelabuhan untuk antri sepeda motor” 

Hening. 

*** 

Kami tiba di pelabuhan saat pagi masih gelap. Sepeda motor sudah terparkir di tempat antri menuju pintu kapal. Di sana dua orang lelaki yang agak tua mendekati setiap yang baru tiba. Tangan kanannya memegang pulpen ia mencatat plat honda dan menawarkan tiket kapal. Harganya sedikit lebih mahal meski mereka bilang sama. Kami memilih antri untuk membeli di loket resmi. Harga tiket untuk sepeda motor Rp. 23.700,- dan untuk penumpang Rp. 18.850,-.Kapal akan berangkat satu jam lagi. 

Aku sedang menyeruput kopi yang tinggal separuh di sebuah warung kopi seputar pelabuhan saat pintu kapal perlahan dibuka. Dalam gegas aku langsung menuju lantai paling atas. Di sana terlihat wajah-wajah yang sama saat berangkat dua hari lalu. Dua puluh menit kemudian sirene berbunyi. Aku membeli kue dan bersandar di pagar besi paling belakang. Laut terhampar. Angin menerpa wajah dan membuat rambutku berantakan. Aku berpaling ke belakang. Beberapa orang melambai tangan di pelabuhan. Aku ikut melambai meski tak kukenal. 

Sambil mengunyah kue bolu, aku memikirkan sesuatu. Di Sabang, tiga hari dua malam terlewati. Terbuang sudah suntuk dan beban-beban yang menggerogoti kepala. Dibarengi rasa terimakasih, aku terkenang keluarga pecinta tumbuhan itu. Selangka harimau sumatera, mereka betul-betul menganut falsafah “Peumulia jamee adat geutanyoe” 





Note: 

Peumulia jamee adat geutanyoe: Memuliakan tamu adalah adat kita 

Bakpia: Kue populer di Sabang

Sumber foto: Google



Kamis, 13 Juni 2013

Lambung

Kemarin pagi saya telat makan. Gara-gara itu lambung saya kambuh. Muncul nyeri mulai di pundak hingga ubun-ubun. Ini mencuri energi saya untuk menulis. Harusnya saya sudah menyelesaikan cerpen yang saya garap mulai dua hari lalu.

Saya teringat pepatah Jepang, "gara-gara tak ada paku, tapnal kuda terlepas. Karena tapal kuda terlepas, surat jadi tak sampai. Karena surat tak sampai, kita kalah perang” Makan pagi adalah hal kecil yang kerap saya anggap remeh. Saya suka menunda-nunda hingga perut saya betul-betul teraniaya. Dan ketika itu terjadi, baru saya berangkat ke warung memesan kopi dan kue, bukan nasi. Perut yang lapar disiram kopi adalah penyumbang gangguan lambung.

Harusnya saya menjaga lambung saya apalagi kalau sudah beberapa kali muncul alarm seperti ini. Maunya saya bangun lebih pagi, salat dan memprioritaskan makan. Ada yang mengatakan bahwa makan pagi adalah penentu kualitas hari. Tidak makan pagi bisa membuat hari menjadi buruk. Seperti yang saya alami kemarin.

Saya juga teringat nasihat Anies Baswedan. Anak muda seharusnya sudah selesai dengan urusan dirinya sehingga ia bisa berpikir dan berbuat untuk orang lain. Pertanyaannya, bagaimana kita akan membantu orang lain jika mengurus lambung sendiri saja tidak becus. Waduh (seperti menampar diri sendiri)[]

Jumat, 07 Juni 2013

Berteman Pemurung

Bisa jadi berkawan pemulung itu lebih baik ketimbang berteman pemurung. Beberapa tahun lalu saya dengar siaran radio VOA. Siaran itu menyiarkan temuan baru tentang konsep kebahagiaan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan bersifat menular. Keluarga yang hidup harmonis dapat menularkan energi positif kepada orang yang tinggal dekatnya atau tetangganya.

Berarti, orang yang dalam hidupnya suka menggalau juga dapat menyebarkan gelombang energi negatif kepada orang di sekitarnya. Saya punya pengalaman menarik. Beberapa hari lalu saya bertemu seorang teman. Saya mengenalnya sebagai penggalau meski saya pernah menasihatinya. Tampak lahirnya, seolah ia telah memonopoli semua duka luka dalam sejarah hidup umat manusia. Di luar alam sadar, saya cuma tersenyum kemudian berlalu, tak ingin ngobrol berlama-lama.

Tanpa saya sadari saya lebih senang pada orang-orang yang bersemangat, ceria dan optimistis. Mungkin kamu juga sama. Lagi pula, siapa dalam hidup yang tidak punya masalah? Dalam sejarah banyak sekali orang yang lebih pedih hidupnya. Sekali waktu, seorang profesor yang mengajar di kelas saya bercerita tentang perjuangannya ketika ia kecil. “Sehari hanya makan dua kali. Pagi harus rebus ubi untuk menghemat beras. Baju cuma yang ada di badan. Ketika ke laut, baju itu dilepas ditaruh dalam perahu kemudian bekerja menarik pukat untuk uang sekolah” katanya. Tapi apakah beliau pemurung? Semangat dan rasa optimistis telah membuatnya menikmati hidup sepantasnya hari ini.

Semua orang punya masalah. Tapi yang penting adalah sikap dan upaya kita untuk keluar dari masalah. Bukan malah menikmatinya dengan meratap sebentar-sebentar, menangis, dan sebagainya. Itu bukan sikap seorang terpelajar. Mungkin perlu dipertanyakan dulu apa yang sebenarnya digalaukan? Jangan-jangan galau persoalan asmara. Aih, betapa konyol persoalan yang satu ini. Saya pernah mengalaminya juga tapi menggalaunya tak lebih satu bulan. Setelah itu saya menutup diri dari asmara karena apa yang saya alami memberi pencerahan bahwa menjalin cinta monyet itu merusak diri. Memang begitu dan akan selalu begitu.

Berdasarkan yang saya lihat, orang-orang pemurung itu adalah orang yang terlalu mengedepankan perasaan ketimbang akal sehat. Hidup ini adalah malapetaka jika kita terlalu menggandalkan perasaan. Ini bukan berarti kita tak boleh murung. Bagaimana pun itu sifat manusia dan sangat manusiawi. Tentu dalam kadar yang tidak berlebihan. Tapi jika murungnya setiap hari kemudian berbulan-bulan atau hampir bertahun-tahun, itu sudah tidak wajar. Ditakutkan gejala ini justru membuat kewarasan kita terganggu gara-gara terlampau jarang memaksimalkan akal sehat.

Kalau kita pulang ke kampung, kita dapati orang-orang (terutama orang melayu) yang rata-rata berprofesi petani berkumpul menikmati kopi di warung-warung. Di sana mereka berkelakar dengan guyon-guyon segar setiap waktu. Coba duduk dan perhatikan, lawakan mereka dapat mengocok perut siapa pun yang paham. Tapi dibalik itu semua mereka punya persoalan-persoalan genting semisal uang dapur, menyekolahkan anak, dan sebagainya. Sesekali kita harus berguru pada mereka. Di satu sisi mereka layak disebut seniman hidup. Hidup ini terlalu indah jika digunakan untuk hal-hal yang men-destroy diri.

Jadi, buat apa berprofesi sebagai pemurung?